Virus corona

Corona Bikin Merana, Kisah Indri, Driver Ojol Wanita Terpaksa 'Ngalong' Agar Bisa bertahan Hidup

Bak makan buah simalakama. Corona memang bikin merana.Indri seorang driver ojek online wanita terpaksa ngalong cari penumpang agar bisa bertahan hidup

Editor: Adiana Ahmad
Tribunnews.com
Indri, driver Ojol wanita kesulitan dapat penumpang karena corona 

Corona Bikin Merana, Kisah Indri, Driver Ojol Wanita Terpaksa 'Ngalong' Agar Bisa bertahan Hidup

 
POS-KUPANG.COM, JAKARTA - Bak makan buah simalakama. Ini yang dirasakan Indri, driver ojek Online di Jakarta di tengah mewabahnya virus corona.
Indri terpaksa 'ngalong' atau begadang sampai pagi mencari penumpang agar bisa bertahan hidup dan bayar cicilan sepeda motor. 
Corona benar-benar bikin Indri merana. Sebuah pilihan sulit harus ia lakoni. Berhenti bekerja dengan resiko mati kelaparan atau dikejar leasing dan lembaga pinjaman online atau tetap bekerja dengan resiko taruhan nyawa, bisa korban kejahatan bisa saja terinfeksi virus corona. 
Indri hanya sebagian kecil dari gambaran penderitaan para pelaku usaha kecil yang terimbas corona. Masih ribuan orang bernasib sama seperti Indri. 
Seperti yang terlihat Kamis (9/4/2020), siang para pengemudi ojek online (ojol) tampak nongkrong di depan mal Cilandak Town Square (Citos) Jakarta Selatan.

Mereka sedang menanti pesanan lewat ponselnya.

Indri (43) berada di tengah kerumunan yang didominasi para pria itu.

Namun, bukan berarti mereka berkumpul sudah mengantongi rezeki.

Ada yang baru dapat satu pesanan, malah ada juga yang belum sama sekali.

Nasib mereka termasuk Indri belakangan ini malah lagi merana gara-gara pandemi corona.

Pasalnya, pendapatan mereka turut terdampak Covid-19 yang bukan saja diam-diam memakan korban jiwa tapi juga rezeki mereka.

Ini Alasan Mengapa Meski Terinfeksi Virus Corona Tapi Tubuh Tak Tunjukkan Gejala, Kok Bisa?

Sebelum pandemi corona, Indri rata-rata mengantongi pendapatan kotor sekitar Rp 350 ribu dari pukul 08.00 sampai 21.00.

Sedangkan saat ini, ia hanya mendapatkan Rp 60 ribu dari pukul 08.00 sampai tengah malam.

Indri yang kini menjadi tulang punggung keluarga dibuat stres dengan keadaan jalan raya yang sepi itu.

"Sekarang nyari (mencari) Rp 20 ribu aja susah. Paling cuma dapet 1 atau 2 aja," keluh warga Cilandak itu saat ditanya TribunJakarta.com di depan Citos, Jakarta Selatan, pada Kamis (9/4/2020)

Baru kali ini, pendapatan Indri itu merosot drastis.

Padahal, selepas suaminya tutup usia akibat penyakit getah bening, ia harus mengganti peran sebagai kepala keluarga.

Ia harus membiayai kedua anak laki-lakinya yang berusia 16 tahun dan 13 tahun di sekolah Pesantren di Yogyakarta.

"Ini mata pencaharian saya satu-satunya. Baru kali ini pendapatan saya menurun drastis. Sampai saya ditelponin pihak leasing dan Akulaku (pinjaman uang online)," ujarnya.

UPDATE CORONA SIKKA : Rayakan Jumat Agung di Rumah Selalu Dikenang Keluarga Katolik di Maumere

Cicilan motor Indri tinggal 8 kali lagi. Per bulannya, Ia harus membayar Rp 800 ribu.

Namun, bulan ini dipastikan ia menunggak lantaran tak sanggup membayarnya.

Ia juga terpaksa harus meminjam uang dari pinjaman online untuk mencukupi kebutuhan hidupnya.

"Saya pinjam Rp 600 ribu tapi total pembayarannya jadi Rp 750 ribu tapi sekarang telat 4 hari jadi Rp 729 ribu," katanya.

Sudah tiga hari tidur Indri tak bisa lelap karena memikirkan cicilan motor dan pinjaman online.

"Takut bunganya makin besar," ujarnya.

Cegah Corona, BBPP Kupang Bagi-bagi Masker Kain Untuk Masyarakat Sekitar Balai

Terpaksa "Ngalong"

Istilah ngalong, dalam dunia ojek online berarti mencari pesanan hingga dini hari.

Indri mengambil pilihan itu agar bisa melunasi utang-utangnya.

"Terpaksa (harus ngalong), karena saya belum pernah nunggak bayar cicilan baru kali ini bawaannya takut," katanya.

Rekan-rekannya berulang kali mengingatkannya agar jangan keluar mencari pesanan saat malam hari.

Namanya soal perut dan cicilan, jalan itu terpaksa diambilnya.

Namun, pilihan ngalong pun belum tentu mendapatkan banyak pesanan.

"Ngalong untuk tabungan poin istilah ojol supaya besok lebih ringan kerja ternyata sepi juga selama ngalong. Alhamdulilah walaupun dapet 1 atau 2 orderan," kata perempuan yang masih bisa bersyukur itu.

Menanggapi kebijakan larangan membawa penumpang, Indri hanya kasihan dengan rekan-rekannya.

Pasalnya, tidak semua dari mereka mengerti layanan pesan antar makanan.

"Kasihan teman-teman banyak yang bilang ke saya akan terasa semakin sulit mendapatkan penghasilan karena sebagian dari mereka belum mengerti tentang Go- Food," pungkasnya.

Artikel ini telah tayang di Tribunjakarta.com dengan judul Cerita Indri, Pengendara Ojol saat Corona: Susah Tidur hingga Terpaksa Kerja Sampai Tengah Malam

Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved