Opini Pos Kupang
Pemimpin Kita : Negarawan atau Politisi?
Mari membaca dan simak Opini Pos Kupang berjudul pemimpin kita: negarawan atau politisi?
Benar di sini berbeda dengan baik dan pantas. Yang diperbuat benar sudah pasti baik; yang diperbuat baik sudah pasti pantas. Tetapi apa yang diperbuat pantas belum tentu baik dan yang dibuat baik belum tentu BENAR. Dasar pijak berbuat benar adalah regulasi; apa yang diperbuat baik dan pantas menurut seseorang berdasarkan nilai-nilai yang hidup di dalam masyarakat, belum tentu sesuai regulasi. Jika seseorang memerintah atas dasar baik dan pantas menurut dirinya sendiri, dia adalah politisi; dia bukan negarawan.
Pemimpin berintegritas harus berdedikasi, artinya pemimpin yang mengabdikan diri sepenuhnya untuk kepentingan masyarakat banyak baik moril maupun materiil. Istilah kerennya adalah pemimpin yang telah selesai urusan dengan dirinya sendiri; tidak saja ekonomi tetapi juga keluarga, suku dan agama.
Pemimpin berintegritas adalah pemimpin yang tidak menyalahgunakan kewenangan atau kekuasaan untuk kepentingan diri, keluarga, suku, agama, warna kulit, apalagi kepentingan politik. Lebih dari 27 persen pemimpin di daerah yang terjerat kasus korupsi adalah bukti nyata penyalahgunaan kekuasaan. Tidak saja jual beli jabatan tetapi juga memprioritaskan jabatan strategis tertentu bagi keluarga, golongan dan agama, adalah bahagian dari penyalahgunaan kekuasaan. Pemimpin yang demikian tidak pantas disebut negarawan di daerah; dia lebih cocok disebut politisi.
Pemimpin visioner/negarawan di daerah dituntut memiliki kompetensi pengetahuan. kompetensi pengetahuan ini menuntun pemimpin yang bersangkutan untuk memahami teori pada satu sisi dan dunia nyata pada sisi lainnya. Pemimpin dengan kompetensi pengetahuan yang cukup, dapat menerapkan pengetahuannya sesuai dengan kondisi lapangan dan tidak pernah memaksakan kehendaknya.
Pengetahuan yang luas menjadi modal dasar untuk menyelesaikan banyak permasalahan di daerah. Pada beberapa aspek tertentu, seorang pemimpin yang visioner dituntut mengetahui banyak dari yang sedikit; tetapi pada beberapa aspek lainnya dituntut untuk mengetahui sedikit dari yang banyak.
Dengan kompetensi pengetahuan yang cukup, seorang pemimpin visioner dapat dengan mudah menggerakkan pemimpin lain yang ada di bawahnya untuk lebih cepat mencapai tujuan. Menggerakkan, berbeda dengan memaksa atau menghukum.
Semakin tinggi ilmu pengetahuan yang dimiliki, semakin menggunakan cara-cara yang manusiawi dalam menggerakkan orang untuk mencapai visi; bukan dengan menghukum, apalagi tidak dalam kaitan mencapai visi.
Pemimpin visioner dituntut memiliki kompetensi keterampilan agar mampu melaksanakan suatu tugas tertentu baik secara fisik maupun mental. Kompetensi keterampilan ini biasanya diperoleh dari pendidikan non formal, dengan mengikuti kegiatan pendidikan dan pelatihan keterampilan, kursus singkat, bimbingan teknis dan latihan keterampilan lainnya baik fisik maupun non fisik seperti pembinaan mental dan rohani.
Dengan kompetensi keterampilan yang cukup, seorang pemimpin visioner dapat bekerja lebih keras baik secara fisik maupun secara mental dan menjadi contoh bagi pemimpin lain yang berada di bawahnya atau bagi stafnya dalam mencapai visinya.
Pemimpin visioner dituntut memiliki kompetensi memotivasi diri dan bawahan.
Pemimpin visioner, selalu memotivasi dirinya untuk lebih sukses dari orang lain, sebelum memotivasi orang lain untuk mencapai kesuksesan. Kemampuan momotivasi diri sendiri lahir dari hati yang bersih; hati yang bersih menuntun pikiran yang maju dan positip. Pikiran yang maju dan positip menjadi dasar untuk berkata yang benar, yang baik dan yang pantas.
Perkataan yang benar, baik dan pantas menjamin perbuatan benar, baik dan pantas. Perbuatan benar, baik dan pantas yang dilakukan secara terus-menerus akan menjadi kebiasaan yang benar, baik dan pantas. Kebiasaan yang benar, baik dan pantas yang dilakukan secara terus-menerus akan menjadi budaya yang benar, baik dan pantas. Budaya yang benar, baik dan pantas akan melahirkan karakter yang benar, baik dan pantas.
Karakter yang benar, baik dan pantas akan melahirkan nasib yang benar, baik dan pantas. Dalai Lama, pendeta Budha kesohor itu menyatakan bahwa pada akhirnya nasib seseorang ditentukan oleh mindsetnya. Kesempatan ini, saya mau katakan, nasib seseorang lahir dari hatinya. Jika pemimpin visioner telah mendapatkan nasib yang benar, baik dan pantas, maka dia dapat memotivasi pemimpin lain atau masyarakat umum untuk melakukan hal-hal yang benar, baik dan pantas mulai dari hati yang tulus dan ikhlas melayani, merubah mindset untuk seterusnya merubah nasib untuk hidup yang lebih sejahtera. Tugas negarawan ada di sini.
Terakhir, pemimpin visioner dituntut memiliki kompetensi sifat tanggap terhadap lingkungan sekitarnya. Hal ini diperlukan karena ketika berbagai peristiwa sosial kemasyarakatan terjadi, pemimpin visioner harus selalu di depan untuk memimpin dan memberi teladan menyelesaikan persoalan. Pemimpin visioner selalu tiba tepat waktu, menjadi orang pertama yang menolong pada setiap peristiwa sosial kemasyarakatan yang menimpa warganya (ingarso sung tulodo).
Pada kesempatan yang sama, pemimpin visioner juga berada di tengah-tengah rakyatnya untuk memberikan dorongan agar tidak patah semangat (ingmadya mangun karso); pada situasi yang sama, pemimpin visioner harus dapat melindungi rakyatnya dari berbagai ancaman bencana (tut wuri handayani). Pemimpin visioner tidak menunggu panggung untuk pesta. Jika ini terjadi dia lebih pantas disebut politisi ketimbang negarawan.
Pemimpin visioner dituntut memiliki minimal lima kompetensi dasar, yaitu: kompetensi diri, kompetensi pengetahuan, kompetensi keterampilan, kompetensi motivasi dan kompetensi sifat tanggap.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/ketimpangan-pendapatan-patologi-inheren-perekonomian.jpg)