Petugas Dinas Peternakan Belu Beri Edukasi Penanganan Virus

Lembaga Dinas Peternakan Kabupaten Belu melalui Unit Reaksi Cepat (URC) terus melakukan penanganan babi

Petugas Dinas Peternakan Belu Beri Edukasi Penanganan Virus
POS-KUPANG.COM/TENIS JENAHAS
Petugas Unit Reaksi Cepat (URC) Dinas Peternakan Kabupaten Belu menyemprot obat di kandang babi. 

POS KUPANG.COM | ATAMBUA - Lembaga Dinas Peternakan Kabupaten Belu melalui Unit Reaksi Cepat (URC) terus melakukan penanganan babi yang masih sehat dengan pendekatan Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE) kepada masyarakat.

Tim URC dinas yang dibentuk Januari 2020 itu tersebar di setiap kecamatan untuk memberikan Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) kepada masyarakat, terutama peternak babi tentang cara menangani atau mencegah penularan virus yang belum diketahui namanya hingga saat ini.

Mengaku Salah Jadwalkan, Komisi 1 DPRD TTS Batal Klarifikasi ke Boentuka

Hal ini dikatakan Kepala Dinas Dinas Peternakan Kabupaten Belu, Nikolaus Umbu Birri kepada POS-KUPANG.COM saat dikonfirmasi Senin, (24/2/2020).

Kepala Dinas Dinas Peternakan Kabupaten Belu, Nikolaus Umbu Birri
Kepala Dinas Dinas Peternakan Kabupaten Belu, Nikolaus Umbu Birri (POS-KUPANG.COM/TENIS JENAHAS)

Menurut Nikolaus, data terakhir kematian babi di Kabupaten Belu masih 570 ekor yang tersebar di 12 kecamatan. Data ini diperoleh petugas setelah dilakukan pendataan yang dilaporan masyarakat sejak Oktober 2019 sampai dengan keadaan Februari 2020. Tingkat kematian babi paling banyak terjadi awal Januari sampai Februari 2020.

Nikolaus mengatakan, upaya pemerintah untuk mencegah kematian babi dengan cara isolasi dan beberapa larangan yang sudah dinstruksikan Bupati Belu.

Sosialisasi di Lembata, Ramadhan: Universitas Muhammadiyah Kupang Kampus Multikultural

Pemerintah melarang mengeluarkan ternak babi dari Kabupaten Belu dan memasukan babi dari kabupaten lain ke Kabupaten Belu. Melarang mengeluarkan babi dari desa dan memasukan babi dari desa lain dalam wilayah kecamatan.

Selain itu, dilarang memberikan limbah dapur asal ternak babi kepada babi yang sehat. Mencegah kontak langsung antara babi liar atau babi lepas dengan babi yang dikandangkan. Petugas atau tamu yang mengunjungi kandang ternak babi wajib menggunakan prosedur biosecuriti. Kepada para camat dan kepala desa agar selalu mengawasi masyarakat yang akan berpergian ke negara Timor Leste dan kembali ke Indonesia tidak membawa serta ternak babi dan hasil olahan lainya.

Nikolaus mengatakan, para petugas URC dinas setiap hari berada di lapangan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat tentang cara menangani babi yang masih sehat agar tidak tertular virus. Dan akhir-akhir ini laporan terkait dengan kematian babi mulai berkurang.

Dalam menangani masalah virus ini, Dinas Peternakan Kabupaten Belu meminta dukungan dari Pemerintah Provinsi untuk memberikan alat pelindung diri kepada petugas. Pasalnya, saat melakukan penanganan babi, petugas harus dilengkapi alat proteksi diri seperti baju. Alat pelindung diri yang dibutuhkan sangat banyak karena terdapat ribuan ternak babi yang perlu ditangani.

Alat pelindung diri dibutuhkan banyak karena hanya sekali pakai. Setiap penanganan di satu kandang ternak, alat pelindung diri yang dipakai petugas tidak akan dipakai lagi di tempat yang lain. Sebab, penyebaran virus ini bukan lewat udara/angin tetapi lewat orang, barang/benda dan hewan atau yang dikenal dengan istilah OBH.

Kemudian, alat semprot obat di kandang ternak masih dibutuhkan Dinas Peternakan Belu.

Nikolaus menambahkan, petugas melalui pendekatan KIE sudah memberikan beberapa tips kepada masyarakat dalam mengantisipasi penularan virus yaitu, mengkandangkan ternak, menggunakan prosedural biosecuriti, memberi makanan toko kepada babi. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Teni Jenahas)

Penulis: Teni Jenahas
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved