Di Tahun 2019, Sudah Tiga Kasus Keracunan Massal Terjadi di TTS, Telan Tiga Korban Jiwa

Dari tiga kasus yang terjadi tercatat 36 orang menjadi korbannya, dengan tiga diantara meninggal dunia.

Di Tahun 2019, Sudah Tiga Kasus Keracunan Massal Terjadi di TTS, Telan Tiga Korban Jiwa
POS-KUPANG.COM/Dion Kota
Para korban diduga keracunan bubur ayam sedang dirawat di IGD RSUD SoE, Minggu (13/10/2019). 

Di Tahun 2019, Sudah Tiga Kasus Keracunan Massal Terjadi di TTS, Telan Tiga Korban Jiwa

POS-KUPANG.COM| SOE -- Dari Januari hingga Oktober 2019 tercatat sudah tiga kasus keracunan massal akibat mengkonsumsi makanan terjadi di Kabupaten TTS. Dari tiga kasus yang terjadi tercatat 36 orang menjadi korbannya, dengan tiga diantara meninggal dunia.

Kasus keracunan massal pertama terjadi di kelurahan Kobekamusa, Kecamatan Kota Soe pada tanggal 28 April 2019.

Para korban diduga mengalami keracunan makanan yang dikonsumsi di rumah Bapak Marthen Tefa saat menghadiri acara syukuran ulang tahun.

Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam kasus ini. Para pasien yang mengalami diare, muntah-muntah dan sakit kepala bisa kembali pulih usai dirawat di RSUD Soe.

Kasus keracunan massal yang kedua terjadi pada Kamis (26/9/2019) lalu di Desa Oni, Kecamatan Kualin. Dimana, dari enam korban keracunan, tiga di antaranya meninggal dunia usai mengkonsumsi ikan buntal.

Sementara tiga korban lainnya selamat.

Mirisnya, ketiga korban meninggal merupakan ibu, anak dan cucunya.

Terbaru, kasus keracunan massal kembali terjadi pada Minggu (13/10/2019). Kali ini penyebabnya diduga akibat mengkonsumsi bubur ayam keliling. Tercatat sebanyak 14 korban dirawat di RSUD Soe akibat mengalami keracunan makanan.

Para pasien mengeluhkan muntah-muntah, pusing dan diare.

Maraknya kasus keracunan massal yang terjadi di Kabupaten TTS menjadi tanda tanya.

Ketua DPRD Kabupaten TTS, Marcu Mbau meminta pemerintah untuk melakukan pengawasan terhadap para pedagang makanan yang berjualan di Kabupaten TTS.

Selain itu, bahan makanan instan yang dijual di pasar maupun di mini market harus diperiksa untuk memastikan tidak ada barang kadaluwarsa yang dijual. Hal ini harus dilakukan secara rutin minimal dua kali setahun.

Istri Perwira Tinggi TNI, Bella Saphira Tulis Sindiran Usai Dandim Kendari Dicopot Soal Wiranto

Pilkada 2020 Di NTT, Mulai Hari Ini Hanura Buka Pendaftaran

Memprihatikan, Dilarang di Bukit Cinta, Oknum Warga Buang Sampah di Titik Lain

"Saya kira kedepan Pemerintah perlu melakukan operasi pasar rutin untuk mengecek makanan maupun bumbu dapur yang dijual di pasar maupun mini market untuk mencegah barang adanya barang kadaluwarsa yang masih dijual. Selain itu pengawasan terhadap para pedagang makanan baik di warung, kafe maupun pedagang keliling wajib dilakukan untuk memastikan kesehatan makanan yang dijual," pinta Marcu. (Laporan Reporter Pos Kupang. com, Dion Kota)

Penulis: Dion Kota
Editor: Rosalina Woso
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved