Kisah Inspiratif

Pria Tunanetra di Manggarai Timur NTT Ini Setia Rawat Istri dan Anaknya yang Alami Gangguan Jiwa

Pria Tunanetra di Manggarai Timur NTT Ini Setia Rawat Istri dan Anaknya yang Alami Gangguan Jiwa

Editor: maria anitoda
kompas.com
Pria Tunanetra di Manggarai Timur NTT Ini Setia Rawat Istri dan Anaknya yang Alami Gangguan Jiwa 

Menjelaskan kondisinya, Dr Wan Qing'an mengatakan kepada wartawan, "Ketika dia dibawa ke rumah sakit, dia dalam kondisi vegetatif. Dia tidak bisa menanggapi apa pun."

Istrinya, Zhang Guihuan (57), mengenang, "Dokter memberi tahu saya bahwa ia mungkin berada dalam kondisi vegetatif yang persisten."

Li Zhihua koma selama 5 tahun ini yang dilakukan istrinya, Zhang Guihua (Ist)
Dia mengatakan dia tidak mau menerima diagnosis dan ingin membuktikan bahwa para dokter salah.

Hari demi hari, pasangan yang gigih itu tinggal di sebelah tempat tidur Li untuk mengobrol dengannya dan memainkan lagu-lagu favoritnya, berharap kondisinya akan membaik.

"Hal-hal ini sangat membantu untuk merangsang sistem sarafnya," kata Dr Wan.

Wanita berkemauan keras itu hanya tidur dua hingga tiga jam sehari dan merawat Li dalam segala aspek yang memungkinkan. Akibatnya, ia kehilangan 10 kilogram selama itu.

Potret Betrand Peto Sebelum & Sesudah Diangkat Ruben Onsu dan Sarwendah Jadi Anak, Fotonya Viral

Diisukan Bakal Pisah Ranjang, Reino Barack Malah Puji Pelayanan Syahrini, eks Luna Maya Makin Cinta

Jedar Tanyakan Sosok Pembohong, Jawaban Luna Maya Jadi Sorotan Singgung Suami Syahrini Reino Barack?

Persembahkan Pantun dan Lagu, Siswa TK Kartika VII-7 Dapat Pujian Kasad Jenderal TNI Andika Perkasa

Duh, Lagi Betrand Peto Cium Sarwendah Hingga Terjatuh, Istri Ruben Onsu Tolak Dipeluk

Zhang berkata untuk memberi makan suaminya, dia harus hati-hati memasukkan makanan ke dalam dan kemudian dengan lembut menekan lidahnya untuk memberi tahu suaminya bahwa dia bisa makan.

Li secara ajaib mendapatkan kembali kesadarannya tahun lalu.

Pria itu terus tinggal di rumah sakit untuk menjalani perawatan pemulihan.

Dr Wan berkata meskipun Tuan Li tidak bisa mengucapkan kata-kata dengan jelas, dia sepenuhnya sadar akan keadaan di sekitarnya.

Li Zhihua akhirnya tersadar tahun lalu setelah koma selama 5 tahun.
Cuplikan yang direkam kemarin di rumah sakit menunjukkan bahwa istri membantu Li untuk berlatih berjalan dengan bantuan sebuah kruk.

Video itu juga memperlihatkan dia memijat suaminya.

Dr Wan mengatakan Li telah membuat kemajuan besar setelah mengambil bagian dalam skema pemulihan selama lebih dari setahun.

Berbicara tentang Zhang, kepala perawat Xia Li berkata, "(Zhang) mengajar banyak gerakan kepada pasangannya dan dengan sabar menunjukkannya kepadanya tanpa mengeluh."

Berbicara tentang masa depan, Zhang berkata, "Saya tidak pernah berpikir untuk menyerah. Selama dia masih hidup, aku akan terus melayaninya."

Dikurung Orang Tua

Cerita berbeda dari tanah air. Warga Desa Sungai Baung, Kecamatan Talang Ubi, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) melaporkan kondisi memprihatinkan seorang remaja bernama Rahmadi kepada pihak berwenang pada Rabu (21/8/2019).

Rahmadi (17) diketahui dikurung oleh orangtua kandungnya dalam kotakkecil dan dikunci dari luar.

Oleh kedua orangtuanya, ia dikurung seperti itu sudah sejak tiga tahun yang lalu.

Dikurung dalam kotak dan ditelantarkan membuat tubuh Rahmadimengecil.

Hal itu diperparah karena Rahmadi memang memiliki keterbelakangan mental dan susah berbicara.

Tetangga Rahmadi menuturkan, kondisi buruk yang dialami oleh remaja berusia tujuh belas tahun itu sudah sejak Almarhumah Nyami (50) orang tua angkat Rahmadi meninggal dunia pada tahun 2016 lalu.

Sebab sejak Rahmadi kecil sudah diasuh orangtua angkatnya tersebut dan tinggal di Pulau Jawa.

Namun sepeninggalan ibu angkatnya, ia dikembalikan ke rumah orang tuanya di Sumatera Selatan hingga sekarang.

Bahkan sebelum dikurung di dalam kotak, Rahmadi juga pernah mengalami hal yang hampir serupa.

Ia sempat tinggal di bawah pohon pisang.

Sementara itu, dr. Fadly yang menangani Rahmadi di RSUD Talang Ubi melakukan perawatan darurat serta melakukan pengecekan gizi kepadanya.

Menurutnya, dengan berat badan dan tinggi badan Rahmadi seperti saat ini memang tidak seusai dengan ana berusia tujuh belas tahun lainnya.

Kedua orangtua Rahmadi ketika ditemui Dinas Sosial PALI, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak PALI, Dinas Kesehatan PALI, serta Kades Sungai Baung mengungkapkan alasan di balik pengurungan terhadap anak remajanya itu.

Alasan ekonomi keluargalah yang membuat Rahmadi harus dikurung oleh orangtuanya.
Sebab keduanya tak bisa menjaga Rahmadi selama dua puluh empat jam, sementara mereka harus bekerja di ladang untuk menyadap karet demi menyambung hidup sehari-hari.

Tambah mereka, apabila anaknya ditinggal sendirian di rumah tanpa dikurung, maka Rahmadi bisa keluyuran.

Kedua orangtuanya takut apabila remaja yang mengalami keterbelakangan mental tersebut berbuat aneh-aneh ketika ditinggal dirumah tanpa dikurung di dalam kotak.

"Kalau ditinggalkan sendirian, dia (Rahmadi) suka keluyuran. Jadi, takutnya kalau main kejalan bisa tertabrak kendaraan," kata Bari (50), Ayah Kandung Rahmadi, dikutip dari SRIPOKU.com.

Selain itu, dirinya mengurung Rahmadi di belakang rumah dalam kotak layaknya sebuah kandang kambing, lantaran tidak percaya jika bisa ditinggal sendirian.

Hal ini lantaran kondisi Rahmadi yang mengalami gangguan keterbelakangan mental serta tunawicara.

"Kalau ditinggal sendirian di rumah, kami juga takut terjadi apa-apa. Karena dia (Rahmadi) suka sembarangan pegang barang," katanya, dikutip dari SRIPOKU.com.

Setelah pertemuan tersebut, Bari (50) dan Warti (48), orangtua dari Rahmadi bersedia untuk mengurus remaja itu dengan layak.

"Jika mereka (orang tua Rahmadi) masih melakukan hal sama (mengurung dan memukul) anaknya, maka mereka siap diproses secara hukum. Itu tertuang dalam surat perjanjian yang dibuat," ungkap Fahruddin, Kepala Bidang Sosial dan Rehabilitasi Dinas Sosial PALI, Kamis (22/8/19).

"Jadi, setelah kita mediasi dan melakukan pendekatan, penyuluhan dan pencerahan secara persuasif pada orang tua, dalam surat perjanjian itu mereka bersedia mengurus dan merawat kembali anaknya dengan baik," jelasnya. 

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul https://regional.kompas.com/read/2019/12/15/07000051/kisah-suami-tunanetra-di-pedalaman-flores-setia-rawat-istri-dan-anak-yang?page=all#page2

Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved