Sepenggal Sejarah Hadirnya Masjid Pertama di Sumba Timur

Pertama kali masjid ini didirikan di Pantai Utara sekitar 200 meter dari Pelabuhan Rakyat Waingapu, Kabupaten Sumba Timur

Penulis: Oby Lewanmeru | Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM/Oby Lewanmeru
Inilah Masjid Agung Al-Jihad Waingapu yang terletak di Kelurahan Hambala, Kota Waingapu, Kabupaten Sumba Timur. Gambar diambil, Senin (27/4/2020). 

POS-KUPANG.COM | WAINGAPU - "Pertama kali masjid ini didirikan di Pantai Utara sekitar 200 meter dari Pelabuhan Rakyat Waingapu, Kabupaten Sumba Timur. Dulu pelabuhan ini bernama Nangamesi."

Demikian dua kalimat pertama, di awal pertemuan POS-KUPANG.COM dengan Imam Masjid Agung Al-Jihad Waingapu, H. Alwi Hasyim Algadri di kediamannya, Sabtu (25/4/2020).

Kala itu sekitar tahun 1911 yang mana Waingapu dan sekitarnya masih sunyi dan dikelilingi oleh hutan. Dari masjid inilah ,berkembang penyebaran agama Islam di Sumba, khususnya Sumba Timur.

Marius: Dengan Membeli dari Pedagang Kecil Kita Sudah Membantu Meringankan Beban Mereka

Saat ini saja ada sekitar belasan masjid di Kota Waingapu dan sekitarnya. Namun, masjid yang cukup besar ada sekitar delapan masjid.

H. Alwi mengatakan, awal masuknya ajaran Islam di Sumba, khususnya di Sumba Timur pada tahun 1911 yang dibawa oleh Datuk atau dato mereka yang bernama Aljufri.

Dato Aljufri sebelum ke Sumba, sebelumnya masuk ke Kupang pada tahun 1842, kemudian menyinggahi Ende dan Waingapu.

Tribunnews dan Cardinal Bantu Masker, Begini Respon Aster Kasdam Jaya Jacky Ariestanto

"Saat itu Aljufri tiba di Nangamesi, yang kala itu Waingapu masih hutan,mulai dari muara kali sampai di dalam Kota saat ini. Beliau mengajar atau dakwah beberapa waktu lamanya," kata H. Alwi.

Aljufri juga mengaktifkan pelabuhan dan cukup lama ada di Waingapu. Beliau di sini cukup lama dan berdakwa mengajarkan agama," kata H. Alwi.

Didampingi Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi Umat Masjid Agung Al-Jihad Waingapu, Budian, Haji Alwi menjelaskan, saat melakukan dakwah, Aljufri sempat bertemu dengan seorang raja bernama Raja Mbatakapidu bernama Umbu Day Leli Ata. Karena itu, sampai saat ini pihaknya juga tidak terlalu mengetahui banyak.

Namun, lanjutnya, ada dato mereka yang bernama Ismail yang memegang sebuah buku sejarah.

Kemudian buku ini diminta oleh Umbu Haramburu meminta buku tersebut. Kemudian buku itu dibawa ke Belanda oleh ayahnya kala itu mengenyam pendidikan di Belanda.

"Buku ini berjudul Sumba Dalam Jangkauan Zaman dan saat ini ada di museum," katanya.

Dia mengatakan, selain mendakwah, Aljufri juga sempat beternak sapi.

Sapi itu dulu dibawa oleh Belanda kemudian tersebar di kampung-kampung di Sumba Timur.
Kemudian mereka membuat sebuah Masjid di pelabuhan Nangamesi. Beberapa waktu kemudian, mesjid itu dipindahkan ke lokasi yang saat ini berdirinya Masjid Agung Al-Jihad Waingapu.

Halaman
123
Sumber: Pos Kupang
Berita Populer
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved