Rabu, 13 Mei 2026

HUT SMAK Giovanni Kupang, Siswa Diajak Refleksikan Pendidikan Karakter Berbasis Iman

HUT SMAK Giovanni Kupang, siswa diajak refleksikan pendidikan karakter berbasis iman

Tayang:
Penulis: Gecio Viana | Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM/Gecio Viana
Foto bersama dalam HUT SMAK Giovanni Kupang Ke-57 di halaman SMAK Giovanni Kupang, Senin (9/9/2019). 

HUT SMAK Giovanni Kupang, siswa diajak refleksikan pendidikan karakter berbasis iman

POS-KUPANG.COM | KUPANG - Dalam moment HUT SMAK Giovanni Kupang Ke-57, para siswa diajak merefleksikan pendidikan karakter dengan berbasis pada iman sebagai budaya pendidikan Katolik, Senin (9/9/2019).

Demikian disampaikan Vikaris Jenderal (Vikjen) Keuskupan Agung Kupang, Romo Gerardus Duka, Pr dalam sambutannya di halaman SMAK Giovanni Kupang.

Menkopolhukam Wiranto: Papua dan Papua Barat Aman, tetapi Masih Ada Provokasi

"Saya mengajak anak-anak dalam HUT SMAK Giovanni ke-57 ini, untuk merefleksikan kembali untuk pendidikan karakter dengan berbasis pada iman sebagai budaya pendidikan Katolik," ujarnya.

Pihaknya meyakini, SMAK Giovanni Kupang dengan predikat unggul, harus juga unggul dalam bidang komunikasi, lingkungan hidup, sosial dan menjadi ahli dalam kemanusiaan.

Sehingga, tata kelola sekolah menjadi salah satu untuk membangun manusia unggul, atau seperti yang disebutkan Driyarkara, memanusiakan manusia muda.

Gubernur Papua Pusing Tahu 300 Mahasiswa Kembali ke Jayapura

"Driyarkara sudah menanamkan bahwa pendidikan Katolik merupakan pendidikan untuk memanusiakan manusia muda, di bidang etika moral dan lainnya," paparnya.

"Jadi saya mengajak anak-anak dalam HUT ke-57 dan menyongsong HUT SMAK Giovanni ke-60 nanti, kita tingkatkan unggul di bidang-bidang ini," harapnya.

Selain itu, budaya 'jongkok' hari ini lahir diakibatkan karena perkembangan teknologi yang mengharuskan manusia menggunakan komputer dan handphone sebagai alat komunikasi.

Namun demikian, alat komunikasi tersebut harus digunakan sebagai alat dan bukan tujuan.

"Padahal kita harus tegak, oleh karena itu saya mengajak anak-anak untuk menggunakan media tadi sebagai alat, bukan tujuan. Menggunakan alat tadi sebagai maximum Illud," paparnya.

Menurutnya, beberapa alat tersebut harus dijadikan sebagai alat evangelisasi, karena pendidikan Katolik adalah sebuah budaya iman.

"Sehingga jika kita ingin meningkatkan mutu karakter pendidikan dan mengabaikan tentang pendidikan sebagai budaya iman, nanti kita akan buat kepala kita ini penuh, tapi hati kita ini kosong," paparnya.

"Kepala kita tidak hanya penuh dengan bukan saja kebaikan-kebaikan tapi juga banyak sampah, tapi hati kosong. Sehingga harus seimbang," katanya.

Dikesempatan yang sama, Kepala Sekolah SMAK Giovanni Kupang, Romo Stefanus Mau, Pr dalam sambutannya mengatakan, momentum HUT sekolah tidak menghitung waktu dalam urutan kuantitas, akan tetapi kualitatif.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved