Berita Lifestyle

dr. Marvin Giantoro: Aktivitas Sesksual Tidak Sehat, Waspadai Penyebab Penyakit Gonore

Kencing nanah atau Gonorrhea (GO) merupakan salah satu Penyakit Menular Seksual PMS.

dr. Marvin Giantoro: Aktivitas Sesksual Tidak Sehat, Waspadai Penyebab Penyakit Gonore
ilustrasi pos kupang
Kencing nanah atau Gonorrhea (GO) 

POS-KUPANG.COM|KUPANG - Kencing nanah atau Gonorrhea (GO) merupakan salah satu Penyakit Menular Seksual PMS yang disebabkan oleh bakteri Neisseria gonorrhoeae.

Penularannya dapat terjadi sebagai akibat dari aktivitas seksual yang tidak sehat, baik oral, anal, atau hubungan seks sesama jenis, dan dapat terjadi dengan cepat ketika terjadi kontak langsung terhadap penderita.

Menurut organisasi kesehatan dunia (WHO), lebih dari satu juta orang terkena penyakit menular seksual setiap harinya, diperkirakan terjadi 376 juta kasus infeksi baru dengan 1 dari 4 orang diantaranya terkena penyakit menular seksual, dan infeksi gonore menjadi penyakit tersering ketiga sebesar 87 juta kasus setelah infeksi klamidia ( 127 jutakasus ), sifilis ( 6,3 juta kasus ) dan trikomoniasis ( 156 juta kasus ).

Puisi-Puisi Pos Kupang Minggu Ini, Kepoin Yuk. Siapa Tahu Ada Karyamu

Di Indonesia, menurut data Kementerian Kesehatan infeksi gonorrhea menjadi penyebab Penyakit Menular Seksual tertinggi yang terjadi di masyarakat. Sebuah penelitian yang dilakukan di Indonesia, usia tersering terkena penyakit gonorrhea berada pada rentang usia 25-49 tahun. Rentang usia tersebut terkait dengan aktivitas seksual tinggi pada rentang usia tersebut atau tergolong dalam usia produktif.

Seseorang yang terinfeksi gonorrhea, dapat menunjukkan gejala yang tumpang tindih dengan penyakit menular seksual lainnya, namun penyakit tersebut sering terjadi pada lapisan kulit yang mengandung mukosa antara lain serviks, uretra, rektum, faring dan konjungtiva.

Umumnya keluhan yang timbul berupa keluarnya duh atau nanah dari alat kelamin, selain itu keluhan lainnya antara lain rasa gatal di sekitar kemaluan, nyeri selama melakukan hubungan seksual atau saat buang air kecil, nyeri pada kerongkongan atau adanya luka terutama pada pasien dengan riwayat berhubungan secara oral, dan nyeri pada anus.

DPRD NTT Minta Pemerintah Lengkapi Syarat Untuk Pinjaman Daerah Rp 900 Miliar

Permasalahan utama yang terjadi saat ini dalam menangani penyakit gonorrhea yaitu munculnya resistensi terhadap pengobatan dengan antibiotik terutama terhadap antibiotik yang direkomendasikan sebagai terapi utama yaitu
Ceftriaxondanazithromisin, seperti yang dilaporkan oleh badan kesehatan dunia (WHO). Kejadian tersebut sudah terjadi di beberapa negara seperti Perancis, Jepang, Spanyol, Inggris dan Australia.

Negara-negara di Asia termasuk Indonesia tidak menutup kemungkinan untuk mengalami kondisi serupa. Kondisi resistensi tersebut disebut sebagai Super Gonorrhea.

Cerpen Riko Raden: Kembalikan Tanah Kami

Adapun penyebab terjadinya Super Gonorrhea antara lain: masih terdapat antibiotik yang dijual bebas tanpa resep, pemilihan dan penggunaan antibiotik yang berlebihan, mutasi genetik pada bakteri penyebab gonorrhea, terdapat infeksi sekunder terutama yang terjadi pada pasangan sesama jenis.

Sebagai dampak dari terjadinya Super Gonorrhea menyebabkan pengobatan terhadap penyakit tersebut menjadi tidak efektif dan akan menimbulkan berbagai implikasi baik dari sisi kesehatan reproduksi dan finansial.

Implikasi pada kesehatan reproduksi secara langsung dapat berdampak pada kesehatan maternal dan bayi, antara lain: meningkatkan penularan infeksi HIV, infertilitas, peradangan pada panggul terutama wanita, kehamilan ektopik dan kematian ibu, keguguran dan kebutaan pada bayi baru lahir.

Wakil Gubernur NTT Disambut Tarian Penari Sanggar Lopo Gaharu di Ruangan Nembrala

Implikasi secara finansial berupa peningkatan biaya yang dikeluarkan baik oleh individu penderita maupun pemerintah terkait dalam menangani penyakit tersebut.

Beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk menekan kejadian resistensi obat antibiotik sehingga kejadian super gonorrhea dapat dicegah, yaitu meningkatkan upaya pencegahan terhadap infeksi, regulasi mengenai obat-obatan dengan resep, meningkatkan surveilans resistensi antibiotik, meningkatkan kualitas laboratorium terutama kultur bakteri gono kokus, dan meningkatkan aktivitas penelitian tentang resistensianti biotik maupun mutasi gen yang mungkin terjadi pada bakteri penyebab infeksi. (*)

Editor: Apolonia Matilde
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved