Tekan Penyebaran HIV/AIDS Kelurahan Naikoten II dan WPA Gencar Sosialisasi dan Ambil Sampel Darah

pihak Kelurahan Naikoten II bersama WPA melakukan mobile visity pengambilan sampel darah dilakukan pemeriksaan.

Tekan Penyebaran HIV/AIDS Kelurahan Naikoten II dan WPA Gencar Sosialisasi dan Ambil Sampel Darah
POS KUPANG/LAUS MARKUS GOTI
Ando Amalo Lurah Naikoten II, Kota Kupang. 

Tekan Penyebaran HIV/AIDS Kelurahan Naikoten II dan WPA Gencar Sosialisasi dan Ambil Sampel Darah

POS-KUPANG.COM | KUPANG - Wilayah Kota Kupang menempati urutan pertama penderita HIV/AIDS terbanyak di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Data yang diterima POS-KUPANG.COM dari Dinas Kesehatan Kota Kupang per Agustus 2019 ada 1.509 penderita HIV/AIDS di Kota Kupang.

Menyikapi naiknya jumlah penderita HIV/AIDS di Kota Kupang, pihak Kelurahan Naikoten II berkomitmen lebih gencar melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang bahaya HIV/AIDS dan penularannya.

Hal itu disampaikan oleh Lurah Naikoten II, Ando Amalo, saat dihubungi POS-KUPANG.COM, Selasa (10/9/2019).

Pihak Kelurahan, kata Ando Amalo menggandeng Komunitas Warga Peduli Aids (WPA).

"Selama ini kami bersama WPA lakukan sosialiasi kepada masyarakat tentang bahaya HIV/AIDS dan tentu akan lebih gencar lagi, mengingat penderita HIV/AIDS di Kota Kupang naik," ungkapnya.

Selain melakukan sosialisasi, kata Ando Amalo, pihak Kelurahan Naikoten II bersama WPA melakukan mobile visity pengambilan sampel darah dilakukan pemeriksaan.

Ia mengatakan, untuk sementara penderita HIV/AIDS di Kelurahan Naikoten II sebanyak 4 orang, di antaranya 2 orang laki-laki dewasa, 1 orang anak laki-laki dan 1 perempuan dewasa.

"Untuk sementara itu terdata, itu diketahui karena mereka ini terbuka dan mau diperiksa dan saat ini dilakukan pendampingan oleh WPA," ungkap Ando Amalo.

Kendala yang dihadapi, kata Ando, hadapi, yakni, cukup banyak warga yg enggan diambil darahnya untuk diperiksa. Selain itu masih ada warga yang dicurigai penderita HIV/AIDS tetapi belum mau terbuka sehingga pihak kelurahan bersama WPA kesulitan melakukan penanganan.

Ansy Lema: 15.000 Mahasiswa Indonesia Mengenyam Pendidikan di China

"Kendala lainnya adalah pendanaan. WPA dibatasi dengan anggaran yang sedikit dibanding dengan pekerjaan mereka yang cukup beresiko," pungkas Ando.(Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Laus Markus Goti)

Penulis: Laus Markus Goti
Editor: Rosalina Woso
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved