Opini Pos Kupang

LUKA PASKA

Sesudah bangkit dari kubur, Yesus memperkenalkan diri-Nya kepada rasul-rasul-Nya yang berada dalam ruang tertutup

LUKA PASKA
Dok
Logo Pos Kupang

Sesudah bangkit dari kubur, Yesus memperkenalkan diri-Nya kepada rasul-rasul-Nya yang berada dalam ruang tertutup

Oleh: Videntus Atawolo, Alumnus Dei Verbum Institute, Nemi, Roma, Italia.

POS-KUPANG.COM - Sesudah bangkit dari kubur, Yesus memperkenalkan diri-Nya kepada rasul-rasul-Nya yang berada dalam ruang tertutup, karena takut kepada orang-orang yang bukan sahabat mereka. Yesus menunjukkan luka-luka-Nya. Luka-luka itu menjadi bukti obyektif bahwa Ia yang berada di tengah-tengah rasul-rasul adalah sungguh Yesus yang dahulu hidup bersama mereka. Yesus yang diadili secara tidak adil, menderita sengsara, disalibkan, wafat dan dimakamkan, namun Ia bangkit pada hari ketiga. Luka-luka itu membuat rasul-rasul mengenal bahwa itulah Yesus. Mereka bersukacita karena melihat Tuhan.

Bersukacita sesudah melihat luka Yesus. Melihat dalam konteks ini memiliki pengertian bahwa hati dan budi mereka terbuka, menerima, mengakui dan percaya bahwa Dialah Yesus. Yesus yang bangkit bukan hanya angan-angan dan bayangan rindu para rasul. Yesus bukan sekedar harapan spiritualistis. Bukan sekedar sebagai Dia yang kembali dari kubur meneruskan hidup-Nya yang dahulu.

Adik dari Gubernur New York Sembuh dengan Melakukan 3 Hal Sederhana Setelah Terpapar Virus Corona

Memang sebelum kebangkitan, Yesus menjalani hidup sejarah, tetapi sekarang Ia membangun situasi baru lewat kehidupan-Nya. Melihat dan bersukacita, karena mengalami perubahan sikap dalam hidup mereka. Hidup yang tertutup, menjadi terbuka. Penuh rasa takut, menjadi berani. Penuh kecemasan dan kegelisahan, menjadi bergairah, berpengharapan, merasa aman, tenteram dan damai. Luka-luka Yesus merupakan tanda kesetiaan, ketaatan kepada kehendak Allah serta cinta, pengorbanan dan solidaritas-Nya dengan manusia.

Sesudah menunjukkan luka-lukanya, Yesus menghembusi mereka dengan Roh Kudus dan mengutus mereka untuk mewartakan kasih dan pengampunan. Sebagaimana luka-luka Yesus, para rasul akan pula mengalami luka-luka dalam pewartaannya. Rasul-rasul diutus bagai anak domba ke tengah-tengah serigala. Tetapi Ia juga memberikan jaminan bahwa Ia tidak akan meninggalkan mereka bagai yatim piatu.

Ketua Komisi 2 Janji Perjuangkan Anggaran Untuk Bantu Peternak Babi Korban ASF

Apapun situasi dan kondisi medan pewartaan, mengasihi dan mengampuni hendaknya tetap menjadi spiritualitas hidup para rasul dan orang-orang yang percaya kepada Kristus melalui pewartaannya.

Kebangkitan Kristus sebagai karya ilahi, adalah karya yang baru. Penampakan Yesus sesudah kebangkitan-Nya merupakan panggilan dan perutusan bagi para rasul dan bagi mereka yang percaya akan pewartaan rasuli, untuk mengambil bagian dalam karya itu dengan pelayanan kasih dan pengampunan melalui hidup yang di jalani saat ini. Manusia dengan demikian memeiliki masa depan yang cerah, secerah kebangkitan Kristus, walau hidup penuh tantangan dan cobaan seperti determinasi dan hegemoni Covid-19 saat ini.

Dunia kini bertaburan luka. Mengalami masa sulit. Diliputi kegelapan dan kekalutan global. Semua sendi kehidupan mengalami goncangan. Berbagai sektor kehidupan terkena dampak terpaan pandemi Covid-19. Kita harus menunggu. Mungkin atau memang masih lama, karena sejauh ini belum ada yang tahu pasti kapan virus maut ini akan berakhir.

Sementara menunggu, kita tidak mampu mamprediksi bagaimana kondisi riil hidup ini akan berlangsung, sementara korban terus bertambah walaupun kita memang sungguh tidak mengharapkan hal itu akan terjadi. Dalam konteks Paskah, kita yang masih hidup, sungguh berhutang pada kematian para korban Covid-19.

Sesama kita yang telah menjadi korban, meninggal dunia, kematian mereka tidaklah sia-sia. Mereka menjadi korban, agar kita selamat. Kematian mereka memberikan afirmasi bahwa virus itu ada. Virus itu sangat berbahaya. Virus itu apabila tidak segera diatasi, akan memakan banyak korban. Bahkan mungkin dapat memusnahkan manusia dari muka bumi ini. Kematian mereka membangkitkan kesadaran moral dan religius bahwa betapa berharganya manusia, karena itu harus dilindungi.

Diselamatkan dari kematian. Hidup adalah segala-galanya. Hidup hanya satu kali, karena itu jangan disia-siakan. Semua manusia sama martabatnya di muka bumi ini, walau memiliki variabel perbedaan ras serta budaya, iman kepercayaan. Kematian mereka membuat kita yang masih hidup merasa senasib dan seperjuangan. Lebih dekat satu sama lain.

Paskah mengajarkan sebuah harapan akan kemenangan, kitapun meyakini bahwa badai Covid-19 akan berlalu. Badai pasti berlalu. Habis gelap, terbitlah terang. Paskah yang kita rayakan berlangsung dalam suatu proses. Dari ke-gelap-an dosa, keangkuhan dan kebengisan manusia, menuju terang kebangkitan. Hidup baru. Dilepaskan dari belenggu dosa dan maut, hidup sebagai anak-anak Allah yang merdeka. Yang terpenting adalah persaudaraan, pikiran, hati, iman dan cinta kita tidak terinfeksi virus berbahaya itu.

Yesus yang bangkit dari alam maut bertemu dengan kita sekaligus menunjukkan luka-luka-Nya kepada kita manakala kita merayakan Paskah secara digital di rumah kita masing-masing.

Dalam ruang hidup kita yang sesungguhnya. Yesus yang bangkit terasa kehadiran-Nya dalam merayakan Pekan Suci dan Paskah secara pribadi, dalam komunitas keluarga kita dalam kesendirian dan kesunyian di tengah pergulatan hidup yang nyata. Ancaman Covid-19.

Dalam suasana perayaan yang demikian, kita lebih intens memahami luka-luka Yesus sebagai tanda cinta sejati. Pengorbanan. Ketaatan dan kesetiaan kepada kehendak Allah. Tanda solidaritas dengan manusia. Ia menghembusi kita dengan Roh Kudus dan mengutus kita untuk ikut berpartisipasi aktif dan berkontribusi, bersama-sama berupaya bergandengan tangan untuk memberantas virus ini. Kita mengikuti protokol pemerintah dan melaksanakan apa yang disampaikan.

Patuh dan disiplin. Hal itu merupakan bagian integral dari iman dan aplikasinya dalam hidup yang nyata. Yang setia dalam hal-hal kecil, akan setia pula dalam hal-hal yang besar. Kita memakai masker. Mencuci tangan. Menjaga jarak. Tinggal di rumah. Hal-hal yang nampaknya sederhana, namun bernilai tinggi. Terlebih berdoa memohon belaskasih dan bantuan Tuhan.

Dalam tindakan-tindakan itu kita menyelamatkan manusia dan dunia ini. Dengan patuh dan disiplin dalam melaksanakan semua itu, sesungguhnya kita juga mengusahakan dan mewartakan bagi sesama dan lingkungan hidup kita apa yang dikatakan Yesus, "damai sejahtera bagimu", hanya sesudah kita sungguh-sungguh dengan tulus menghayati luka-luka-Nya untuk lebih mencintai-Nya dalam hidup ini baik terhadap manusia dan lingkungan hidup.

Apabila kita menaruh perhatian pada lingkungan hidup, lingkungan hidup akan memperhatikan kita juga. Bila sebaliknya, kehidupan kita akan terancam. Janganlah melukai lingkungan hidup. Memporak-porandakan dengan tindakan distorsif terhadap ekositem dan ekologi fauna dan flora di manapun, agar hidup kita aman, tenteram dan damai.

Mengikuti Yesus, berarti memikul salib. Jalan yang kita tapaki, adalah jalan salib. Tidak mungkin mengikuti Yesus, tanpa memikul salib. Salib Yesus dapat menjadi sebuah permenugan inspiratif dan transformatif penuh misteri. Ancaman dan kematian karena Covid-19 dalam dimensi rational duniawi, mungkin adalah sebuah ke-"gagal"-an.

Sebaliknya, dalam dimensi refleksi teologis, adalah sebuah jalan untuk menyelamatkan bagi manusia dan dunia. Biji gandum mesti jatuh ke dalam tanah, mati, hancur untuk menghasilkan banyak buah. Kita sungguh berhutang pada kematian mereka yang menjadi korban Covid-19. Kita hendaknya sadar dan bangkit dalam momentum Paskah dan tragedi Covid-19 untuk hidup bersama dalam suatu perubahan sikap dan kesadaran kolektif, etika universal dan moral global; tidak lagi semata parsial primordialis sektarian terhadap hal-hal yang menyangkut kepentingan publik universal untuk kebaikan, kesejahteraan dan keselamatan bersama. Semua yang diciptakan Tuhan itu baik adanya dan bahwa perbuatan baik itu hakekatnya saling melindungi dan menyelamatkan. Marilah kita berbuat baik.

Mencintai Yesus yang bangkit berati menjadikan luka-lukanya sumber inspirasi dan motivasi untuk berkorban berbuat baik. Sebab oleh bilur-bilur-Nya kita disembuhkan. Oleh luka-lukanya kita peroleh keselamatan. (*)

Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved