Jumat, 5 Juni 2026

Virus Corona

18 Dokter Indonesia Meninggal Saat Perangi Corona, IDI Minta Pemerintah Transparan

Kita patutnya menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya sejumlah dokter yang berada di garda terdepan melawan penyakit yang mendunia ini.

Tayang:
Editor: Agustinus Sape
REUTERS/Martin Pollard via Kontan
Wabah virus corona turut merenggut nyawa sejumlah dokter Indonesia yang berada di garda terdepan penangan pandemi tersebut. 

18 Dokter Indonesia Gugur Perangi Corona, IDI Minta Pemerintah Transparan

POS-KUPANG.COM - Kita patutnya menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya sejumlah pasien virus corona di Indonesia, teristimewa para dokter yang berada di garda terdepan melawan penyakit yang mendunia ini.

Hingga hari Minggu (5/4/2020), Ikatan Dokter Indonesia ( IDI) telah mengonfirmasi 18 dokter yang menjadi anggotanya gugur dalam Pandemi Covid-19.

Pihak IDI belum mengetahui faktor utama yang menjadi penyebab banyaknya tenaga medis meninggal selama menangani pasien virus corona.

Namun, IDI tidak menampik di lapangan dokter dan tenaga medis banyak mengalami tantangan dan hambatan, salah satunya minimnya Alat Perlindungan Diri ( APD) yang sesuai dengan standar.

Hal itu disampaikan oleh Humas PB IDI dr. Halik Malik saat dihubungi Kompas.com, Minggu (5/4/2020).

"PB IDI bisa saja mengumpulkan data terkait faktor risiko sejawat yang meninggal, tugas utamanya, terpapar kira-kira saat kapan, di ruang apa, adakah faktor APD yang tidak standard, atau virulensi yang memang tinggi di wilayahnya, atau manajemen RS yang rendah terhadap PPI, dan lain-lain yang bisa menjadi faktor," ujar Halik.

Namun hal itu menurut Halik sulit untuk dilakukan sebab minimnya data awal yang dipublikasikan secara terang oleh pihak-pihak terkait.

Pemerintah transparan

Untuk itu, IDI meminta Pemerintah dalam hal ini Kementerian Kesehatan untuk lebih transparan mengenai pasien, khususnya tenaga medis yang sudah dinyatakan positif maupun PDP Covid-19.

Data tersebut penting diperlukan untuk bisa melacak dugaan penularan virus dan memonitor siapa saja yang sudah terpapar.

"Semestinya Kemenkes atau Dinkes setempat bisa mengumumkan tenaga medis yang meninggal. Tidak harus menunggu penderita sendiri atau keluarganya yang menyampaikan. Informasi tentang siapa saja yang tertular penting untuk memutus mata rantai penularan," jelas Halik.

Halik menyebut, apabila Pemerintah bisa memberikan data awal yang dibutuhkan, IDI akan membantu mendorong strategi pencegahan Covid-19 di kalangan pelayan kesehatan.

"Jika pemerintah bisa berikan datanya, kami akan membantu untuk mendorong strategi pencegahannya," sebut Halik.

Pelatihan penanganan Covid-19

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved