Suku Boti di TTS Menganut Kepercayaan Halaika

Suku boti dalam yang terletak di Desa Boti, Kecamatan Kie, Kabupaten TTS tidak memeluk salah satu dari enam agama

POS KUPANG/DION KOTA
Nampak Raja Boti, Namah Benu (kiri) dan anggota DPRD Kabupaten TTS, Hendrikus Babys (kanan) sedang berbincang di area kantor bupati lama 

Suku Boti di TTS Menganut Kepercayaan Halaika sebagai Agama Leluhur

POS-KUPANG.COM|SOE -- Suku boti dalam yang terletak di Desa Boti, Kecamatan Kie, Kabupaten TTS tidak memeluk salah satu dari enam agama yang diakui Negara Republik Indonesia.

Ada 76 kepala keluarga yang ada di suku boti dalam hingga saat ini masih menganut aliran kepercayaan Halaika.

Bukan tanpa alasan mengapa suku boti dalam lebih memilih untuk menganut aliran kepercayaan Halaika.

Menurut orang boti dalam, agama yang saat ini dianut orang Indonesia merupakan agama-agama yang datang dari luar Indonesia.

Bukan merupakan percayaan asli leluhur orang Indonesia. Oleh sebab itu, orang boti dalam memilih untuk menjaga dan melestarikan kepercayaan asli leluhur mereka.

"Leluhur kami sudah menganut Halaika dan kami terus melanjutkannya. Kami lahir, hidup dari kepercayaan Halaika dan mati dengan kepercayaan asli leluhur kami tersebut. Agama yang ada di Indonesia saat ini datang dari luar Indonesia bukan asli dari leluhur orang Indonesia. Kami memilih untuk menjaga kepercayaan asli leluhur kami," ungkap Raja Boti, Namah Benu dalam bahasa daerah yang diterjemahkan oleh anggota DPRD Kabupaten TTS Hendrikus Babys kepada pos kupang.com, Jumat (30/8/2019) pagi.

Menganut aliran kepercayaan Halaika membuat orang Boti dalam memiliki hubungan yang sangat dekat dengan alam.

Hal inilah yang membuat alam begitu murah hati dengan orang boti dalam. Bahkan, jika orang boti dalam meminta hujan, atau meminta hewan agar keluar dari hutan pun, pasti akan diberikan alam.
Orang boti dalam percaya jika manusia baik dengan alam, maka alam akan baik dengan manusia begitupun sebaliknya.

"Kalau tanah kami kering dan butuh hujan, kami minta agar alam menurunkan hujan dan alam akan memberikannya. Begitu pula kalau kami minta hewan untuk keperluan kami, maka alam lewat hutan akan mengeluarkan hewan untuk kami ambil," ujar Raja Benu.

Halaman
1234
Penulis: Dion Kota
Editor: Rosalina Woso
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved