Bom Ikan Marak Terjadi, Nelayan Sumba Timur Sayangkan Tak Ada Kapal Patroli di Laut

Aksi bom ikan marak terjadi, nelayan Sumba Timur sayangkan tak ada kapal patroli di laut

Bom Ikan Marak Terjadi, Nelayan Sumba Timur Sayangkan Tak Ada Kapal Patroli di Laut
ISTIMEWA
Nelayan Sumba Timur Nurdin Jamaludin

Aksi bom ikan marak terjadi, nelayan Sumba Timur sayangkan tak ada kapal patroli di laut

POS-KUPANG.COM | WAINGAPU - Aksi pemboman ikan di wilayah perairan laut Sumba Timur, Propinsi Nusa Tenggara Timur ( NTT) marak terjadi.

Terkait maraknya aksi pemboman ikan tersebut para nelayan di Sumba Timur mengecam keras terhadap pelaku pemboman itu dan menyayangkan tak ada fasilitas kapal patroli di laut yang disiapkan oleh pemerintah Propinsi Nusa Tenggara Timur ( NTT).

Charles Panie Menduga Banyak BUMDes di Kabupaten Kupang Cuma Papan Nama

Nelayan Sumba Timur, Nurdin Jamaludin mewakili Nelayan Sumba Timur menyampaikan itu kepada POS-KUPANG.COM, Rabu (15/1/2020) siang.

Menurut Nurdin, aksi pemboman ikan marak terjadi di wilayah laut perairan Sumba Timur karena pengawasan laut sangat kurang. Sejauh ini belum ada fasilitas kapal patroli di Sumba Timur, meskipun kantor Dinas Kelautan dan Perikanan NTT sudah dibangun di Sumba Timur.

BREAKING NEWS: Kupang Dilanda Gempa 5,9 SR, Tak Berpotensi Tsunami

"Meskipun kini Dinas Kelautan dan Perikan sudah bangun kantor di Sumba Timur, selain itu kantor pengawasan perikanan sudah bangun di Kabupaten betul, saya setuju. Cuman kalau hanya modal kantor dengan orangnya tidak difasilitasi dengan kapal patroli, apakah dia berdiri di kantor atau dermaga bisa lihat orang bom ikan dan bisa usir? Itukan tidak mungkin, meskipun dia insyur atau profesorpun tidak bisa,"ungkap Nurdin dengan nada kesal.

Selain itu, meskipun ada TNI angkatan laut, namun TNI-AL lebih fokus untuk menjaga perbatasan teritorial Negara agar aman, bukan bertugas memeriksa kapal-kapal motor yang masuk di pelabuhan, itu kewenangan KP3 Laut.

Menurut Nurdin, penangkapan ikan dengan cara bom selain mematikan banyak ekosistem laut karena racunya menyebar dan juga dapat merusak terumbu karang dimana sebagai rumah tempat berkembang biaknya ikan-ikan. Pemboman ikan ini bukan di kedalaman 2 sampai 3 mil, namun pemboman ikan terhitung dari dasar yang terendah hanya 1 mil atau 200 meter saja paling maksimal.

"Ini peluang merusak tumbuh karang sangat besar. Sejauh ini hampir setiap hari terjadi bom ikan di wilayah perairan Sumba Timur baik menggunakan bom ikan yang berbunyi belum lagi bom yang tidak berbunyi karena pelaku-pelaku tahu kita belum punya kapal patroli,"ungkap Nurdin.

Nurdin juga menegaskan, di Sumba Timur tidak ada jual bom atau jual potas, Nelayan Sumba Timur tidak tahu merakit bom. Namun pelaku pemboman ikan di wilayah perairan laut Sumba Timur merupakan nelayan dari luar yakni dari Sape, NTB, Labuan Bajo, Sulawesi dan dari Pulau Ende.

"Kalau terutama kita di NTT nelayan yang suka bom ikan itu adalah nelayan dari Kabupaten Ende yakni dari Pulau Ende,"ungkap Nurdin.

Menurut Nurdin, pembangunan di Indonesia belum merata, Negara lebih membangun di darat dibandingkan dengan pembangunan di laut.

"Contoh di Natuna dia punya hasil ikan sama dengan di perbatasan Salura Sumba Timur, di salura ada ikan tuna, cumi, lobster dan ada yang tidak ada di Natuna tapi ada di Sumba Timur. Ikan Napoleon, mata, karapu ada juga di Sumba Timur," pungkas Nurdin. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Robert Ropo)

Penulis: Robert Ropo
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved