Desiana Rondo Jelaskan Makna HUT GMIT dan Hari Reformasi

Pendeta Desiana Rondo Effendy menjelaskan makna HUT GMIT dan Hari Reformasi

POS KUPANG/APOLONIA M DHIU
Pdt. Desiana Rondo- Effendy, M.Th 

Pendeta Desiana Rondo Effendy menjelaskan makna HUT GMIT dan Hari Reformasi

POS-KUPANG.COM | KUPANG - HUT ke-72 GMIT dan Reformasi ke - 502 sebagai makna pembaharuan untuk memelihara keutuhan ciptaan dan menjaga relasi yang baik diantara sesama dan alam semesta.

Hal ini disampaikan Pendeta GMIT Paulus Kupang, Pdt Desiana Rondo Effendy M.Th, Kamis (31/10/2019).

Menurut Pdt. Desiana, dengan bertambah usia GMIT dan hidup dalam pemeliharaan Tuhan sebagai gereja dan pelaku pembaharuan yang hidup.

Sidang Paripurna DPRD Ricuh, Dua Anggota Fraksi PDIP Nyaris Berkelahi, Simak Kisahnya

"502 tahun rentang waktu yang bermartabat untuk gereja terus membawa spirit pembaharuan. HUT gerakan reformasi perlu dirayakan secara bermakna untuk masa depan yang lebih bail," kata Desiana.

Dikatakan, dalam suara gembala Majelis Sinode GMIT menegaskan, bahwa inti dari gerakan reformasi bukanlah peristiwa pertentangan antara Gereja Protestan dan Gereja Katolik di Eropa pada masa lalu, melainkan spirit pembaharuan dalam gereja serta dampaknya terhadap berbagai bidang kehidupan.

Warga Desa Candikusuma Jembrana Geger Temukan Mayat Wanita Tanpa Busana, Begini Kondisinya

"Dengan demikian, perayaan ini dapat bermakna sebagai kesempatan untuk menemukan kembali semangat reformasi dalam rangka membangun kehidupan bersama, menghadapi berbagai ketegangan, koflik, kekerasan, dan penderitaan zaman ini," katanya.

Dia mengakui, sangat penting memperkuat pembaharuan dari dalam keluarga sebagai unsur terpenting dalam kehidupan.

"Bagi saya penting kita memperkuat pembaharuan dari dalam keluarga sebagai unsur terpenting dan inti. Stop kekerasan terhadap perempuan dan anak, berantas trafiking dan penjualan manusia untuk memaknai kemanusiaan itu sendiri," ujarnya.

Lebih lanjut, dikatakan, menghargai kesetaraan dan gender dalam dinamika bermasyarakat dan bergereja.

"Memberikan perhatian terhadap pemeliharaan alam, hutan, air, tanah dan bumi ini. Kebaktian Padang menjadi suatu sarana untuk mengajar gereja mencintai dan memelihara alam, menjaga lingkungan hidup, menjaga kebersihan lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan, tidak menebang pohon," ujarnya.

Dia mengakui, pada Bulan November menjadi bulan lingkungan hidup di GMIT dengan gerakan menanam pohon dan menanam air menjadi spirit yang terus membaharui kita menjadi gereja yang hidup berdampingan dengan seluruh ciptaan. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Oby Lewanmeru

Penulis: Oby Lewanmeru
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved