Renungan Kristen Protestan
Renungan Kristen Protestan 8 Oktober 2019 :Periksa Diri sebelum Periksa Sesama
Larangan menghakimi ini kelihatannya ditujukan kepada para ahli Taurat dan orang Farisi, dan / atau orang-orang yang segolongan dengan mereka.
Renungan Kristen Protestan 8 Oktober 2019
Oleh Pdt. Juditha Follabessy, M.Si
Pendeta GMIT pada Kefas Kampung Baru Oetete Kupang
Periksa Diri Sebelum Periksa Sesama
(Matius 7:1-5)
Ada sepasang suami-istri yang biasa menghabiskan waktu mereka dengan ngobrol di dapur. Tempat ini menjadi favorit karena ada sebuah jendela kaca yang menhadap ke halaman di samping rumah.
Suatu kali saat mereka sedang santai ditempat itu, sang istri melihat tetangga sebelah rumahnya sedang menjemur pakaian.
Lalu ia pun berkata : ibu A cucinya tidak bersih yah. Masa baju masih kotor sudah dijemur.
Hal ini berlansung beberapa kali.
Pada suatu kali, sang istri memberikan komentar sedikit berbeda ketika melihat tetangga mereka menjemur pakaian.
Nah..ini baru betul. Pakaiannya sudah bersih. Pasti dia sudah tahu cara mencuci dengan benar.
Lalu sang suamipun menjawab; bukan ibu A yang sudah tahu cara mencuci yang benar.
Tetapi jendela dapur kita yang baru saya bersihkan sehingga mama bisa melihat dengan jelas.
Jadi selama ini, bukan ibu A yang menjemur pakaian masih kotor tetapi jendela kita yang kotor .
Ilustrasi tadi mau menjelaskan bahwa banyak kali kita mengeluarkan komentar yang tanpa kita sadari merupakan penghakiman bagi sesama pahadal kita belum tahu dimana letak persoalan yang sebenarnya.
Kita terlalu cepat untuk menghakimi apa yang dilakukan orang lain tanpa terlebih dahulu mengecek kebenarannya.
Hal inilah yang ungkapkan Yesus dalam salah satu khotbah di bukit. Ada 2 poin yang bisa kita pelajari dalam perikop ini.
1.Tidak menghakimi dengan sembarangan (1-2)
Yesus memberikan perintah ; `jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.'
Larangan menghakimi ini kelihatannya ditujukan kepada para ahli Taurat dan orang Farisi, dan / atau orang-orang yang segolongan dengan mereka.
Kenapa demikian?
a) Menganggap diri sendiri benar.
contoh penghakiman yang salah yang dimaksudkan oleh Yesus, yaitu orang Farisi yang berdoa di Bait Suci dan berkata:
"Ya Allah, aku mengucap syukur kepadaMu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini" (Luk 18:11).
Di balik penghakiman yang salah ada `self-righteous spirit' (= roh yang menganggap diri sendiri benar). Karena itu Yesus menambahkan Mat 7:3-5 / Luk 6:41-42.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/pdt-juditha-follabessy-msi.jpg)