Dampak Corona, Pedagang Es Kelapa di Lembata Kesulitan Nafkahi Istri dan Anak
Pandemi Covid-19 membawa dampak ekonomi yang buruk bagi Rahman (30), pedagang es kelapa di Kota Lewoleba, Kabupaten Lembata.
Penulis: Ryan Nong | Editor: Rosalina Woso
Dampak Corona, Pedagang Es Kelapa di Lembata Kesulitan Nafkahi Istri dan Anak
POS-KUPANG.COM|LEWOLEBA--Pandemi Covid-19 membawa dampak ekonomi yang buruk bagi Rahman (30), pedagang es kelapa di Kota Lewoleba, Kabupaten Lembata.
Tiga hari yang lalu, dia baru saja kembali membuka lapak jualannya di lokasi Taman Duang, Jalan Trans Lembata setelah hampir sebulan ini tak berdagang. Sebagai modal untuk bisa kembali berjualan, ayah tiga orang anak ini harus meminjam uang Rp 800 ribu di salah satu kerabatnya.
"Saya pinjam uang di keluarga. Dia juga butuh sebenarnya tapi karena kita saling bantu jadi dia pinjamkan," ujar Rahman ketika ditemui, Senin (4/5/2020).
Saat ini Rahman mengaku kesulitan menafkahi istri dan anak-anaknya.
Untuk kebutuhan lauk-pauk, dia masih bisa memancing ikan di laut.
Penghasilan hariannya menurun drastis selama masa Pagebluk Covid-19. Biasanya dia bisa menghabiskan 70-80 buah kelapa dengan pemasukan rata-rata setiap hari Rp 500 ribu. Namun dengan kondisi pandemi seperti ini, pemasukan yang masuk ke kantong tak sampai setengahnya.
"Mau tetap di rumah juga bisa tapi asalkan ada stok makanan. Ini kan tidak ada. Mana belum lagi anak punya kebutuhan susu dan popok. Orang pikir kita jualan es kelapa banyak untung tapi tidak juga. Kita harus pandai-pandai simpan uang," keluhnya.
Warga Wangatoa Kelurahan Selandoro Kecamatan Nubatukan ini juga sudah dua bulan belum membayar pinjaman di bank.
"Saya belum pergi ke bank untuk urus penangguhan pinjaman saja. Mereka juga pasti mengerti dengan situasi ini," tambah Rahman yang baru setahun ini berdagang es kelapa muda di Kota Lewoleba.
Rahman mengaku di masa sulit seperti ini dia bekerja betul-betul hanya untuk istri dan anak bertahan hidup. Tidak untuk simpanan, membayar tagihan dan tuntutan pembayaran lainnya.
"Kalau tunggu bantuan pemerintah sampai kapan, kita mau hidup bagaimana," akunya.
Menurutnya, bantuan dari pemerintah tentu bisa membantu pedagang seperti dirinya selama beberapa bulan ke depan.
"Kalau tidak ada bantuan dari pemda atau lainnya kita bisa mati kelaparan," kata Rahman dengan wajah memelas.
Jualan es kelapa muda milik Rahman memang ramai di situasi normal. Setiap hari banyak orang yang selalu singgah di lapak jualannya. Menjelang matahari terbenam lapaknya baru tutup. Namun sekarang karena banyak orang tidak beraktivitas di luar rumah, dia biasa tutup lebih cepat.
• Bupati Tahun Serahkan Bantuan APD dan Makanan Tambahan Kepada Rumah Sakit Suster Muder Ignacia
• 234 KK Warga Sumba Barat Daya Nikmati Listrik di Tengah Pandemi Covid-19
• Pelaku Pariwisata Curhat Dampak Corona di Depan Bupati Robby
"Kasihan lihat istri dan anak. Kita mau buat bagaimana lagi," pungkasnya.(Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ricko Wawo)