Shinta Widari Dokter Spesialis Kejiwaan RSIA Dedari Kupang Soal Penanganan Pasien oleh Psikiater

Kata Shinta Widari dokter spesialis kejiwaan di RSIA Dedari Kupang terkait penanganan pasien oleh psikiater

POS- KUPANG.COM/Vinsen Huler
dr. D.A.P Shinta Widari Sp.KJ,MARS Dokter Spesialis Kejiwaan di RSIA Dedari Kupang & Klinik Utama Jiwa Dewanta Mental Healthcare saat memaparkan materinya, Sabtu (15/2/2020). 

Kata Shinta Widari dokter spesialis kejiwaan di RSIA Dedari Kupang terkait penanganan pasien oleh psikiater

POS-KUPANG.COM | KUPANG - Ilmu kejiwaan ini pada tempat pertama berguna bagi dirinya, bagi keluarga dan untuk orang lain.

Hal ini dikatakan dr. D.A.P Shinta Widari Sp.KJ,MARS menguak latar belakang dirinya terjun menjadi Dokter Spesialis Kejiwaan di RSIA Dedari Kupang & Klinik Utama Jiwa Dewanta Mental Healthcare, Sabtu (15/2/2020) di Klinik Utama Jiwa Dewanta Mental Healtcare, Jalan Ainiba, Pasir Panjang, Kupang.

16 Kepala Keluarga di Desa Jenilu Tinggal Dekat Lokasi Penyimpanan Benda Mirip Bom

Dikatakan Shinta, kesehatan jiwa merupakan sesuatu yang penting untuk diketahui oleh semua orang. Karena ternyata, di bagian kejiwaan itu kita mempelajari banyak hal. Bukan saja "orang gila' . Namun, dirinya mengaku juga bisa mempelajari karakter, kepribadian bahkan mempelajari budaya dan banyak hal lainnya.

Lanjut dr. Shinta, saat ini dirinya merasa sangat peduli pada kesehatan jiwa, sehingga di pertemuan apa pun, dirinya selalu melakukan sosialisasi kesehatan jiwa.

Puluhan Tim Futsal Siap Bertanding di Liga Akbar Paman Sam Kota Kupang

Bagi Shinta, selama ini pola pikir seseorang itu telah diindoktrinasi oleh paradigma bahwa yang sehat itu hanya fisik saja. Namun sekali lagi bahwa kesehatan jiwa itu sangat penting karena sumber daya manusia yang produktif dan kreatif itu harus sehat jiwa dan raga.

Ketika dimintai tanggapan terkait panggilan moral terhadap seorang pasien yang bernama Ita, dr Sinta menjelaskan bahwa, sebagai seorang psikiater dirinya tidak boleh menanggapi seorang pasien itu dengan simpati. Tetapi menghadapi pasien itu dengan rasa empati.

" Saya bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Ita, tetapi saya tidak boleh larut di dalam perasaannya. Jika seperti itu, maka saya tidak bisa memberikan yang terbaik buat Ita," Ucapnya lirih.

Dikatakan Shinta, sekitar 7 tahun yang lalu merupakan awal mula perjumpaannya dengan Ita. Pada saat itu, urai Shinta, pihaknya sudah memberikan pengobatan tetapi hilang begitu saja. Mungkin disebabkan oleh koordinasi yang belum maksimal. Tetapi ketika dirinya sudah memiliki the mental Healtcare ini, dirinya memiliki ruang gerak yang bebas dan dirinya teringat pada pasien-pasien pasung enam tahun yang lalu,termasuk Ita.

Lebih lanjut Shinta, menuturkan, saat terakhir kali bertemu pasien yang bernama Ita sudah mengalami gangguan jiwa berat. Gangguannya sudah mencapai proses berpikir bahkan, sudah terjadi disorganisasi pada proses berpikir. Hal ini sudah mencapai taraf yang sangat berat.

Pengalaman perjumpaan itu, ujar Shinta membuat dirinya tersentuh sebab baginya jenis kasus seperti itu, bisa diobati atau paling kurang bisa mengembalikan fungsinya sebagai manusia.

Sehubungan dengan keinginannya untuk lebih mengedepankan Pendekatan empati daripada aspek simpati, ia menjelaskan bahwa, Semua pendekatan yang dilakukan harus melalui aspek empati. Karena aspek simpati tidak akan memberikan pertolongan yang maksimal terhadap orang yang sakit.

Dengan empati, ujar Shinta, dirinya mampu menganalisa, menyimpulkan, dengan pikiran yang jernih sehingga pertolongan maksimal dapat diberikan. Ikut merasakan tetapi tidak terlibat dalam perasaannya. (Laporan reporter POS- KUPANG.COM, Vinsen Huler)

Penulis: PosKupang
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved