Cerita Kepsek SMPN 1 Nubatukan Menguak Adanya Grup Online Maksiat di Lembata

Saat pertama kali menjadi kepala sekolah pada 2018, dia sadar aturan penggunaan ponsel di sekolah masih longgar.

Penulis: Ricardus Wawo | Editor: Rosalina Woso
KOMPAS.com/Thinkstock/AndreyPopov
Ilustrasi pornografi 

Berdasarkan penemuan dan fenomena yang ditemukan, para guru sadar harus ada tindakan nyata yang dilakukan di lingkungan lembaga pendidikan. Sekolah mulai memperkuat kerohanian para peserta didik dengan melibatkan para tokoh agama.

Kemudian, pada suatu waktu, para guru mulai merasa cemas karena para siswa kelihatan akrab dengan istilah berbau pornografi dan pornoaksi yang sempat viral di media sosial. Guru pun merasa penasaran dengan fenomena ungkapan berbau pornografi yang sempat viral itu dan meminta tim IT turut membantu lagi.

Pada mulanya ada seorang siswa datang ke ruang kepala sekolah dan menyampaikan kepadanya bahwa ada temannya yang membuat grup dan di dalamnya dikirim foto-foto 'tidak baik'.

"Nah, awalnya dari laporan anak itu. Akhirnya saya panggil teman-teman bimbingan konseling, tolong ditelusuri laporan siswa ini," imbuhnya.

Setelah dicari tahu, sekolah pun memanggil sembilan orang anak yang ada di dalam grup dimaksud. Secara jujur, anak-anak itu mengakui kalau ada grup sebagaimana yang dilaporkan.

Melkior pun meminta salah satu ponsel dari siswa yang dipanggil untuk ditelusuri lebih lanjut oleh tim IT sekolah.

"Akhirnya mereka mulai mengaku. Kemampuan bahasa mereka juga sangat disayangkan. Mereka seperti sudah keluar jauh dari usia mereka," kata Melkior sembari menyayangkan kemampuan verbal para pelajar dalam melukiskan sesuatu yang bernada pornografi dan pornoaksi.

Dari mereka juga, Melkior pun akhirnya tahu kalau masih ada pelajar lain di luar sekolah mereka yang juga terlibat dan turut menyebarkan konten-konten dewasa.

"Saya hubungi kepala sekolahnya, saya kontak dan mereka langsung cari tahu serta responnya baik," urainya.

Dari sembilan orang anak ini akhirnya diketahui masih banyak pelajar di sekolahnya yang pernah saling mengirim gambar dan video dewasa. Sekolah langsung memanggil semua siswa yang pernah saling mengirim konten dewasa tersebut.

"Hasil pemanggilan itu hampir 50-an siswa, kita panggil dan semua unsur pimpinan ada. Jadi kita pisahkan lagi siapa yang begitu gambar diterima tidak lagi diteruskan kepada orang lain dan siapa yang menerima gambar dan meneruskan lagi ke orang lain. Kita pisah-pisah sisa 29 anak," katanya.

Bahkan ada pelajar yang tidak memiliki ponsel tapi mempunyai akun media sosial sehingga mereka bisa saling mengirim gambar dewasa ketika meminjam ponsel teman atau ketika di warnet. Orangtua mereka pun merasa heran dan terkejut.

Tim IT sekolah pun langsung menelusuri sebanyak 9 ponsel android yang disita dari para siswa dan menemukan kalau para siswa sempat bergabung dalam grup-grup lain yang disembunyikan.

Mereka pun menemukan di dalam ponsel para siswa grup-grup tersembunyi dengan nama 'Lonte Lewoleba' dan 'Pelacur Lembata'. Melkior menyebutkan pelajar yang bergabung di dalam grup ini kebanyakan berasal dari pelajar sekolah lain di Lembata.

"Pusing kepala kami saat itu, semua kami berpikir keras saat itu mau buat bagaimana solusinya. Yang paling prioritas karena mereka ini kelas sembilan dan kita harus cepat bersihkan virus ini sebelum ujian nasional dan ujian sekolah terjadi. Anak-anak itu kami panggil dan 29 orangtua kami panggil dan buat rapat tertutup tanpa diketahui anak-anak," terangnya.

Halaman
123
Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved