Korupsi NTT Fair

Sidang Kasus Korupsi NTT Fair, Yuli Afra Tidak Dapat Arahan Gubernur Frans Lebu Raya

Sidang Kasus Korupsi NTT Fair, Yuli Afra Tidak Dapat Arahan Gubernur Frans Lebu Raya

Sidang Kasus Korupsi NTT Fair, Yuli Afra Tidak Dapat Arahan Gubernur Frans Lebu Raya
POS-KUPANG.COM/RYAN NONG
Saksi Yuli Afra dan Ferry Jons Pandie dalam sidang lanjutan untuk terdakwa Ir Hadmen Puri di Pengadilan Tipikor Kupang pada Jumat (15/11/2019). 

Sidang Kasus Korupsi NTT Fair, Yuli Afra Tidak Dapat Arahan Gubernur Frans Lebu Raya

POS-KUPANG.COM | KUPANG -- Sidang kasus Korupsi NTT Fair dengan terdakwa direktur PT Cipta Eka Puri menguak fakta bahwa Frans Lebu Raya tidak pernah mengarahkan Kepala Dinas PUPR Yuli Afra untuk memenangkan perusahaan ini.

Hal ini diakui Yuli Afra dalam sidang saat dimintai keterangan oleh hakim pengadilan Tipikor, Jumat (15/11/2019).

Sidang Korupsi NTT Fair, Yuli Afra dan Hadmen Puri Saling Bantah Soal Kenalkan Lebu Raya

Menurut Yuli Afra, dirinya tidak pernah diarahkan oleh Frans Lebu Raya sebagai gubernur saat itu untuk memenangkan salah satu perusahaan termasuk PT Cipta Eka Puri.

Yuli bahkan menjelaskan bahwa ia baru mengenal kontraktor Ir Hadmen Puri saat penandatanganan kontrak.

Sementara pihak lain seperti Linda Ludianto dan Mr. Lee juga tidak dikenal dalam urusan pekerjaan ini.

Sidang Korupsi NTT Fair, Jaksa Penuntut Umum Serahkan Bukti Transfer Fee dari Hadmen Puri

Pada kesempatan yang sama Yuli Afra juga mengatakan, dirinya tidak ingat persis berapa uang yang diberikan sebagai fee ke Frans Lebu Raya karena uang tersebut diberikan dalam beberapa tahap. Mantan Kadis PUPR ini hanya mengatakan bahwa jumlahnya sekitar Rp 100 juta lebih.

Dirinya menerangkan bahwa beberapa kali bertemu Frans Lebu Raya namun saat hakim mengkonfrontir soal waktu pertemuan, Yuli tak bisa membuktikan hal itu. Dirinya memberitahu bahwa tak pernah melapor atau mengisi buku tamu saat hendak bertemu Frans Lebu Raya di ruangannya.

Keterangan lain Yuli Afra terkait permintaan fee 2,5 persen atas arahan Gubernur juga dibantah terdakwa.

Menurut terdakwa, dirinya dipanggil ke ruang kerja Yuli Afra dan saat itu Yuli minta fee 5 persen. Setelah itu, dirinya dimintai lagi lagi tambahan fee 1 persen sehingga totalnya menjadi 6 persen saat ground breaking.

Terdakwa juga membantah bahwa ia tidak pernah diperkenalkan dengan gubernur saat groundbreaking dan tidak pernah jabat tangan dengan gubernur. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ryan Nong)

Penulis: Ryan Nong
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved