Minggu, 7 Juni 2026

Dinas Pertanian Lembata Mulai Basmi Hama Ulat Grayek

Lembaga Dinas Pertanian Kabupaten Lembata mulai menurunkan tim guna membantu para petani membasmi hama ulat grayek

Tayang:
Penulis: Ricardus Wawo | Editor: Kanis Jehola
POS KUPANG.COM/RICKO WAWO
Dinas Pertanian Kabupaten Lembata mulai menurunkan tim guna membantu para petani membasmi hama ulat grayak yang menyerang kebun mereka sejak dua minggu terakhir ini. Para petugas di lapangan melakukan pendataan sekaligus penyemprotan pembasmian hama. Gambar diabadikan, Senin (27/1/2020) 

POS-KUPANG.COM | LEWOLEBA - Lembaga Dinas Pertanian Kabupaten Lembata mulai menurunkan tim guna membantu para petani membasmi hama ulat grayek yang menyerang kebun mereka sejak dua minggu terakhir ini.

Hama ulat grayek menyerang tanaman jagung lokal atau hibrida dan juga tanaman sorgum.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lembata Mathias AK Beyeng mengatakan kasus pertama tercatat serangan hama ulat grayek terjadi minggu lalu di wilayah Kecamatan Nubatukan, kemudian di Desa Lamatuka, Desa Baopana dan hampir di seluruh desa di Lembata.

Keluarga Pertanyakan Kematian Akitu Dasilva

"Langkah pertama, kita tahu sebaran kasusnya karena kita juga harus tahu dulu masalahnya. Saya sudah perintahkan petugas lapangan untuk melakukan monitoring ke semua desa dan ternyata awal semua kecamatan itu kena," ujar Beyeng saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (27/1/2020).

Setelah dilakukan monitoring, tim di lapangan pun secara teknis mencari tahu intensitasnya serangan hama dan melihat jenis kerusakannya seperti apa.

Janji Bupati TTS Egusem Piether Tahun Seleksi Perangkat Desa Belum Terealisasi

Oleh karena itu, minggu lalu pihaknya menyimpulkan sesuai data sebaran bahwa semua wilaya Lembata diserang hama ulat grayek dengan instensitas ringan.

"Sambil monotoring kita pengendalian dengan penyemprotan dengan melibatkan pemerintah desa, kelompok tani baik di kecamatan dan di desa. Minggu ini pada hari Selasa, Rabu dan Kamis kita lakukan pengendalian terpadu besar-besaran di kecamatan," ungkap Beyeng.

Lebih lanjut, dia menambahkan secara teknis ada tiga metode pengendalian.

Pertama, pengendalian secara mekanis yakni dengan mengambil ulatnya di tanaman jagung dan langsung membuangnya.

Kedua, ketika kasus sudah tidak terkendali lagi, maka metode yang digunakan adalah metode kimia dengan penyemprotan.

Ketiga, metode biologis yang tidak bisa dibuat karena ketiadaan alat.

Dinas Pertanian Kabupaten Lembata juga mendapat bantuan obat-obatan dan alat semprot dari Pemprov NTT.

"Ulat ini rata-rata tiap tahun ada tapi intensitasnya sedikit tapi tahun ini lebih banyak. Secara alami ulat ini ada musuh alamnya. Kalau sudah dibasmi oleh semprotan pestidasi maka habis musuh alamnya dan dia muncul begini," kata Beyeng sembari menambahkan sesuai hasil monitoring intensitas serangan hama ini berada di bawah 25 persen dan bervariasi antar tempat, tetapi masih dalam kategori ringan.

Menurut dia, Sambil berharap turun hujan, ini adalah periode yang tepat untuk membasmi hama ulat tersebut sebelum ulat tersebut berubah menjadi kepompong dan kupu-kupu.

"Hama ini umumnya serang tanaman muda. Jadi untuk sekarang belum bisa dikatakan gagal panen karena tanaman ini masih pada fase vegetatif. Kalau hujan besar secara alami kasus itu menurun," tambahnya.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved