Kisah Sukses TKI di Malaysia
Sejumlah warga Desa Taaba, Kecamatan Weliman, Kabupaten Malaka mengadu nasib sebagai TKI di Malaysia dan sukses
Penulis: Teni Jenahas | Editor: Kanis Jehola
Sejumlah warga Desa Taaba, Kecamatan Weliman, Kabupaten Malaka mengadu nasib sebagai TKI di Malaysia dan sukses.
POS KUPANG.COM| BETUN - Sejumlah warga Desa Taaba, Kecamatan Weliman, Kabupaten Malaka mengadu nasib di Malaysia. Hasil kerja mereka membuahkan hasil dan mampu memenuhi kebutuhan hidup rumah tangga mereka.
Hasil kerja mereka terlihat dari aset dan fasilitas yang mereka miliki saat ini seperti tanah, rumah, mobil, sepeda motor dan barang elektonik lainnya.
• Inspirasi Komunitas Literasi Lahir di Hutan Mangrove Lewolema, Flores Timur
Beberapa keluarga TKI yang ditemui Pos Kupang.Com, Selasa (8/10/2019) diantaranya, Mikael Bere, Vinsen Nahak dan Kanis Nahak. Mereka adalah TKI yang tergolong sukses karena hasil kerja mereka bisa merubah nasib mereka.
Yustina Hoar mengaku, suaminya Mikael Bere bekerja di Malaysia sejak tahun 2017 sampai sekarang. Mikael yang memiliki ijazah SMP itu bekerja di perkebunan sayur dengan upah minimal Rp 3 juta per bulan. Uang hasil kerja dikirim ke istri setiap bulan rata-rata Rp 1 juta hingga Rp 2 juta per bulan. Ada kala suaminya bisa mengirim uang lebih dari itu tergantung kebutuhan rumah tangga.
Uang hasil kerja selama ini, keluarga Mikael sudah memiliki rumah tembok permanen, dua unit sepeda motor, ternak sapi belasan ekor, televisi, kulkas dan barang elektronik lainnya. Selebihnya uang hasil kerja sang suami digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga seperti, membeli beras, biaya pendidikan anak, biaya kesehatan, bayar listrik dan urusan adat.
• Bupati Sikka Minta Kepala Sekolah Jangan Usir Anak Belum Bayar Uang Sekolah
Sebelum menjadi TKI, Mikael bekerja sebagai aparat Desa Taaba dengan jabatan Pamong Tani. Setelah keluar dari aparat desa, Mikael memilih mencari kerja di Malaysia.
Ia memilih kerja di Malaysia karena di Malaka belum banyak lapangan pekerjaan. Keputusan mencari kerja di Malaysia direstui oleh keluarga sehingga dokumen kependudukan disiapkan. Selama kerja di Malaysia, Mikael aktif berkomunikasi dengan istri dan anak-anak bahkan dengan tetangga.
Mikael Bere memiliki lima orang anak. Saat ini, anaknya masih di bangku sekolah, baik di SD, SMP dan SMA.
Hal senada disampaikan keluarga
Vinsen Nahak. Istrinya, Silvestra Fore saat ditemui Pos Kupang.Com mengatakan, ia bersama suaminya sama-sama bekerja di Malaysia sejak lima tahun lalu. Vinsen Nahak adalah tamatan SD sedangkan istrinya tamatan SMP. Keduanya bekerja sebagai tenaga buruh perkebunan.
Menurut Fore, ia memilih pulang lebih awal karena ingin melihat anak dan orangtuanya di kampung, sedangkan suaminya tetap bekerja di Malaysia.
Menurut Fore, ia dan suaminya mendapat penghasilan sekitar tujuh juta per bulan.
"Kami kerja buruh di perkebunan. Gaji sekitar 3-4 juta satu bulan. Kalau kami dua gabung hampir tujuh juta. Uang itu kaki kirim ke kampung untuk biaya hidup keluarga sambil beli bahan bangunan", ungkap Fore.
Lanjut Fore, selama bekerja di Malaysia ia menabung uang lalu dikirim ke kampung untuk membeli ternak sapi dan membangun rumah. Saat ini, keluarga Fore sudah memiliki rumah tembok permanen dan lima ekor sapi serta barang elektronik lainnya.
Keluarga lainnya adalah Kanis Nahak. Kakak kandungnya, Prima Nahak saat ditemui Pos Kupang.Com mengatakan, adiknya bekerja di Malaysia setelah tamat SMA tahun 2017 sampai sekarang. Kanis yang masih status bujang itu bekerja di perkebunan hortikultura di Malaysia. Ia adalah anak dari Gabriel Manek dan Maria Hoar.
Menurut Prima, karena adiknya memiliki pendidikan yang cukup yakni SMA sehingga di tempat kerja ia mendapat posisi sebagai mandor di perkebunan. Setiap hari Kanis bertugas mengawas dan mengecek hasil tanaman hortikultura milik majikannya. Bila tiba saatnya untuk panen, Kanis juga bertugas mengawas para tenaga kerja.
Sebagai posisi mandor, tentu Kanis mendapat upah lebih dari tenaga kerja yang lain. Hasil pendapatan diperkirakan Rp 3-5 juta per bulan. Kanis tidak wajib mengirim uang setiap bulan karena ia status bujang. Kemudian, orangtua dan saudaranya juga tidak menuntut dia untuk mengirim uang karena orangtua bisa memenuhi kebutuhannya sendiri.
Orangtua dan saudaranya hanya berpesan kepadanya agar uang hasil kerjanya ditabung lalu dikirim ke keluarga di kampung untuk berinvestasi seperti membeli ternak sapi dan membangun rumah.
Setelah bekerja beberapa bulan di Malaysia, Kanis mulai menabung uang di bank dan hingga saat ini diperkirakan jumlah tabungan mencapai belasan juta. Tahun 2018, Kanis membeli ternak sapi sebagai investasi.
Kemudian Agustus 2019, Kanis membeli sepeda motor satu unit untuk membantu transportasi dalam keluarga dan sebagai aset masa depannya.
Prima mengatakan, adiknya mencari kerja di Malaysia setelah mendapat restu dari orangtua serta didukung dengan dokumen yang memadai sebagai tenaga kerja. Saat ia mencari kerja orangtua berpesan agar bekerja dengan baik dan tertib menyimpan uang selama bekerja. Sebab, selama apapun mereka kerja di Malaysia, suatu saat akan kembali ke kampung halaman.
Ketika ia pulang kampung, ia memiliki investasi yang dapat menopang hidupnya jika suatu saat ingin hidup berumah tangga.
Prima juga menambahkan, orangtua dan sanak saudaranya selalu aktif berkomunikasi dengan adiknya di Malaysia untuk menanyakan kondisi mereka. Keluarga selalu memberi suport agar ia bekerja dengan baik, menjaga diri serta tertib menggunakan uang hasil kerja. Lewat komunikasi seperti ini membuat adiknya serius bekerja. (Laporan Reporter POS- KUPANG.COM, Teni Jenahas)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/kisah-sukses-tki-di-malaysia.jpg)