Ahmad Suryawan: Anak Berpostur Pendek Belum Tentu Stunting

Kata Ahmad Suryawan: Anak bertubuh pendek belum tentu menderita Stunting

Ahmad Suryawan: Anak Berpostur Pendek Belum Tentu Stunting
POS-KUPANG.COM/Servatinus Mammilianus
Kegiatan Ikatan Dokter Anak Indonesia di Labuan Bajo 

Kata Ahmad Suryawan: Anak bertubuh pendek belum tentu menderita Stunting

POS-KUPANG.COM | LABUAN BAJO - Sekretaris Ikatan Dokter Anak Indonesia ( IDAI) Dr. dr. Ahmad Suryawan, menyampaikan bahwa anak yang berpostur pendek belum tentu mengalami Stunting sehingga perlu melalui tes.

Dia menyampaikan itu saat kegiatan IDAI di Hotel Silvia Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) pada Jumat (23/8/2019).

Kesaksian Ignas Lihat Sopir Dorong Pikap ke Laut di Pelabuhan Wuring, Maumere

Pertemuan itu membahas tentang masalah stunting yang dialami oleh sejumlah anak Balita di Indonesia.

"Anak- anak yang berpostur pendek belum tentu mengalami stunting. Genetik bawaan bisa terjadi. Harus melalui tes kliniks. Anak yang terkena stunting berdampak pada menurunnya tingkat kecerdasan," kata Ahmad.

Disampaikannya, maraknya informasi tentang masalah stunting akhir-akhir ini telah diikuti dengan penelitian ilmiah.

5 Kepala Daerah Ini Disebut Jadi Menteri di Kabinet Jokowi-Maruf Nomor 5 Paling Muda, Siapa Dia?

Dia menjelaskan, stunting merupakan kondisi di mana anak mengalami retardasi pertumbuhan linier dengan z-scor tinggi badan terhadap usia (HAZ) berada di bawah -2SD (<-2SD) yang disebabkan berbagai faktor kekurangan nutrisi-nutrisi kronis dan atau adanya infeksi kronis.

"Stunting di usia dini mempunyai konsekwensi jangka panjang terhadap kualitas kesehatan anak dan kualitas kemampuan perkembangan anak di masa depan," kata Ahmad.

Ditambahkannya, dampak stunting terhadap kesehatan anak jangka panjang bisa menjadi penyebab langsung dari gangguan tumbuh kembang.

Selain itu juga bisa menjadi faktor pemicu berbagai keadaan patologis yang berdampak pada gangguan tumbuh kembang jangka panjang.

Menyebabkan juga pada perkembangan kecerdasan anak karena gangguan pertumbuhan linier dan juga risiko adanya abnormalitas struktur dan fungsi otak.

"Intervensi yang bersifat kombinasi nutrisi dan stimulasi diharapkan mampu meminimalisir dampak stunting terhadap kecerdasan anak. Salah satu langkah paling efektif untuk mencegah stanting dan sekaligus mencegah dampaknya adalah upaya peningkatan pemberian ASI eksklusif pada anak usia dini," kata Ahmad.

Pada kesempatan itu Kepala Dinas (Kadis) Kesehatan Provinsi NTT Dr. drg. Dominggus Minggu Mere.M.Kes, menyampaikan bahwa pemerintah Provinsi NTT terus berupaya memberikan pendampingan kepada penderita stunting.

"Angka stunting di NTT mencapai 40% berdasarkan hasil riset dari para lembaga kesehatan. Upaya yang dilakukan Dinas Kesehatan NTT, bekerja sama dengan para dokter anak, terus merawat dan membantu memberi pendampingan nutrisi sehingga mampu menurunkan atau memulihkan kondisi pertumbuhan anak," kata Dominggus.

Targetnya kata dia dalam waktu 3 tahun ke depan NTT berusaha keras menurunkan setengah dari 40% angka stunting.

Dia berharap agar masyarakat NTT serius memperhatikan pola makan dengan asupan nutrisi yang bagus bagi anak-anak. (Laporan reporter pos-kupang.com, servatinus mammilianus).

Penulis: Servan Mammilianus
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved