Kiai Kharismatik Ini Sindir Sikap Arteria Dahlan di Mata Najwa, Bagaimana Sikap Ustadz Abdul Somad?

Kiai Kharismatik Ini Sindir Sikap Arteria Dahlan di Mata Najwa, Bagaimana Sikap Ustadz Abdul Somad?

Penulis: Bebet I Hidayat | Editor: Bebet I Hidayat
Tribunnews.com
Kiai Kharismatik Ini Sindir Sikap Arteria Dahlan di Mata Najwa, Bagaimana Sikap Ustadz Abdul Somad? 

"Anak dia tanya kalau gurumu macam-macam kasih tahu papa. Biar papa cari pengacara," kata Ustadz Abdul Somad.

Karena sikap ini pula akhirnya guru malah menjadi korban akibat dari orangtua yang memanjakan anaknya.

"Akhirnya guru dikeroyok dengan perlindungan komisi perlindungan anak, dikeroyok dengan perangkat hukum," tambah Ustadz Abdul Somad.

Lalu Ustadz Abdul Somad pun menceritakan pengalaman temannya yang juga pernah mengalami hal kurang enak di dunia pendidikan.

"Teman saya, guru pesantren jewer dikit dituntut 7 juta. gajinya 700 ribu sebulan," paparnya.

Meski demikian, Ustadz Abdul Somad juga menambahkan, sebagai seorang pendidik tidak perlu terbawa situasi saat di sekolah.

"Saya tidak setuju dengan guru yang tidak selesai masalah di rumah lalu dilampiaskan ke murid, ini juga tidak benar," kata sang ustadz.

"Tapi pukul rata, bahwa hukuman akhirnya guru dilokal amat sangat takut, ini kesalahan kita bersama. Maka, saya selalu katakan pihak yayasan, dengan orang tua, duduk bersama, diskusikan. Ini hubungan kita mau dibawa ke mana," lanjutnya.

Karena hal tersebut pula, UAS menilai harus ada kerjasama antara semua pihak dalam hal mendidik anak.

Jangan hanya pihak sekolah saja, tapi harusnya orangtua di rumah juga harus mencontohkan yang baik.

"Betapa banyak anak sudah dididik di sekolah dengan baik, dengan sopan, dengan santun, sampai rumah ternyata kita membangun istana pasir di tepi pantai. Cantik indah, tapi sekali datang ombak hancur," ujar Ustadz Abdul Somad mengumpamakan.

"Di sekolah kita ajarkan anak-anak jangan pakai celana pendek ya, pakai yang sesuai aturan islam. Di rumah, dia lihat orangtuanya pakai-pakaian pendek," lanjutnya.

"Artinya bangunan yang kita bangun itu hancur roboh," tambah Ustadz itu.

"Makanya alangkah indahnya, wali murid, jadilah perangkat pendidik, wali murid yang mendidik, kyai mendidik, sehingga kalau ini terwujud akan selamat. Nggak ada gunanya IPK tinggi tapi nggak punya akhlak," terangnya.

Adapun istimewanya seorang guru yang baik akan selamanya dikenang oleh anak-anak didiknya di masa yang akan datang.

Halaman
1234
Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved