Tutup Turnamen Sepak Bola Antar Umat Beragama di Sumba, Bupati Gidion: Pemuda Pelopor Kedamaian
memfasilitasi kepentingan para elit di agama dan para akar rumput dibawa. Pemuda harus menjadi pelopor kedamaian.
Penulis: Robert Ropo | Editor: Rosalina Woso
Tutup Turnamen Sepak Bola Antar Umat Beragama di Sumba, Bupati Gidion: Pemuda Adalah Pelopor Kedamaian
POS-KUPANG.COM | WAINGAPU--Turnamen Antar Umat Beragama yang ke-XVIII yang digelar oleh Gereja Kristen Sumba (GKS) Payeti Kabupaten Sumba Timur Tahun 2019 resmi ditutup.
Bupati Sumba Timur Drs.Gidion Mbilijora, M.Si menutup Turnamen itu yang berlangsung di Lapangan Pemuda Matawai, Kota Waingapu, Sabtu (14/12/2019) sore.
Hadir dalam acara penutupan itu, Ketua DPRD Kabupaten Sumba Timur, Ali Oemar Fadaq, Kapolres Sumba Timur, AKBP. Handrio Wicaksono, S.I.K, Ketua Badan Pelaksana Majelis Jemaat (BPMJ) GKS Payeti, Pdt. Yuliana Ata Ambu, sejumlah pimpinan OPD lingkup Pemkab Sumba Timur, pejabat yang mewakili Kantor Kementerian Agama Sumba Timur, panitia pelaksana dan ribuan para suporter yang memadati stadion itu.
Bupati Sumba Timur sebelum menutup turnamen tersebut dalam sambutanya, mengatakan, pemuda merupakan pelopor yang memfasilitasi kepentingan para elit di agama dan para akar rumput dibawa. Pemuda harus menjadi pelopor kedamaian.
Gidion mengatakan turnamen sepak bola antar umat beragama ini untuk menjaga tali persaudaraan antar umat beragama. Terbukti sudah 18 kali digelarnya turnamen ini tidak ada keributan yang terjadi terkait karena Sara.
Menurut Gidion, perdamaian ini merupakan energi dan pembangunan untuk secara khusus Sumba ke depan. Sehingga diharapkan kedepan dan seterusnya perdamaian ini agar tetap terjaga sampai kapanpun.
Gidion juga berjanji pada turnamen tersebut tahun 2020, pialanya akan diganti yang lebih besar lagi. Sebab menurutnya pialanya saat ini sangat kecil.
Ketua Badan Pelaksana Majelis Jemaat (BPMJ) GKS Payeti, Pdt.Yuliana Ata Ambu dalam sambutannya menegaskan kepada semua tim yang menang untuk tidak melihat besar-kecilnya hadiah yang diterima. Karena jika dibandingkan dengan besarnya biaya yang harus dikeluarkan oleh tim untuk bisa sampai pada juara, pasti mengeluarkan biaya yang jauh lebih besar.
"Hadiahnya pasti sangat kecil untuk biayai tim dalam pertandingan ini. Tetapi kompetisi ini untuk membuktikan kebersamaan dan persaudaraan kita. Karena memang kita semua adalah saudara dan NKRI harga mati," tegasnya.
Sekretaris Panitia Pelaksana, Melaton Umbu Riada, dalam laporannya menjelaskan, seluruh pertandingan ini ada 36 pertandingan dan tercipta 62 gol.
Untuk hadiah tim OMK Katedral Waetabula berhak atas piala bergilir, piala tetap, sertifikat penghargaan dan uang pembinaan sebesar Rp 5 juta. Kemudian posisi runner up yang ditempati Pemuda GKS Mambitul Anakalang, Sumba Tengah berhak atas piala tetap, piagam penghargaan dan uang pembinaan sebesar Rp 3,5 juta.
Sedangkan tempat ketiga yang diraih OMK MBSM Kambajawa berhak atas piala tetap, sertifikat dan uang pembinaan sebesar Rp 2,5 juta.
• Menteri Desa PDTT Disambut Adat Malaka
• Julie Sutrisno Apresiasi Potensi Anak Muda NTT
Hadiah juga diberikan kedapan pemain terbaik atas nama Aji dari GKS Mambitul dan pemain dengan gol terbanyak Ardo dari OMK Katedral Weetabula dengan masing-masing mendapatkan piala tetap dan uang pembinaan Rp 500 ribu. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Robert Ropo)