Opini Pos Kupang
Natal Karena Cinta
Mari membaca dan simak isi Opini Pos Kupang berjudul: Natal Karena Cinta
Mari membaca dan simak isi Opini Pos Kupang berjudul: Natal Karena Cinta
Oleh: Dony Kleden, Rohaniwan Katolik
POS-KUPANG.COM - Pesan Natal perlu dipahami dari semangat `militansi opeartif'. Dengan demikian pesan Natal tidak berhenti pada soal solidaritas dan altruisme, karena kalau Natal diartikan sebatas kedua keutamaan ini maka kita mempersempit dan melemahkan gemah pesan Natal itu sendiri.
Pesan Natal bisa dimaknai dari segi pembebasan sosial. Itu berarti pesan dan gemah Natal harus meng-konteks dalam hidup sosial dan berpijak pada realitas. Dengan demikian pesan Natal terasa lebih kenyal dan punya daya lentur sehingga mampu merambah dalam berbagai sekat hidup manusia.
• GP Ansor NTT Kerahkan 500 Personel Amankan Natal dan Tahun Baru
Hal ini penting sehingga Natal tidak serta merta diartikan sebatas kenangan kelahiran Yesus Sang Almasih tetapi lebih dari itu, kelahiran umat manusia baik secara pribadi maupun secara kolektif.
Natal dan Pembebasan Sosial
Membaca Natal dalam konteks pembebasa sosial, mau tidak mau harus kita sandingkan dengan teologi pembebasan. Itu berarti pikiran kita tertuju pada situasi yang terjadi di Amerika Latin. Teologi pembebasan di Amerika Latin muncul dari adanya kemiskinan yang diakibatkan oleh penindasan ekonomi, politik dan budaya lalu memproduksi berbagai kebijakan semu dan represif. Politik pembodohan rakyat, para borjuis dan aristokrat memagari diri dan menjaga kemapanan hidup mereka sehingga tidak tersentuh. Inilah magma yang menyembur dalam teologi pembebasan yang sampai sekarang terus saja menggemah.
• Bupati Kodi Mete Berharap APBD SBD Segera Ditetapkan DPRD Sumba Barat Daya
Lain ceritanya dengan teologi pembebasan di Asia. Teologi Asia dengan mengambil paradigma dari teologi pembebasan Amerika Latin penekanannya pada religiositas dan pluralitas keagamaan serta dampaknya terhadap perjuangan demi pembebasan. Sebut saja teologi Minjung di Korea, Teologi pembebasan di Philipina dan Teologi Dalit di India.
Inti dari baik teologi pembebasan di Amerika Latin maupun di Asia pada prinsipnya sama yakni memperjuangakan keadilan dalam berbagai bidang kehidupan dan mengangkat kembali harkat dan martabat manusia yang selalu diinjak-injak oleh para penguasa. Sudah menjadi fenomena umum bahwa ketidakadilan dalam berbagai bidang kehidupan telah mengakibatkan rakyat sakit, menderita dan lapar sementara segelintir orang hidup dalam kemewahan tanpa punya altruisme.
Peristiwa Natal sebenarnya punya kandungan Teologi yang sangat kaya. Natal sebagai sebuah peristiwa inkarnasi menggugah semangat umat manusia untuk menciptakan kedamaian dan keharmonisan dalam berbagai lini kehidupan masyarakat.
Kehadiran Sang Almasih dalam kandang nan papa menghadirkan semesta tanya; apa artinya Allah menjadi manusia? Apa artinya Allah yang menjelama itu lahir di kandang hina? Mengapa Ia lahir dari keluarga yang sederhana?
Tentu masih banyak lagi pertanyaan yang bisa diajukan dan bisa membuka tabir bagi kita semua untuk terus berteologi (Teology semper reformanda) Memahami Natal dalam semangat `militansi operatif' menggemahkan heroisme bagi orang Kristen untuk hidup alternatif. Itu berarti hidup orang Krisiani dibangun di atas pijakan ajaran iman yang menekankan cinta kasih dan di atas pijakan itu ia berani melawan berbagai kehidupan yang diskriminatif yang terus saja mendera hidup manusia. Hidup alternatif adalah hidup yang berani melawan arus.
Hidup yang tidak mudah terbawa arus zaman dan terjebak dalam berbagai kenikmatan duniawi yang merangsang dan meninabobokan serta mematikan anima moral.
Yesus Sang Almasih tidak hadir dalam kemewahan dan kekuasaan, bukan karena ketidaksanggupan-Nya sebagaimana yang dipahami oleh kelompok ateis reduksionis atau sekelompok gnostik. Ia hadir dalam `ketiadaan' karena Ia mau menormalkan kehidupan diskriminatif. Kelahiran-Nya di kandang hina lebih jauh dilihat sebagai sebuah hidup alternatif (baca`protes') terhadap berbagai kehidupan yang tidak menjunjung nilai kemanusiaan.
Dengan demikian kelahiran-Nya di kandang hina sebenarnya ingin menantang segala kemapanan para penguasa yang egois. Kehausan dan arogansi kekuasaan para penguasa telah membutakan mata dan menumpulkan nurani mereka. Para penguasa telah membangun sebuah etika semu untuk memagari dirinya supaya tidak tersentuh oleh yang namanya cinta kasih dan keadilan.
Pembebasan di Indonesia
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/ketimpangan-pendapatan-patologi-inheren-perekonomian.jpg)