Ahmad Atang: Jalur Perseorangan di Pilkada Cenderung Merasa Kalah Sebelum Bertanding

Kata Ahmad Atang: Jalur Perseorangan di Pilkada cenderung merasa kalah sebelum bertanding

Ahmad Atang: Jalur Perseorangan di Pilkada Cenderung Merasa Kalah Sebelum Bertanding
Dok
Drs. Ahmad Atang, M.Si

Kata Ahmad Atang: Jalur Perseorangan di Pilkada cenderung merasa kalah sebelum bertanding

POS KUPANG.COM | KUPANG - Pengamat Politik dari Universitas Muhammadyah Kupang, NTT, Dr. Ahmad Atang memberikan pandangannya terkait calon perseorangan atau independen pada pilkada.

Pada pilkada di NTT tahun 2020 terdapat 9 kabupaten yakni Belu, Malaka, Timor Tengah Utara (TTU), Sabu Raijua, Ngada, Manggarai, Manggarai Barat, Sumba Barat dan Sumba Timur.

BREAKING NEWS: Di Manggarai Timur, Fransiskus Hasman Gantung Diri di Plafon Rumah

Menurut Ahmad Atang yang dihubungi di Kupang, Minggu (3/11/2019) berpendapat bahwa dalam pemilihan kepala daerah, terdapat dua jalur bagi masyarakat yang ingin meraih jabatan politik sebagai kepala daerah, yakni melalui jalur partai politik maupun melalui jalur indenpenden atau calon perorangan.

Masing-masing jalur memiliki persyaratan dukungan bagi pasangan calon untuk ditetapkan sebagai calon. Fenomena calon perseorangan dalam pilkada memang sepi peminat, menurutnya dipengaruhi oleh beberapa sebab.

Wabup Madur Lepas 21 Atlet Ikut Kejurda Sepak Takraw NTT, Ini Targetnya

PERTAMA, adanya politik swadaya. Jalur ini membutuhkan modal sosial yang kuat agar kerja-kerja politik tidak mengandalkan infrastruktur politik namun ketokohan yang mampu membangun politik swadaya.

Pada titik ini, para calon sering kehabisan tenaga karena harus bekerja sendiri. Waktu yang panjang membutuhkan stamina politik yang prima. KEDUA, ada pembangkangan konstituen. Terpenuhinya syarat dukungan tidak selalu inheren dengan hasil pilkada.

Fakta memperlihatkan bahwa dukungan yang besar pada saat pengumpulan KTP namun hasilnya tidak sebanding. Hal ini menimbulkan trauma politik bagi mereka yang menggunakan jalur ini.

KETIGA, tokoh-tokoh populer cenderung direbut oleh partai politik sehingga secara psikologis politis bagi yang mau maju melalui jalur perseorangan merasa kalah sebelum bertanding.

KEEMPAT, terkait dengan kompetitor. Jika yang dihadapi adalah calon incumben atau petahana, maka peluang untuk menang harus dihitung secara cermat.

Pada titik ini masyarakat cenderung mengambil sikap apatis daripada maju bertarung. Antara calon perseorangan dan melalui partai memiliki beban finansial yang sama, karena dalam politik tidak ada batasan soal kesiapan finansial dan tidak ada yang merasa lebih murah atau lebih mahal. (Laporan Reporter POS- KUPANG.COM, Edi Hayong)

Penulis: Edy Hayong
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved