Vokalis Ananda Badudu Rekan Duet Kakak Isyana Ditangkap Polisi, Danai Demo Mahasiswa di Senayan?

Vokalis Ananda Badudu Rekan Duet Kakak Isyana Ditangkap Polisi, Danai Aksi Demo Mahasiswa?

Vokalis Ananda Badudu Rekan Duet Kakak Isyana Ditangkap Polisi, Danai Demo Mahasiswa di Senayan?
Kolase/Instagram via Grid.ID
Vokalis Ananda Badudu Rekan Duet Kakak Isyana Ditangkap Polisi, Danai Aksi Demo Mahasiswa? 

"BAP belum berlangsung, polisi masih apel. Tim kuasa hukum sudah standby," kata Puri.

Siapa Ananda Badudu?

Vokalis Ananda Badudu pernah menjadi reporter Tempo dan juga Vice. Setelah itu, dia bergabung ke lembaga Amnesty International.

Selama di Tempo, Ananda Badudu pernah mendapat tugas untuk meliput di Polda Metro Jaya.

Cucu dari penyusun kamus Bahasa Indonesia, JS Badudu, ini pun berkarya di jalur seni dengan mendirikan band Banda Neira bersama temannya, Rara Sekar.

Rupanya Ananda Badudu merupakan sosok di balik penggalangan dana yang dimanfaatkan demi berjalannya aksi mahasiswa.

Pengumpulan dana itu dilakukan dalam situs Kitabisa.com yang dilakukan sejak Minggu (22/9/2019).

Dilansir dari Grid.ID, hingga hari ini (25/9/2019) dana yang terkumpul sudah mencapai Rp 175 juta.

Ada sekitar 2129 donasi dari masyarakat yang mendukung aksi mahasiswa itu.

Dana yang sudah terkumpul
tangkapan layar dari situs KItabisa.com

Dalam keterangan situs penggalangan dana itu, Ananda menjelasakan bahwa uang tersebut akan dialokasikan untuk 3 keperluan selama aksi mahasiswa berlangsung.

Keperluan itu meliputi makanan, minuman dan perangkat pendukung seperti mobil komando.

Meski begitu dalam keanyataannya tak hanya 3 hal tersebut yang bisa diakomodir oleh dana yang terkumpul.

Dalam update-an terakhir di laman kampaye Kitabisa.com dana tahap ketiga akan digunakan untuk alat kesehatan.

Contohnya seperti untuk biaya ambulans, kaleng oksigen, dan biaya rumah sakit untuk mahasiswa yang dilarikan ke rumah sakit.

Sepanjang tadi malam, dalam update Twitternya @anandabadudu, ia berbagi update terkait pengiriman ambulans ke berbagai wilayah aksi mahasiswa.

Wilayah-wilayah itu antara lain Semanggi, Satdion Gelora Bung Karno (GBK) hingga seputaran Gedung TVRI.

Awal penggalangannya Ananda hanya menargetkan dana Rp 50 juta.

Kendatipun begitu, hingga kampanye ditutup dana yang terkumpul sudah mencapai Rp 175.696.688.

Bagi kalian penikmat musik indie, nama Ananda Badudu mungkin sudah tak asing lagi.

Yup! dia adalah salah satu personil dari band Banda Neira.

Dilansir dari Tribun Jakarta, Ananda sempat berkiprah di jalur musik dengan kakak dari penyanyi Isyana Sarasvati, Rara Sekar.

Grup Banda Neira naik daun sekitar tahun 2012, namun sayang akhirnya memutuskan untuk bbar tahun 2016.

Meski begitu baik Rara maupun Ananda Badudu masih aktif dalam dunia musik.

Siapa sangka selain dunia seni musik, Ananda Badudu juga pernah terjun ke dunia jurnalistik.

Ia ternyata pernah menjadi wartawan Tempo.

Di akun LinkedInnya ia tercatat pernah menjadi wartawan di PT Tempo Inti Media Tbk.

Ya Ananda Badudu juga bisa dikatakan bukan sembarang orang.

Kompas.com mewartakan jika ia adalah cucu dari ahli bahasa kenamaan sekaligus Guru Besar Fakultas Sastra Univeristas Padjajaran, JS Badudu.

JS Badudu telah menelurkan berbagai karya yang bermanfaat bagi pendidikan, contohnya seperti Kamus Umum Bahasa Indonesia (1994) revisi kamus Sutan Muhammad Zain.

Ada juga Kamus Kata-kata Serapan Asing yang terbit pada 2003 dan Kamus Peribahasa (2008).

Sebelum menyandang gelar sebagai Guru Besar Fakultas Sastra Universitas Padjajaran, JS Badudu mendapatkan titel Doktor dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia pada tahun 1975.

Kasus Dandhy Dwi Laksono

Sutradara, aktivis, dan jurnalis, Dandhy Dwi Laksono ditangkap polisi di rumahnya pada Kamis (26/9/2019) malam.

Menurut kuasa hukum Dandhy Dwi Laksono, Alghifari Aqsa, Dandhy Dwi Laksono ditangkap polisi dengan tuduhan menebarkan kebencian berdasarkan SARA.

"Dianggap menebarkan kebencian berdasarkan SARA melalui media elektronik, terkait kasus Papua," ujar Alghifari, yang dihubungi Kompas.com pada Jumat (27/9/2019) dinihari.

Secara spesifik, Dandhy Dwi Laksono dituding melanggar Pasal 28 Ayat (2) jo Pasal 45A Ayat (2) Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Aktivis Dandhy Dwi Laksono saat ini berada di Polda Metro Jaya untuk menjalani pemeriksaan.

Sejumlah aktivis dan pegiat hak asasi manusia saat ini mendampingi Dandhy Dwi Laksono di sana.

Ya, Dandhy Dwi Laksono dikenal publik sebagai pendiri WatchDoc, rumah produksi yang menghasilkan film-film dokumenter dan jurnalistik.

Sebagai sutradara, dia pernah membesut sejumlah film dokumenter yang dianggap kontroversial seperti "Sexy Killers" dan "Rayuan Pulau Palsu".

Anggota Aliansi Jurnalis Independen ini juga dikenal sebagai aktivis yang kerap mengkritik pemerintah, termasuk Presiden Joko Widodo.

Alghifari yang juga Direktur Eksekutif LBH Jakarta mengecam penangkapan Dandhy Dwi Laksono, apalagi dilakukan malam hari.

Penangkapan ini dianggap berlebihan, karena semestinya Dandhy Dwi Laksono dipanggil terlebih dulu sebagai saksi.

"Ini tindakan berlebihan. Kalau mau diambil keterangan, panggil saja sebagai saksi, kan bisa siang," ujarnya.

Jurnalis sekaligus aktivis HAM Dandhy Laksono dalam sebuah acara debat dengan politisi PDI-P Budiman Sudjatmiko di auditorium Visinema, Jakarta Selatan, Sabtu (21/9/2019).
Jurnalis sekaligus aktivis HAM Dandhy Laksono dalam sebuah acara debat dengan politisi PDI-P Budiman Sudjatmiko di auditorium Visinema, Jakarta Selatan, Sabtu (21/9/2019).(KOMPAS.com/KRISTIAN ERDIANTO)

Kronologi Penangkapan Dandhy Dwi Laksono

Sutradara dan jurnalis Dandhy Dwi Laksono ditangkap polisi pada Kamis (26/9/2019) malam. 

Istri Dandhy Dwi Laksono, Irna Gustiawati mengatakan, suaminya ditangkap di kediaman mereka di Bekasi, Jawa Barat.

Menurut Irna, penangkapan Dandhy Dwi Laksono disebabkan unggahan sutradara yang menggarap "Sexy Killers" itu di media sosial.

"(Polisi) membawa surat penangkapan karena alasan posting di media sosial Twitter mengenai Papua," kata Irna yang dihubungi Kompas.com pada Kamis malam.

Kronologi penangkapan, menurut dia, bermula saat Dandhy Dwi Laksono baru tiba di rumah sekitar pukul 22.30 WIB. Sekitar 15 menit kemudian, terdengar pintu rumah digedor.

"Pukul 22.45 ada tamu menggedor pagar rumah lalu dibuka oleh Dandhy," ujar Irna.

Rombongan yang dipimpin seorang bernama Fathur itu kemudian mengaku akan menangkap Dandhy Dwi Laksono karena unggahan mengenai Papua.

Sekitar pukul 23.05, tim yang terdiri dari empat orang membawa Dandhy Dwi Laksono ke Polda Metro Jaya dengan mobil Fortuner bernomor polisi D 216 CC.

"Petugas yang datang sebanyak empat orang. Penangkapan disaksikan oleh dua satpam RT," ujar Irna. (Kompas.com/Grid.ID)

Editor: Bebet I Hidayat
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved