Pro dan Kontra Hadirnya PT Semen Singa Merah NTT di Luwuk dan Lingko Lolok Manggarai Timur

Ini Keterangan warga Pro dan Kontra Terhadap Hadirnya PT Semen Singa Merah NTT di Kampung Luwuk dan Lingko Lolok

Penulis: Robert Ropo | Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM/ROBERT ROPO
Kampung Lingko Lolok di Desa Satar Punda 

POS-KUPANG.COM | BORONG - Ini Keterangan warga Pro dan Kontra Terhadap Hadirnya PT Semen Singa Merah NTT di Kampung Luwuk dan Lingko Lolok, di Desa Satar Punda, Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur, NTT.

Maksi Rambung, warga Kampung Luwuk yang merupakan salah satu warga yang menolak kehadiran pabrik semen ketika ditemui wartawan di Kampung Luwuk, Kamis (7/5/2020) menegaskan, ia menolak karena lahan masyarakat sangat terbatas dan itu menjadi tumpuhan hidup mereka. Karena masyarakat hanya menggantungkan hidupnya sebagai petani.

Polres TTU Lakukan Penyelidikan Kasus Pembuangan Limbah Medis di Hutan Tutab

"lahan masyarakat sangat terbatas dan itu merupakan tumpuhan hidup masyarakat, karena mereka profesinya petani dan juga tanah warisan ini sebagi alasan yang kuat dan buat saya juga sama karena saya punya lahan disini,"tegas Maksimus.

Maksimus yang juga sebagai koordinator masyarakat yang menolak, juga mengatakan, ia belum pernah melihat seperti apa negosiasi atau lobi dengan masyarakat secara baik.

Menurut Maksimus, sebenarnya dalam pendekatan oleh pihak perusahan lakukan yang sebenarnya, yang baik dan buruk juga disampaikan secara terbuka kepada masyarakat karena pada akhirnya efeknya pada pihak perusahan itu sendiri karena jika suatu waktu ada warga yang menolak maka hasilnya Investasi tidak berguna.

Haru Warga Lamalera Terima Bantuan Sembako Dari Taman Daun

Menurut Maksimus kehadiran perusahan selalu dan tidak membutuhkan masyarakat itu sebab kehadiran perusahan akan membawa kehancuran alam dan budaya. "Saya bicara sesuai dengan pengalaman yang saya alami. Apalagi yang dijanjikan merupakan janji angin surga sementara panasnya neraka tidak pernah disampaikan,"ungkap Maksimus.

Isfridus Sota salah satu warga yang tolak hadirnya perusahan tersebut di Kampung Lolok kepada wartawan, mengatakan, ia menolak karena tanah itu merupakan warisan dari nenek moyang mereka, sehingga ia tidak menjual warisan itu.

Menurutnya, jika ia menjual tanah itu maka ia menjual tanah kenangan dari nenek moyang dan nenek moyang pasti akan marah. Selain itu, jika ia menjual tanah itu anak cucunya nanti tidak punya tanah, apalagi selama ini ia lahir besar di tanah itu dan juga hidup dari tanah itu.

Lebih lanjut saat ditanya apakah sudah mendengar informasi dan sosialisasi bahwa perusahan akan menyediakan lahan baru dan menrelokasi rumah, kata Isfridus, ia hanya mengikuti pertemuan pertama karena ia menolak sehingga dalam musyawarah selanjutnya ia tidak libat sehingga ia tidak tahu.

Sementara itu, Vinsensius Kasim salah satu warga mendukung hadirnya prabrik semen di lokasi Kampung Luwuk menegaskan, ia menerima kehadiran tambang untuk membawah perubahan bagi mereka masyarakat di kampung itu, ia mendukung demi kehidupan generasi yang lebih baik. Sejuh ini selama masa hidupnya ia merupakan seorang petani yang kurang mampu, kehidupanya mereka tidak bahagia sehingga ia tidak ingin generasinya ikut sepertinya.

Ia mengaku, sejak kehadiran perusahan pabrik di Kampung Luwuk itu dirinya merasakan kehidupan yang layak. Ia sudah menerima dana kompenasi dan juga rumah akan direnofasi oleh perusahaan.

"Saya tidak janji-janji, tapi saya mau menikmati kompensasi dan juga renovasi rumah. Selama ini kami hidup susah, anak saya putus sekolah akibat saya kurang mampu,"ungkap Vinsensius.

Ia juga mengaku siap untuk menyerahkan lahanya ke perusahan guna pembangunan pabrik semen di lokasi Kampung Luwuk.

Alo Nambu warga Kampung Luwuk yang juga merupakan warga menerima perusahan itu, juga mengatakan, ia menjual tanah kepada perusahan untuk merubah hidup, sebab selama ini kebutuhan ekonomi mereka tidak mencukupi untuk kebutuhan hidup. Kehadiran perusahan ini sangat menjanjikan untuk kesejshteraan anak cucu mereka.

Anak Moso Bernabas Raba juga menyampaikan hal yang sama. Bernabas menambahkan tanah yang meraka jual itu berupa tanah milik orang lain seperti berita di luar, melainkan tanah milik mereka sendiri. Sehingga mereka berikan kepada perusahan itu merupakan hak mereka, begitu juga bagi yang tidak memberikan juga itu menjadi hak mereka yang menolak.

"Kadang yang mempersoalkan di Medsos itu orang yang tidak punya lahan disini, ini yang kami merasa sedih. Pada prinsipnya kami terima perusahan ini demi kesejahteraan kami. Buktinya perusahan belum eksen 100 persen kami sudah sejahtera,"ungkap Bernabas.

Bernabas juga menjelaskan masyarakat Luwuk yang mendukung sudah menerima kompensasi sebesar Rp 10 juta tahap pertama dari perusahan. Sedangkan kompensasi tahap kedua Rp 10 juta belum dan nanti untuk renovasi rumah sebanyak Rp 30 juta dengan alasan karena kampung Luwuk tidak direlokasi.

Sementara itu Tua Teno Torong Luwuk Romanus Rabon juga menegaskan, sangat mendukung kehadiran pihak pabrik semen. Hal itu dikarena ia juga mempunyai hak untuk menerima demi kesejahteran warga kampung Luwuk dan juga keluarga

"Kehadiran PT Semen ini saya dukung, mengapa saya dukung, karena warga Kampung Luwuk belum maju, semoga dengan semoga kesepakatan antara kami dengan pabrik diharapkan sesuai dengan semestinya,"tegas Romanus.

Lebih lanjut Romanus mengatakan ditempat yang akan dibangun pabrik ada hamparan sawah masyarakat termasuk dirinya, namun sawah itu tidak menjanjikan lantaran resapan air laut masuk ke sawah, sehingga mengakibat produksi padi kurang alias sedikit. Sedangkan untuk jarak dari ksmpung ke lokasi pabrik sekitar 2 Km.

Warga juga mengatakan, total Untuk Kampung Luwuk ada 65 KK dari jumlah itu, ada 58 orang mendukung kehadiran pabrik semen. Sedangkan 7 KK menolak kehadiran pabrik semen di kampung Luwuk.

Sementara itu warga Kampung Lingko Lolok yang menerima, Klemens Saldin ketika ditemui wartawan di lokasi kampung Lingko Lolok, Kamis (7/5/2020) menjelaskan, sebagian besar warga Lingko Lolok mendukung kehadiran pabrik semen.

"Kami disini terima karena jujur dari 89 KK di Lingko Lolok, 87 KK yang menerima, sedangkan 2 KK yang tidak menerima,"jelas Klemens diamini warga Lingko Lolok lainya, Ferdinandus Hasman, Gordi Ba'as, Benediktus Uni dan sejumlah warga lainya.

Klemens mengatakan, pihaknya menerima karena untuk mau membawa perubahan bagi warga Kampung Lingko Lolok. Karena sejauh ini banyak anak sekolah yang gagal melanjutkan pendidikan karena kondisi ekonomi yang kurang mampu.

"Sehingga kami sangat berharap mudah-mudahan dengan anak cucu kami dengan industri semen ini anak cucu kami bisa melanjutkan sekolah,"ungkap Klemens.

Dikatakan Klemens, jika hanya kehadiran tambang tanpa disertai pabrik, maka pihaknya bersatu untuk menolak, namun karena dengan pabrik maka pihaknya menerima dengan setia, sebab dengan kehadiran pabrik juga membuka lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat Lingko Lolok dan umumnya masyarakat Manggarai Timur,

Klemens juga mengaku, kondisi kampung Lingko Lolok sangat menderita selain kekurangan air bersih, hasil pertanian hanya mengandalkan jambu mete dan juga menambah ekonomi dengan menjual kayu api.

Klemens juga menegaskan, bahwa mereka menerima kehadiran pabrik bukan karena unsur paksaan atau tekanan dari pihak tertentu, namun murni untuk mau membawa perubahan bagi masyarakat setempat. Pihaknya bersyukur batu kapur ditanah mereka bisa menghasilkan uang.

Gordi Ba'as juga menambahkan untuk kesepakatan pihaknya dengan perusahan yaitu relokasi kampung dengan ukuran Rumah ukuran yang dibangun perusahan 60 M2, air bersih, Iistrik 1300 W, Uang kompensasi Rp 150 juta/KK, Uang perabot Rp 50 juta.

Selain itu harga tanah, Poin-poin kesepakatan mereka antara lain harga tanah nonsertifikat Rp 12 ribu/m2, harga lahan bersertifikat Rp 14 ribu/m2, serta tanaman seperti kayu jati, jambu mete saat ini di lokasi pabrik semen masih melakukan patok lahan, pembangunan gereja, Paud dan Mbaru Gedang.

Ferdinandus Hasman, juga menambahkan untuk di Kampung Lingko Lolok sebagai lokasi pengambilan bahan baku (batu gamping) yang akan diproses pada pabrik semen yang akan di bangun di Luwuk. Bahan baku terdapat di seluas lahan 505 ha.

"Saya masih mempunyai lahan yang belum diambil oleh perusahan sehingga saya masih bisa olah, tetapi kalau perusahan mau saya siap serahkan,"ungkap Ferdinandus.

Benediktus Uni juga menyampaikan hal yang sama. Dikatakan Benediktus, masyarakat Lingko Lolok saat ini dalam kondisi aman tidak ada persoalan apapun. Jika ada yang berbicara bukan-bukan terkait Kampung Lingko Lolok diharapkan langsung menayakan mereka, karena mereka tahu persis.

Terpisah Kepala Desa Satar Punda, Fransiskus Hadilaus mengatakan Pemerintah desa sangat menghormati keputusan masyarakat karena pembangunan pabrik itu di lahan masyarakat bukan di lahanya pemerintah desa Satar Punda.

Sehingga sebagai Pemerintah Desa, Demikian Fransiskus, selalu mendukung apapun yang menjadi keputusan masyarakat apabila terima maupun tidak terima kehadiran pabrik itu karena itu hak mereka. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Robert Ropo)

Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved