Rabu, 20 Mei 2026

Liputan Khusus Ramadan

Masjid Kwitang Tempat Soekarno Bersembunyi

Pendiri bangsa Ir. Soekarno disebut pernah bersembunyi di Masjid Al-Riyadh Kwitang bersama Habib Ali

Tayang:
Editor: Kanis Jehola
TRIBUNNEWS
Masjid Kwitang Jakarta 

POS-KUPANG.COM - Pendiri bangsa Ir. Soekarno disebut pernah bersembunyi di Masjid Al-Riyadh Kwitang bersama Habib Ali. Terutama saat zaman penjajahan Belanda. Masjid Al-Riyadh tercatat sebagai nadi pergerakan dakwah di tanah batavia. Tokoh nasional seperti KH. Hasyim Asyari, KH Ahmad Dahlan, dan Presiden Soekarno pernah singgah di masjid yang didirikan Habib Ali Al Habsyi. Habib Ali disebut pernah membantu Bung Karno untuk bersembunyi.

"Menurut kisah, berbulan-bulan ( Bung Karno) di sini. Sebagai persembunyian dari Belanda," ujar seorang pengurus masjid kepada Tribun Network.

Bunga Jelitha: Hidangan Lebaran

Menurut informasi yang dihimpun, Bung Karno sempat 'nyantri' dengan Habib Ali atas usulan M. Husni Thamrin. Tujuannya untuk menghindari ancaman Jepang dan Belanda. Pada saat itu Habib Ali dihormati oleh penjajah. "Habib Ali juga berperan sebagai teman berbincang Bung Karno," tuturnya.

Dalam buku Sumur yang tak Pernah Kering disebutkan salah satu ulama yang berperan penting dalam penyebaran Islam di Betawi adalah Habib Ali Alhabsyi (1870-1968) di Kwitang.

Hindari Klaster Lebaran Idul Fitri Jatuh pada Minggu

Selama hidupnya, Habib Ali kerap berdakwah di tengah ribuan orang yang haus akan spiritual. Beliau adalah pendiri dan pimpinan pertama Majelis Taklim Habib Ali Alhabsyi. Habib Ali banyak memberikan sumbangan pemikiran bagi kemajuan umat, bangsa, dan negara. Dia tampil sebagai cendekiawan yang tidak hanya dikenal di Indonesia, tapi juga di mancanegara.

Sumur Tak Pernah Kering

Seorang pengurus bercerita, Habib Ali, membuat sumur di area masjid. Sumur dibuat oleh Habib Ali sebagai air bersuci atau berwudu. Sumur dipercaya berisi 'air syifa' yang berarti dapat menyembuhkan suatu penyakit.

"Tapi begini, air syifa ini sebagai perantara saja. Selebihnya wajib meminta sama Allah. Karena pesan Habib Ali harus berdoa hanya kepada Allah. Air syifa cuma perantara ya," ucapnya.

Kemudian, pada tahun 1990-an pernah ada sepuluh orang berjenggot panjang seperut pernah mengunjungi masjid. Menurut cerita semenjak sudah didoakan oleh sepuluh orang itu, sumur tidak pernah mengalami kekeringan sampai sekarang.

"Pernah waktu musim kemarau orang-orang dari Depok, Tangerang, Bogor pada mengambil airnya di sini," kisahnya.

Terlebih, air sumur tersebut pernah diminum oleh sejumlah tokoh-tokoh penting untuk Indonesia. Habib Ali selaku pendiri telah wafat pada malam Senin, pukul 20.45 Wib, tanggal 20 rajab 1388 hijriah atau 20 Oktober 1968. Di dalam Masjid Al-Riyadh, terdapat empat makam.

Siapa saja boleh berkunjung untuk mendoakan para tokoh besar umat Islam tersebut. Sebab, selama 24 jam para pengunjung dipersilakan untuk datang dan memanjatkan doa di masjid jamiah Al-Riyadh, di Jalan Kembang VI, Kwitang, Jakarta Pusat.

Bangunan Masjid Al-Riyadh Kwitang berlantai dua. Masjid Al-Riyadh tak memiliki kubah. Namun terdapat menara di area masjid dengan dominasi cat warna putih ini. Masjid Al-Riyadh dapat menampung 150 -200 jemaah. Lantai pertama masjid biasa digunakan untuk salat berjamaah seperti biasa, sedangkan lantai dua digunakan untuk tempat belajar Madrasah Diniyyah.

Terdapat mimbar berjenjang atau bertangga dan ada tempat duduknya serta atapnya berupa kubah terbuat dari kayu-kayu. Selain sebagai tempat ibadah, ribuan umat Islam biasa melakukan ziarah ke makam Habib Ali Bin Abdurachman Bin Abdullah Al Habsyi.

"Setelah Habib Ali menuntut ilmu di Hadralmaut, Yaman Selatan, beliau sempat berguru dengan Mufti Betawi yakni Habib Usman Bin Yahya. Ia pun membuat madrasah pertama di Jakarta dengan nama Madrasah Jamiatul Khair di Masjid Al Makmur Tanah Abang Jakarta," kata seorang pengurus.

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved