Virus Corona
18 Dokter Indonesia Meninggal Saat Perangi Corona, IDI Minta Pemerintah Transparan
Kita patutnya menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya sejumlah dokter yang berada di garda terdepan melawan penyakit yang mendunia ini.
Sementara belum adanya data yang dimiliki, IDI telah melakukan sejumlah langkah untuk meminimalisir jatuhnya korban jiwa dari kelompok tenaga kesehatan.
Salah satunya dengan memberikan imbauan dan pelatihan penanganan Covid-19 kepada para dokter.
Selain itu, IDI juga memberikan bantuan APD pada rekan-rekan yang kesulitan mendapatkannya, melalui donasi IDI Peduli.
Hal itu menyadari ada banyak pihak di luar pemerintahan yang bergerak turut memberikan bantuan APD kepada tenaga medis, IDI mengaku sangat berterima kasih.
"Kami berterima kasih kepada masyarakat yang sudah berinisiatif menggalang bantuan APD, lembaga kemanusiaan, UMKM, dan berbagai solidaritas yang muncul untuk mengantisipasi makin bertambahnya korban dalam penanganan Pandemi Covid-19 ini," ucap Halik.
Pihaknya meminta pihak-pihak berwenang untuk menjadikan kematian para petugas medis sebagai alarm agar ada tindakan konkret yang dilakukan untuk mencegah agar tidak ada lagi kasus meninggal pada tenaga kesehatan.
"Satu per satu tenaga medis yang tumbang selama pandemi Covid-19 di Indonesia, menjadi alarm bagi organisasi profesi dan Pemerintah agar dilakukan penelusuran lebih jauh terkait faktor risiko dan penyebabnya sehingga bisa diambil langkah antisipatif dan langkah nyata penguatan sistem layanan kesehatan yang ada di Indonesia," tegasnya.
IDI sangat prihatin melihat satu per satu pelayan kesehatan tumbang akibat penyakit ini dan belum melihat adanya upaya serius untuk melindungi mereka.
"Sejauh ini kami sangat prihatin dan menyesalkan jika tenaga medis yang menjadi benteng pelayanan ini tumbang satu per satu tanpa ada upaya serius untuk melindungi mereka," kata Halik.
Perlu layanan jemput pasien
Epidemiolog Indonesia, kandidat doktor dari Griffith University Australia, Dicky Budiman, mengatakan, agar para medis yang menangani pasien virus corona lebih terlindungi, harus ada aturan yang lebih ketat agar orang dengan gejala corona tidak langsung datang ke rumah sakit.
Menurut dia, harus ada layanan telepon dan kepastian jemputan dengan ambulans dengan petugas yang dilengkapi APD layak untuk menjemput pasien di rumahnya.
”Jika orang dengan gejala korona masih datang sendiri ke rumah sakit, kemungkinan untuk menularkan ke orang lain ataupun ke medis sangat besar,” katanya seperti dikutip dari Harian Kompas (4/4/2020).
Menurut Dicky, jika tidak memutus siklus penularan virus corona ini, kapasitas rumah sakit tidak akan mampu menampung pasien.
”Dengan tren saat ini, seluruh rumah sakit di Jakarta sudah tidak mampu lagi menampung pasien corona pada pertengahan April 2020 ini,” paparnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/dokter-meninggal-dunia-akibat-corona.jpg)