Ustadz Abdul Somad
Ustadz Abdul Somad Naik Wings Air Grup Lion, Sebut Pesawat Panas, UAS Ungkap Alasan, Netizen Kaget
Ustadz Abdul Somad Naik Wings Air Grup Lion, Sebut Pesawat Panas, UAS Ungkap Alasan, Netizen Kaget
Penulis: Hasyim Ashari | Editor: Hasyim Ashari
Ustadz Abdul Somad Naik Wings Air Grup Lion, Sebut Pesawat Panas, UAS Ungkap Alasan, Netizen Kaget
POS-KUPANG.COM - Ustadz Abdul Somad Naik Wings Air Grup Lion, Sebut Pesawat Panas, UAS Ungkap Alasan, Netizen Kaget
Ustadz Abdul Somad atau yang biasa disapa UAS mengunggah dirinya sedang berada di dalam pesawat.
Dari logo yang terlihat, Ustadz Abdul Somad UAS sepertinya naik pesawat Wings Air Grup Lion Air.
Berada di dalam pesawat, Ustadz Abdul Somad UAS mengatakan kalau di dalam pesawat udaranya panas.
Dan Ustadz Abdul Somad UAS pun menjelaskan kenapa kondisi di dalam pesawat panas.
Hal itu ia jelaskan di dalam akun instagram miliknya, @ustadzabdulsomad_official.
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Sahabat UAS
Kenapa psawat ni panas?
Karena kipasnya di luar
• Ustadz Maaher Ogah Nonton The Santri Ustadz Yusuf Mansur, Ikut Film Ustadz Abdul Somad & Adi Hidayat
• BERITA POPULER: Ustadz Maaher Atthuwalibi Sindir Ustadz Yusuf Mansur & Bursa Transfer Liga 1
Tentu saja postingan Ustadz Abdul Somad UAS ini menantik komentar beragam dari netizen.
@alvin_guvito: masuk akal stadz lucu tapi gak dusta
@rizkyginardi_: Berarti tuan guru salah naik harusnya diluar biar adem
@dewissafitrii: Guyonannya bagus lucu tpi tidak bohong~
@namirrraaa: Sa ae candaan nya tad
@liputanngawur: Ngawur juga ustadz
@hamdani_nur: Kalau kipas yg itu ada di dalam, pas nyala kelar semua penumpangnya
@basir27587: Masya Allah.. kirain gak akan ngelawak gini tadz Barakallah fiik
@sepriandi_rz: Walaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, fii amanillah ustadz. Kami tunggu kajianmu nanti malam
• Memanas Hubungan Ustadz Yusuf Mansur & Ustadz Maaher Atthuwalibi Dipicu Wirda Mansur Film The Santri
• Habibie Meninggal, Lihat yang Dilakukan Ustadz Abdul Somad, Ustadz Adi Hidayat & Ustadz Yusuf Mansur
Diperiksa Dokter
Ustadz Abdul Somad mengatakan, jika seorang perempuan sakit maka yang mengobati harus dokter perempuan.
Pun demikian juga jika pasien yang ditangani laki-laki, maka dokter yang memeriksa harus laki-laki.
Hal itu disampaikan Ustadz Abdul Somad yang bertanya, apa hukum melakukan tindakan kepada yang bukan mahrom.
"Kalau yang sakit laki-laki, dokternya perempuan, terjadi hal-hal yang tidak diinginkan," kata Ustadz Abdul Somad menjawab pertanyaan jamaah.
"Ustadz kok tahu? Saya pernah mengalami," lanjut UAS.
Ustadz Abdul Somad menceritakan pengalamannya saat sakit maagh beberapa waktu lalu.
"Tiba-tiba keluar asam lambung, maka bekeringat peluh. Kalau jalan musti pegang ke dinding. Begoyang dunia ini," kata UAS.
Dirinya kemudian dibawa ke rumah sakit.
• Jangan Khawatir, Ternyata UU KPK Hasil Revisi Bisa Dibatalkan, Lakukan 2 Cara Ini
• Sophia Latjuba Balas Postingan Gading Marten dengan Sebutan Papa, Ada Apa Eks Ariel NOAH dan Gisella
"Entah jamaah ni mau ngerjai saya, entah, dulu waktu belum nikah. Dikasinya dokter anak gadis," cerita UAS.
Dokter tersebut kemudian mengecek kondisi Ustadz Abdul Somad.
Dipegang dokter itulah jantung (dada)nya.
Begitu keluar dari rumah sakit dirinya ditanya jemaah.
"Bagaimana perasaan pas Ustadz? Begoncang Duniani Kurasa," kata UAS disambut tawa jamaah.
UAS mengatakan, oleh sebab itu akan datang, dokter laki-laki dengan laki-laki. Dokter perempuan dengan dokter perempuan.
Menurutnya, sekarang, tak seimbang antara banyaknya dokter SPOG, spesialis kandungan dengan perempuan yang mengandung.
Karena tak seimbang banyaknya dokter perempuan dengan perempuan yang mengandung, akhirnya mau tak mau dipakailah dokter laki-laki.
"Jadi hukum asalnya dokter perempuan untuk perempuan dan dokter laki-laki untuk laki-laki," katanya.
Tapi, kalau darurat tingkat tinggi, pilihannya hanya dua antara mati atau dokter laki-laki, maka tak boleh pilih mati.
"Tak boleh pilih mati," tegas Ustadz Abdul Somad.
Solusinya, kata Ustadz Abdul Somad, masukkan anak-anak perempuan ke fakultas kedokteran.
"Supaya mereka bisa beramal, menolong pasien perempuan, muslimah," ujarnya.
Nonton Drama Korea
Ustadz Abdul Somad Sebut Nonton Drama Korea Kafir, Begini Catatan KH Imam Jazuli Pengurus PBNU
Oleh KH. Imam Jazuli, Lc., M.A
• Ramalan Zodiak Kamis 19 September 2019, Cancer Perlu Waspada, Capricorn Realistis, Zodiak Lain?
• Feri Amsari Sebut Tahapan Revisi UU KPK Cacat Hukum, Masyarakat Sipil Bisa Gugat ke MK
Sangat disayangkan, wacana agama tampil seram. Ustad Abdul Somad ( UAS ) terjebak dalam arus tersebut.
Setelah ujaran bernuansa SARA, yakni patung Salib dihuni jin kafir, kali ini UAS menilai penggemar K-Pop dan Drama Korea bagian dari kafir.
Hanya bermodal satu kosa kata ‘kafir’, alumni Universitas al-Azhar itu memerankan diri bagaikan da’i multitalenta.
Seni dan kesenian, seperti musik, tari dan film, dikategorisasi menjadi Islami dan kafir.
Like and dislike menjadi metode penilaiannya.
Bentuk-bentuk kesenian yang disukai disebut Islami dan yang tidak disukainya dituduh kafir.
Sehingga penggemar kesenian kafir pun menjadi bagian dari kafir.
Pandangan UAS bisa dirunut pada sebuah hadits yang berstatus kontroversial.
Rasulullah saw bersabda:
“Aku diutus menggunakan pedang, hingga Allah disembah tanpa sekutu, rejekiku berada di bawah bayang-bayang tombak, kehinaan dan kerendahan teruntuk orang-orang yang menyalahi perintahku. Barang siapa menyerupai suatu kaum, dia bagian dari mereka,” (HR. Ahmad, Musnad, 5114; Abu Daud, Sunan, 4031; Baihaqi, Syu’b al-Iman, 1199; Thabrani, Musnad al-Syamiyyin, 216, etc).
Sanad hadits di atas kontroversial. Al-Iraqi menyebutnya shahih (Takhrij li al-Ihya’, 851), jayyid menurut Ibnu Taimiyah (al-Iqtidha’, 269),
sholih menurut al-Dzahabi (al-Sair, 15/509), hasan menurut Ibnu Hajar (Fath al-Bari, 10/271), dha’if menurut al-Thahawi (al-maqashid al-hasanah, 1101), bahkan laisa bi syai, hadits yang tidak berguna, menurut Abu Hatim ar-Razi (al-‘ilal, 1/319).
Di dalam sanad hadits “man tasyabbaha bi qaumin fa huwa minum” terdapat seorang perawi bernama Az-Zabidi, yakni Muhammad bin al-Walid as-Syamiy.
Dia suka berdusta (annahu yakdzibu). Hadits kontroversial ini, menurut ulama, bagian dari angan-angannya, fa la’alla hadzal haditsa min awhamihi (al-hukm al-jadirah bil idza’ah, 50-56).
UAS mirip dengan al-Walid as-Syamiy yang suka berangan-angan.
Bagaimana mungkin penggemar K-Pop dan Drama Korea disebut bagian dari kafir, sedangkan UAS hanya bermodal memelintir konteks hadits, dari hadits jihad menjadi komentar tentang kesenian.
Dunia musik, tari-tarian, dan perfilman dituduh mengandung muatan nilai-nilai keimanan dan kekufuran.
Pendapat UAS tidak didukung oleh sumber bacaan yang luas.
Dalam sejarah kesenian, art for art’s sake (l’art pour l’art) menjadi slogan yang popular sudah sejak abad ke-19.
Nama-nama seniman seperti Harry Carlson, John Atwood, Bertha Delisi, Alice Zimmermann, Patrick Duchamp, Max Rey, Jing Wu, Otto Wagner, Ursula Larsen, Sofia Rossi, dan Sofia Delano menjadi pioner pengusung gerakan seni bebas nilai (Antoon van den Braembussche, Thinking Art, 2009: 88). Mustahil senian modern dicampur aduk dengan keimanan dan kekufuran seseorang.
UAS tampak suka dan tidak pernah kapok mengajarkan keimanan Islam yang rentan dan riskan.
Setidaknya ada dua alasan mengapa penggemar musik K-Pop dan drama Korea tetap muslim dan bukan bagian dari kafir.
Pertama, apresiasi tidak lantas mengubah identitas.
Saya kagum dan mengapresiasi pemikiran UAS tidak lantas saya jadi bagian dari UAS.
Kedua, seni dan kesenian dilahirkan dari estetika, bukan dari teologi.
Kekaguman pada musik, performan tari, dan film drama Korea adalah kekaguman estetis, bukan kekaguman teologis.
Bahkan, apresiasi tersebut hanya satu dari sepersekian lokus yang terdapat di dalam otak dan kesadaran manusia, bukan satu-satunya.
Jika satu lokus tersebut mengubah keseluruhan maka apabila UAS menggunakan teknologi android ciptaan orang kafir, pada saat itu pula, dia telah jadi bagian dari orang kafir.
Tersebarnya ceramah-ceramaah keagamaan UAS melalui media sosial bisa dikatakan jasa orang-orang kafir yang menciptakan teknologi.
Kesenian dan teknologi tidak punya agama.
Karenanya, da’i-da’i selebritis harus lebih seksama berfatwa, apalagi memanfaatkan ayat al-Quran dan Hadits Nabi tanpa didukung referensi yang kokoh, baik dari sumber klasik dan modern.
Fatwa macam itu akan merugikan Islam, mereduksi pemikiran keislaman, dan pucaknya mencemarkan nama baik umat Islam.
Rasulullah saw telah mengingatkan:
“man fassaral qur’ana bi ra’yihi fal yatabawwa’ maq’adahu minan nar (barang siapa menafsiri al-Quran dengan akal pikirannya, maka ambillah tempat duduk di neraka),” (HR. Tirmidzi). Pikiran yang dimaksud dalam hadits adalah nafsu syahwat, tanpa ilmu pengetahuan, tanpa hidayah Tuhan.
UAS tampak terburu-buru.
Kesannya, ia ingin menghakimi layaknya seorang mujtahid.
Dengan amat mudahnya dia mengatakan penggemar drama Korea sebagai bagian dari kafir.
Padahal, landasan al-Quran dan Haditsnya tidak kuat. Dalil-dalilnya masih kontroversial di kalangan para ulama hadits sendiri.
Ditambah lagi, orang-orang abad modern memaknai seni dan kesenian jauh melampaui pikiran UAS. Seni tidak punya agama.
Seni lahir dari estetika, tentang keindahan dan keburukan, bukan tentang iman dan kafir.
Fenomena pendangkalan akidah, hukum fiqih, dan pemahaman keagamaan seperti ini secara umum akan terus berulang, berkali-kali.
Ulama-ulama besar dan pondok-pondok pesantren harus segera ‘turun gunung’ secara lebih massif lagi.
Fenomena ini hanya akan berakhir ketika Islam disebarluaskan oleh orang-orang berilmu luas, guru-guru agama yang mumpuni, bukan da’i-da’i selebritis yang mengejar popularitas dengan menebar kontroversi.
*Alumni Universitas al-Azhar, Mesir, Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Wakil Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia), Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015.
* Ustadz Abdul Somad (UAS) singgung Film The Santri Wirda Mansur dan Gus Azmi, ini balasan Ustad Yusuf Mansur.
Film The Santri yang belakangan ini jadi kontroversi tersebut ikut dikomentari UAS.
Tanggapan Ustadz Abdul Somad tentang film dengan sutradara Livi Zheng melalui unggahan video di akun Instagram @ustadzabdulsomad_official.
Film yang mengisahkan cerita santri ini diperankan oleh Wirda Mansur, Gus Azmi, Veve Zulfikar, hingga Emil Dardak.
Ayah dari salah satu pemeran Film The Santri, Wirda Mansur, yakni Ustad Yusuf Mansur membalas tanggapan UAS.
Ustad Yusuf kembali mengunggah video tanggapan Ustadz Abdul Somad melalui akun Instagram-nya @yusufmansurnew.
Ustad Yusuf Mansur pun menuliskan balasan terkait tanggapan UAS terkait film yang juga diperankan putrinya Wirda Mansur tersebut.
“Ada nasihat guru qt, UAS. Saya&Wirda, pmbelajar. Lg trs bljr knn kiri,” tulisnya.
“Pokoknya mari kita trs belajar. Belajar teruuuussssss... Trmasuk fiqh yg luas dan berwarna. Bersihin hati aja. Bismillaah,” tulis Ustad Yusuf Mansur.
Tanggapan UAS Tentang Film The Santri
Ustadz Abdul Somad (UAS) menanggapi film The Santri yang kini ramai jadi perbincangan.
Tanggapan UAS disampaikan melalui unggahan video Instagram di akun Instagram resminya @ustadzabdulsomad_official.
Dalam unggahan video itu, Ustadz Abdul Somad disampaikan menjawab salah satu jamaah yang bertanya mengenai film yang diperankan Guz Asmi dan Wirda Mansur.
Wirda diketahui merupakan anak dari Ustad Yusuf Mansur.
“Apa pendapat Ustadz tentang film The Santri yang tidak mencerminkan kehidupan pesantren yang sebenarnya. Dan disutradarai oleh Livi Zheng yang kontroversi itu," kata UAS membacakan pertanyaan jamaah.
“Kalian mancing-mancing aja. Udah banyak komentar-komentar. Ikuti aja yang udah ada itu. Saya yang beban lama aja belum selesai," kata UAS disambut tawa jamaah.
“Saya tak nonton filmnya sampai habis. Baru menengok trailernya aja,” ujar Ustadz Abdul Somad lagi.
Namun, Ustadz Abdul Somad menyiratkan tak ingin langsung membahas film The Santri.
Tapi di dalam itu yang bisa dirinya komentari ada dua hal. Pertama terkait hukum masuk ke rumah ibadah.
“Karena Nabi SAW tak mau masuk ke dalam tempat kalau di dalam itu ada patung berhala,” kata Ustadz Abdul Somad.
"Maka dalam Islam, mazhab Syafii mengharamkan masuk ke dalam rumah ibadah (yang) di dalamnya ada berhala," tegas UAS menambahkan.
Kedua, tentang masalah laki-laki dan perempuan berdua-duaan bukan muhrim.
"Pandang-pandangan. Oleh sebab itu maka, kita jaga anak cucu kita dari perbuatan-perbuatan maksiat," katanya.
Bahwa ada misi-misi sesuatu dibalik ini semua, Ustadz Abdul Somad mengatakan wallahu alam bis shawab.
"Kita akan diminta pertanggung jawaban di hadapan Allah SWT," katanya.
UAS menegaskan, Islam tak perlu diajari bagaimana berinteraksi sosial dengan saudara kita non muslim.
Karena kita sudah lama bertetangga.
"Apalagi orang Tanjung Pinang. Seandainya orang Tanjung Pinang ini ekstrim, takkan ada orang Tionghoa di Tanjung Pinang," paparnya.
"Kita semuanya bisa menerima. Siapapun yang datang semua bertetangga berkawan, bersahabat," kata Ustadz Abdul Somad.
Tapi kalau sudah dalam masalah ibadah ritual tidak ada tawar-menawar, kata UAS seraya mengutip surat Al Ikhlas.
"Sekarang banyak yang tak bisa membedakan, kebablasan. Tidak bisa membedakan mana toleransi, mana telor asin. Harus bisa dibedakan. Jangan karena toleransi mengorbankan keyakinan, akidah, anak-anak kita. Naudzubillah
"Dan orang-orang yang pernah di pesantren pun, ketika menonton itu mengatakan ini bukan anak pesantren. Anak pesantren tak begitu," pungkas UAS.
Tentang Film The Santri
Film The Santri disutradarai Livi Zheng. Film yang menceritakan tentang kehidupan para santri ini diperankan oleh Gus Azmi, Veve Zulfikar, Wirda Mansur, dan Emil Dardak.
Meski belum diproduksi, trailer film The Santri sudah dilempar ke publik.
Sejak dipublish tanggal 9 September 2019 di kanal Youtube NU Channel, trailer film The Santri sudah dilihat 1,2 juta kali.
Beberapa waktu lalu, PBNU bersama dengan Livi Zheng dan Komposer Purwacaraka menggelar konferensi pers terkait film The Santri.
Livi yang menyutradari film tersebut mengatakana bahwa proses syuting baru akan dilakukan pada Oktober mendatang.
Lokasi syuting akan diadakan di dua negara yakni Indonesia dan Amerika Serikat.
Film yang dibintangi Wirda Mansur tersebut diperkirakan akan tayang pada April 2020.
Sementara untuk keterlibatan dalam film, saat itu Livi mengaku belum memutuskan.
Ketua Umum PBNU Said Aqil Siroj mengatakan bahwa film tersebut bisa menjadi media dakwah Islam.
Konteks yang diangkat yaknsi soal pendidikan, budaya, akhlak.
Film tersebut juga diklaim Siad bisa memperkokoh Islam di nusantara.
“Ciri khas Islam Nusantara, Islam yang harmonis dengan budaya, kecuali budaya yang bertentangan dengan syariat. Melalui film ini kita dakwahkan Islam yang santun, menjadikan Indonesia kiblat peradaban bukan kiblat solat ya," katanya di Kantor PBNU, Kramat Raya, Jakarta, Senin (9/9/2019).
Artikel ini telah tayang di tribunpontianak.co.id dengan judul "Ustadz Abdul Somad Tanggapi Film The Santri Garapan Livi Zheng, Dibintangi Anak Ustadz Yusuf Mansur"
Sebagian Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Catatan KH Imam Jazuli Tentang Kontroversi Ceramah UAS