WAWANCARA EKSKLUSIF
Direktur Utama Bank NTT: Tiap Daerah Punya Industri Unggulan
Izhak Eduard Rihi menginginkan Bank NTT menjadi pintu masuk untuk membantu masyarakat menjadi sejahtera.
Penulis: Paul Burin | Editor: Alfons Nedabang
Jadi, semua daerah kita harap punya industri unggulan daerah. Tadi, Saya baru berdiskusi dengan beberapa anggota DPRD NTT di sini. Saya menjelaskan tentang rencana kita ini. Mereka sungguh meresponnya dengan positif.
• Thomas Bangke Optimistis NTT Tangguh Bencana
Apa yang akan menjadi industri unggulan tiap daerah di NTT?
Ya, sesuai road map saya, semua daerah kita harap punya industri unggulan daerah. Kita sudah bagi peta per daerah. Di Pulau Sumba, kita akan bangun industri, peternakan, pariwsata, pertanian dan perkebunan. Di Flores dari Ngada sampai Lembata kita kembangkan hortikultura, kakao, kopi. Kita memang harus bagi supaya tak ada persaingan-persaingan.
Di Pulau Timor antara lain, kita bangun peternakan (industri pengolahan daging). Karena itu Bank NTT menawarkan pinjaman daerah dengan tujuan untuk membangun infrastruktur industri. Karena itu di provinsi, Pak Gubernur mau pakai pinjaman itu untuk bangun infrastruktur.
• Gubernur NTT: Kalau Pemimpin Bodoh dan Pemalas, Daerahnya Tertinggal Terus
Di Ngada, misalnya saya bilang Pak Bupati karena jalannya sudah bagus kita mulai bangun industri. Jadi pembiayaan berbasis ekosistim. Maknanya bahwa bicara pariwisata dimulai dari revitalisasi obyek wisata. Kita siapkan home stay bagi masyarakat, kita datangkan orang, atraksinya seperti apa akan kita biayai. Kita buat kelender wisata tahunan baik dari Labuan Bajo sampai Lembata.
Bersama semua kepala cabang Bank NTT di semua kabupaten/kota sudah kami diskusikan untuk terus mendorong masyarakat di tiap daerahnya. Misalnya, merevitalisasi Danau Kelimutu, siapkan Kampung Adat Bena, tatakelola air panas di Soa. Intinya bahwa kita membiayai sektor-sektor unggulan di tiap daerah melalui portofolio yang detail. Sekarang, tinggal kerja sama kita dengan pemerintah. Swasta yang mengeksekusi.
• Ayah dan Anak Rebutan Janda Cantik, Nyawa jadi Taruhannya
Kita jangan kasih pemerintah pegang uang nanti semua bisa kena operasi tangkap tangan (OTT). Kita akan terus dorong pemerintah dalam pengelolaan dana-dana sosial, pemberdayaan ekonomi jangan sampai langsung (kasih) ke masyarakat tetapi melalui skema bisnis bank. Uang itu menjadi jaminan saja sehingga kita bisa lakukan pembiayaan. Walau masyarakat tak punya jaminan pun kita (bank) bisa kucurkan karena ada jaminan dari pemerintah. Tiap tahun tak perlu tambah banyak- banyak. Secukupnya.
Berapa suku bunga yang Bank NTT kasih kepada masyarakat?
Sekarang suku bunga tergantung dana pihak ketiga. Dari situ kita mendapat share- nya. Kalau sekarang bunga korporasi deposito 8,5 persen per tahun masih mahal. Nah, kita mau kasih kredit kita dapat margin berapa? Cost operasional berapa? Jadi kita belum bisa harapkan bunga itu rendah karena dana kita mahal. Tapi, kalau negara mendorong dengan pinjaman tadi, kita akan dapat dana-dana yang murah.
• Rebut Anaknya dari Mulut Buaya, Begini Cara Daud Nenoharan Taklukkan Buaya
Kalau mau dapat dana pihak ketiga dari masyarakat, rasanya belum bisa karena pendapatan mereka masih kecil. Daerah ini (NTT) masih kategori miskin setelah Papua dan Papua Barat. Ibarat handuk yang sudah kering, kita paksa mau peras airnya tak bisa keluar lagi. Bagaimana kita memberdayakan, ya, negara yang membantu.
Sejauhmana evaluasi terhadap realisasi road map Bank NTT?
Ada beberapa program yang sudah jalan sejak tahun 2019 lalu. Contoh, eksekusi industri di Bajawa, kemarin itu merupakan program tahun 2019. Tahun 2020 ini kita pertajam lagi. Begitu juga untuk Flores Timur dan Alor masing-masing kita bangun industri tepung kelapa dan minyak kemiri. Mesin sudah tiba tinggal kita benahi. Kopi bajawa kita sudah buat pabriknya, pengolahan sampai saset. Seperti itu pola pendekatan Bank NTT.
• Ramalan Zodiak Kesehatan Selasa 4 Februari 2020, Aquarius Harus Olahraga, Libra Emosi Negatif
Wajar kalau angka-angka kinerja kita mulai baik. Kampung Adat Wologai kita siapkan rumah rakyat menjadi home stay. Kalau saya siapkan satu rumah untuk revitalisasi dua kamar saja sebanyak 50 kepala keluarga, maka akan tersedia 100 kamar di kampung itu. Tiap-tiap kepala keluarga mendapatkan alokasi, misalnya Rp 100 juta karena revitalisasi itu dengan stadar kamar hotel lengkap dengan WiFi dan macam-macam kebutuhan maka dananya cukup banyak terserap di desa itu. Kemudian, kita akan biayai travel untuk datangkan orang ke situ. Mau nonton tarian kita bikin sanggar-sanggar dan atraksi lain.
Kita juga siapkan kuliner, tenun ikat, wajib pakaian adat jika berkunjung yang artinya harus berbelanja di kampung itu. Kita punya tanggung jawab moril untuk membangun industrialisasi dan pemberdayaan aset ekonomi. Namun, mindset perlu menjadi tekanan. Mengubah cara pikir, cara pandang tentang pariwisata agar mereka tak hanya berorientasi tanam untuk makan saja, tapi tanam untuk bisnis. Buat sesuatu dengan skema bisnis. Silakan makan-makan tapi tak boleh gratis sebab bukan pesta adat. Ini yang namanya kita mengubah mindset. Untuk itu kita harus melatih masyarakat.
• Ramalan Zodiak Cinta Minggu ini, 2-8 Februari 2020, Sagitarius Banyak Godaan, Taurus Hati-hati
Mengapa banyak proyek yang gagal karena mindset masyarakat belum berubah. Mereka pikir itu proyek hibah sehingga tak menumbuhkan spirit untuk usaha. Contoh lain, kita memberdayakan mereka dengan melakukan mapping asetnya. Misalnya, bank datang untuk menjelaskan lokasi sebuah tanah yang strategis milik masyarakat.
Karena pemilik tak punya modal, bank menyediakan dengan membangun ruko, misalnya atau usaha-usaha produktif lain yang nanti menguntungkan mereka. Kita memberdayakan. Tinggal kita rapikan sistim. Kita harus koneksikan melalui sistim IT supaya menjadi terpadu. Selama ini semua jalan sendiri-sendiri.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/izhak-eduard-rihi.jpg)