Renungan Kristen Protestan
Renungan Kristen Protestan 8 Oktober 2019 :Periksa Diri sebelum Periksa Sesama
Larangan menghakimi ini kelihatannya ditujukan kepada para ahli Taurat dan orang Farisi, dan / atau orang-orang yang segolongan dengan mereka.
Yang satu lagi memiliki balok (dokos=balok yang biasanya dipakai sebagai penyangga bangunan.
Orang yang punya balok ini ingin menolong untuk mengeluarkan serbuk kayu dimata saudaranya - terlihat mulia sekali.
Tetapi masalahnya bagaimana mungkin dia bisa melihat serbuk kayu itu, kalau ada balok didepannya.
Yang harus dia buat adalah memindahkan dulu balok itu, baru menolong saudaranya mengeluarkan serbuk kayu.
Kalau kita mau jujur minimal pada diri sendiri, Banyak kali hal ini. Kita lebih suka untuk melihat serbuk kayu dimata saudara kita dari pada memindahkan balok didepan kita.
Kita lebih suka mengkritik dan bahkan cenderung mencari-cari kesalahan orang lain tanpa lebih dahulu memeriksa diri kita.
Sikap ini secara terang-terangan ditentang oleh Yesus.
Dalam ayat ke 5, Yesus katakan `hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dimatamu supaya engkau bisa dengan jelas mengeluarkan selumbar dimata saudaramu'.
Bacaan FT ini masih sangat relevan bagi kita. Sebagai umat Tuhan kita perlu saling mengingatkan satu dengan yang lain.
Tetapi yang menarik adalah sebelum kita mengingatkan kita perlu memeriksa diri supaya kita sama2 ada dalam kekudusan hidup bersama Tuhan.
Ayat 3-5 memberikan aturan sebelum menghakimi: Tempatkan diri kita diposisi orang yg kita hakimi Kita harus mempunyai motivasi yang benar, yaitu kasih.
a) Kalau kita mau mengkritik / menegur tetapi dalam hati kita tidak ada kasih maka sebaiknya kita membatalkan rencana untuk menegur itu.
Kalau kita menegur dengan motivasi kasih maka kita akan menegur untuk kebaikan orang yang kita tegur.
Teguran yang diberikan hanya untuk melampiaskan kejengkelan jelas tidak diberikan dengan kasih.
b) Kritikan baru boleh diberikan setelah kita mengetahui duduk perkaranya dengan benar / jelas. Bdk. Yoh 7:24 - "Janganlah menghakimi menurut apa yang nampak, tetapi hakimilah dengan adil.'".
Jadi, jangan mengkritik hanya karena mendengar kabar angin, atau pada waktu kita hanya tahu sebagian dari fakta-fakta yang ada.
Pikirkan dampak penghakiman kita : pikirkan : apa yang akan dirasakan ketika dihakimi?, apa manfaatnya bagi saya?
Andaikan hal yang sama terjadi pada saya apakah saya bisa menerimanya?
Ingat bahwa ukuran yg sama akan diujurkan pada kita - pastikan tidak melakukan hal yg sama
Kritikan baru boleh diberikan setelah kita mengintrospeksi diri sendiri (ay 3-5).
Soli Deo Gloria
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/pdt-juditha-follabessy-msi.jpg)