Senin, 20 April 2026

Berita Pendidikan

Kuliah Umum Prodi Linguistik PPs Undana, Kumoro Beber Keluarga Bahasa Austronesia

Program Studi ( Prodi) Pasca Sarjana (PPs) Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang menggelar kuliah umum, Rabu (4/12/2019).

Penulis: Apolonia M Dhiu | Editor: Apolonia Matilde
Humas Undana
Asisten Diektur, Dr. Karolus Kopong Medan, mengenakan cinderamata 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Apolonia Matilde Dhiu

POS-KUPANG.COM|KUPANG - Program Studi ( Prodi) Pasca Sarjana ( PPs) Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang menggelar kuliah umum, Rabu (4/12/2019).

Kuliah umum tersebut merupakan inisiatif Ketua Prodi Linguistik, Prof. Drs. Feliks Tans, M.Pd, Ph.D.

Kegiatan tersebut juga mendapat respon dari kalangan mahasiswa dan alumni Linguistik Undana.

Pengakuan Pramugari, Gara-Gara Tolak Ajakan Tidur Dengan Direktur Harus Alami Ini, Hotman Teriak Ini

Kuliah umun mengusung tema 'Keluarga Bahasa Austronesia dan Bahasa-bahasa Daerah di Indonesia' tersebut menghadirkan pembicara tunggal Dosen Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Hendro Kumoro.

Dalam paparan materinya, ia memusatkan pembicaraannya pada hasil penelitian tiga linguist, yakni Dempwolff, Dyen dan PS Bellwood.

Kumoro menjelaskan, berbicara Bahasa Austronesia, Otto Dempwolff pada abad 19 telah mengumpulkan Bahasa Austronesia yang disebut Proto Melayu-Polonesia. Dempwolff kemudian memperkenalkan hukum Grimm untuk
merekonstruksi bunyi.

UPDATE Klasemen SEA Games 2019, Filipina di Puncak, Indonesia Naik ke Peringkat 2, Lampaui Vietnam

"Hukum ini mengatakan bahasa secara tidak kita sadari mengalami perubahan bunyi yang disebabkan oleh kekeliruannya anak-anak mengamati dan menangkap bunyi-bunyi yang terpakai oleh generasi orangtua mereka," paparnya.

Ia menambahkan, dari anak-anak salah menangkap bunyi, kemudian menjadi fonem, bunyi berubah menjadi dialek, lalu menjadi bahasa, dan terjadi kontak bahasa kemudian ada inovasi (ada kata pungut), kata-kata kognates sampai menjadikan sebagai bahasa serumpun.

Menurut Kumoro, antara bahasa serumpun terdapat hal-hal yang mirip atau sama.

Dalam karyanya, Dempwollf menentukan dan menggunakan 11 bahasa, yaitu Tagalog, Batak-Toba, Jawa, Melayu (sekarang menjadi bahasa Indonesia), Dayak-Ngaju, Hova (Malagasy) di Madagaskar, Fiji, Sa'an dari Kepulauan Melanesia, Tonga, Fatuna dan Samoa dari Kepulauan Polynesia sebagai bahasa yang diperbandingkan.

Ia melakukan penelitian berdasarkan literatur saat itu, yakni bahasa Jawa yang ditemukannya dan satu-satunya bahasa yang berkesinambungan dapat dilacak ke masa-masa yang lebih tua.

FAKTA TERBARU! Hotman Paris Ungkap Pramugari Tak Dijatah Terbang Kalau Tolak Diajak Ngamar Direktur

"Dalam buku pertama Dempwolff pada tahun 1934 awalnya menggunakan tiga bahasa, yakni Tagalok, Toba Batak dan Jawa.

Buku keduanya tahun 1937 menghasilkan bahasa Proto Austronesia (PAN), hal ini menarik para sarjana, terutama Dyen yang menjadi muridnya kemudian menelaah kembali dan merevisinya. Semantara buku ke tiga tahun 1938 melahirkan kamus PAN sampai sekarang digunakan untuk menganalisis bahasa Austronesia," paparnya.

Dikatakannya, Dempwolff membagi rumpun bahasa Austronesia menjadi tiga bagian, yaitu bagian Indonesia, bagian Melanesia, dan bagian Polynesia.

Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved