Breaking News:

Di Sikka Anak Dibawah Umur Dihamili, Dianggap Aib Lalu Diusir dari Kampung

Di Sikka anak dibawah umur Dihamili, dianggap aib lalu diusir dari kampung

POS-KUPANG.COM/Eginius Mo'a
Koordinator Divisi Perempuan TRUK, Suster Eustochia, SSpS, dan Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, KB, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Sikka, dr.Berdina Sada Nenu, menyampaikan dalam catatan akhir tahun kasus kekerasan perempuan dan anak, Kamis (30/1/2020) di Sekretariat TRUK, Maumere, Pulau Flores. 

Di Sikka anak dibawah umur Dihamili, dianggap aib lalu diusir dari kampung

POS-KUPANG.COM | MAUMERE - Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Seorang anak dibawah umur di salah satu desa di bagian timur Kabupaten Sikka, Pulau Flores, beberapa waktu lalu dihamili oleh kerabat terdekat.

Apes menimpanya, bukannya mendapat pembelaan dari warga sekampung, ia bersama ibunya diusir keluar dari kampung itu. Mereka berlindung di Divisi Perempuan Tim Relawan Untuk Kemanusiaan (TRUK) di kompleks Biara Susteran SSpS, Kota Maumere, Pulau Flores.

Testing CPNS Manggarai Timur, Pelamar 7.378 Orang Dokter Tidak Ada Pelamar

"Bapaknya sudah meninggal. Dia dihamili oleh sepupunya. setelah hamil diusir oleh keluarganya dan masyarakat dari kampung itu. Mereka tidak boleh tinggal di sana, dianggap aib dan bawa bencana untuk kampuing," beber Koordinator Divisi Perempuan TRUK, Suster Eustochia, SSpS, kepada wartawan dalam catatan akhir tahun 2019 kasus kekerasan perempuan dan anak, Kamis (30/1/2020) di Sekretariat TRUK, Maumere.

Bersama TRUK, kata Suster Esho, mereka menemui kepala desa setempat. Jawaban kepala desa mengejutkanya, menyatakan adat di kampung itu mengharuskan perempuan yang hamil harus keluar dari kampung. Kampung akan mendapat bala, panas, hujan dan bencana lain.

Imigrasi Atambua Deportase Dua Warga Timor Leste

Semestinya, kata Suster Estho, pria yang menghamili perempuan di bawah umur ini diusir.

"Dia sudah jadi korban dikorbankan lagi. Kami bertemu kepala desa, polisi dan ancam laporkan Kades kepada bupati, akhirnya dia mau selesaikan," ujar Suster Estho.

Korban diberikan sebidang tanah dari orangtua pria yang menghamiliinya. Pada lahan berada di desa itu dibangun rumah untuk dihuni bersama ibunya. Pendirian rumah didanai oleh TRUK bersumber dari donatur.

"Kami beli semua bahan bangunan muat ke kampung. Akhirnya warga bersama-sama kerja bangun rumahnya. Mereka sudah tempati rumahnya," ujar Suster Estho.

Menurut Suster Estho, kondisi yang menimpa perempuan ini tidak boleh dibiarkan terus-menerus berlangsung, anak dan perempuan korban kekerasan diusir dari kampung. (laporan wartawan pos-kupang.com, eginius mo'a).

Penulis: Eugenius Moa
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved