Anggota DPRD NTT Ana Waha Kolin Kutuk Keras Dugaan Penganiayaan Gadis 16 Tahun di Kabupaten Malaka

Seorang Anggota DPRD NTT Ana Waha Kolin kutuk keras dugaan penganiayaan Gadis 16 Tahun di Kabupaten Malaka

Anggota DPRD NTT Ana Waha Kolin Kutuk Keras Dugaan Penganiayaan Gadis 16 Tahun di Kabupaten Malaka
POS-KUPANG.COM/Gecio Viana
Anggota DPRD NTT, Ana Waha Kolin, SH saat ditemui di ruang Fraksi PKB DPRD NTT, Selasa (29/10/2019) 

Seorang Anggota DPRD NTT Ana Waha Kolin kutuk keras dugaan penganiayaan Gadis 16 Tahun di Kabupaten Malaka

POS-KUPANG.COM | KUPANG - Anggota DPRD NTT, Ana Waha Kolin, SH mengutuk keras dugaan penganiayaan terhadap seorang gadis berumur 16 tahun Desa Babulu Selatan, Kecamatan Kobalima, Kabupaten Malaka.

Penganiayaan tersebut dilakukan pada Rabu (16/10/2019) lalu karena korban dituduh mencuri emas milik warga setempat.

Perbuatan itu diduga dilakukan oleh Kepala Desa Babulu Selatan, Kecamatan Kobalima, Kabupaten Malaka bernama Paulus Lau.

Kasus Kekerasan Terhadap Gadis 16 Tahun di Malaka - LPA NTT Kecam Para Pelaku

"Itu tindakan biadab yang sulit untuk kita ampuni dan saya mengutuk keras perbuatan keji oknum kepala desa terhadap anak perempuan yang masih dibawah umur itu," katanya saat ditemui di ruang Fraksi PKB DPRD NTT, Selasa (29/10/2019).

Ana Waha Kolin yang juga aktivis perempuan Provinsi NTT ini menjelaskan, apa yang dilakukan pelaku merupakan perbuatan yang keji dan tidak menghormati kemanusiaan.

Suami Bogem Mentah Wajah Istri, Anak Tusuk Punggung Ibunya, Gegara Hal Ini, Menyedihkan

Sehingga, pihaknya meminta pihak kepolisian segera mengusut tuntas kasus tersebut. Hal ini merupakan satu wujud di mana negara turut hadir dalam memberikan perlindungan kepada masyarakat, lebih khusus kaum perempuan.

"Iti perbuatan keji dan terkutuk dan memohon pihak kepolisian untuk menangkap dan mengadili dengan hukum yang berlaku sehingga memberikan efek jera kepada semua pihak untuk melihat bahwa posisi perempuan tidak boleh terdiskriminasi dan menjadi objek kekerasan," tegasnya.

Menurutnya, perempuan dan laki-laki dilahirkan sama, yang membedakan hanyalah hal kodrati, sehingga perbuatan pelaku harus diberikan hukuman setimpal jika terbukti salah dan melanggar peraturan perundang-undangan.

"Kita dilahirkan sama, yang membedakan perempuan dengan laki-laki hanya empat hal yakni perempuan itu mengalami haid, hamil, melahirkan dan menyusui, selain itu kita perempuan dan laki-laki itu sama, sehingga saat ada kekerasan dan perlakuan yang kejam dan terkutuk terhadap perempuan seperti ini, maka tidak dapat diampuni," katanya.

"Kepala desa itu dilahirkan oleh perempuan, ketika dia keji terhadap perempuan, maka dia tidak menghormati ibunya," tambahnya.

Pihaknya pun berharap, semua komponen baik pemerintah, LSM dan masyarakat dapat memperhatikan dan secara bersama menyelesaikan kasus ini.

"Sehingga perempuan merasa dia mendapatkan perlindungan ketika mendapat kekerasan," katanya. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Gecio Viana)

Penulis: Gecio Viana
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved