OPINI PASKAH: Menderita Bersama untuk Bangkit Lebih Kuat

Kita dipaksa menarik diri secara radikal. Mengurangi sedrastis mungkin waktu berada di luar rumah. Memotong kesibukan. Mengubah pola kerja.

Shutterstock
Ilustrasi gunakan masker cegah penyebaran coronavirus 

Menderita Bersama untuk Bangkit Lebih Kuat

Oleh: Max Regus

(Imam Keuskupan Ruteng; Dekan FKIP Unika Santu Paulus Ruteng, Flores)

POS-KUPANG.COM - Nokia, yang pernah menjadi perusahaan raksasa handphone (HP) dunia, memiliki satu slogan. Connecting People (menghubungkan orang-orang). Konektivitas antar orang. Keterhubungan antar ruang hidup.

Kita tahu dengan pasti. Itu adalah penyokong utama globalisasi. Kotak-kotak hidup yang berjarak mesti terhubung. Dengan ringkas. Juga mesti dengan lekas. Akumulasi keberhasilan mesin globalisasi bergantung pada bekerjanya hukum ini.

Namun, sergapan Coronavirus mengatakan hal sebaliknya. Pada satu sisinya, hukum ini dianggap sebagai medium terbaik penyebaran Coronavirus. Secara fisik, kita diminta untuk membangun jarak. Tidak perlu terhubung satu sama lain lagi untuk jangka waktu yang tidak menentu.

Menderita Bersama

Kita sedang meniti hari-hari yang amat sulit. Segenap term yang membahasakan sesuatu yang negatif, justru dianggap memiliki makna positif. Terlebih menghidupkan. Isolasi diri, karantina mandiri, social-physical distancing, dan pembatasan sosial hadir begitu dominan.

Semuanya muncul sebagai mekanisme baru dalam usaha memutus rantai penyebaran Coronavirus. Kita dipaksa menarik diri secara radikal. Mengurangi sedrastis mungkin waktu berada di luar rumah. Memotong kesibukan. Mengubah pola kerja. Kita menderita. Pada titik tertentu.

Pergerakan sosial-ekonomi yang dibatasi, bagi sebagian dari antara kita, adalah pukulan mematikan. Terlalu banyak orang yang menggantungkan hidup dan asap dapur tetap mengepul dari arus lalu lintas manusia saban waktu. Semua itu tengah berhenti secara mendadak. Tidak ada uang. Tidak ada penghidupan. Siklus ekonomi bukan saja melambat, tetapi merongrong ketersediaan sembako. Orang-orang mulai menguras simpanan di buku tabungan mereka yang mungkin jumlahnya tidak seberapa.

Halaman
12
Editor: Agustinus Sape
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved