AWAS Serangan Jantung - Saat Bermain Bola, Kiper Umur 40 Tahun Tiba-tiba Jatuh
Muchammad Sakdun Isnaini meregang nyawa usai bermain sepakbola di Lapangan Kawi, Desa Sumberpucung Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang, Rab
POS KUPANG.COM -- Muchammad Sakdun Isnaini meregang nyawa usai bermain sepakbola di Lapangan Kawi, Desa Sumberpucung Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang, Rabu (7/8/2019) sore.
Korban yang merupakan warga Desa Senggreng Kecamatan Sumberpucung itu diduga menderita sakit jantung.
"Korban bermain sebagai kiper.
Usai pertandingan, korban tiba-tiba jatuh tersungkur ke depan dengan cara kepala membentur tanah terlebih dahulu," beber Kasubag Humas Polres Malang, AKP Ainun Djariyah ketika dikonfirmasi, Kamis (8/8/2019).
Ainun menambahkan, korban kemudian dengan cepat dibawa ke Puskesmas desa setempat.
Namun, nyawa pria berusia 40 tahun tak tertolong.
"Setelah tiba di Puskesmas, korban dinyatakan telah meninggal dunia," imbuh Ainun.
Dari hasil pemeriksaan, di sekujur tubuh korban tak ditemukan tanda kekerasan.
Hanya saja ditemukan bekas luka dipelipis kiri, diperkirakan akibat pada saat terjatuh kepala korban membentur tanah.
• Dua Cowok Gantian Remas Buah Dada Gadis 18 Tahun hingga Viral, Ini Aksinya
Atas kejadian, keluarga mendiang menerima peristiwa ini adalah bagian dari takdir.
"Dari keterangan keluarga korban, diketahui bahwa korban sebelumnya juga pernah mengalami kejadian serupa.
Keluarga membenarkan bahwa korban punya riwayat penyakit jantung," ungkap Ainun.
Ilustrasi (nydailynews)
Meninggal saat Surabaya Maraton 2019
• Punya Suami Anggota TNI, Dosen Cantik Dicintai Mahasiswanya lalu Ungkapkan Perasaan, Kronologi
Kasus yang nyaris serupa juga terjadi saat Surabaya Maraton 2019, Minggu (4/8/2019).
Ketika itu ada 2 orang yang meninggal dunia saat kegiatan berlangsung.
Dua orang itu adalah Komisaris Malang Post, Husnun Djuraid (60), dan mantan atlet Judo Sea Games tahun 80-an, Oentung Putro Setiono (55).
Husnun Djuraid adalah warga Perumahan Srikandi, Digul, Bunulrejo, Blimbing, Kota Malang.
Sedangkan Oentung Putro Setiono warga Kelapa Gading, Jakarta.
Jenazah Husnun Djuraid sempat dibawa ke IGD Dr Soetomo sehingga dinyatakan meninggal dunia.
Suasana duka menyertai keluarga almarhum Husnun yang masih berada di kamar jenazah RSUD Dr Soetomo.
• Ketajaman Striker Persib Bandung Ezechiel Ndouassel Menurun, Ini Kata Staf Pelatih Maung Bandung
• Persib Bandung vs Persela Lamongan Hasil Imbang - Robert Alberts Soroti Pertahanan Maung Bandung
• Gagal Curi Poin Penuh di Kandang Persela Lamongan, Bobotoh Bentangkan Sindiran Persib Bandung
“Bapak sempat jatuh saat ikut Surabaya Maraton. Kemudian bapak dibawa tim medis ke ambulans,” kata Amalia Kautsariah, anak ketiga almarhum kepada SURYAMALANG.COM.
Amalia mengatakan ayahnya memiliki riwayat penyakit jantung.
“Nanti jenazah bapak langsung dibawa ke Malang, dan dimakamkan di Bunulrejo,” terang Amalia.
Husnun Djurait dikenal memiliki hobi lari.
Husnun Djurait kerap mengikuti even lari luar kota hingga luar provinsi.
“Bapak sering ikut lari di Prambanan dan Borobudur Marathon sampai finish,” kata Amalia Kautsariah.
Amalia mengatakan terakhir almarhum sempat dirawat lantaran sakit.
“Bapak punya riwayat jantung, tapi sudah sembuh, kemudian ikut lari lagi itu (Prambanan dan Borobudur Marathon),” terangnya.
Setelah sembuh, jurnalis senior asal Malang ini kembali mengikuti even tenis di tahun 2018.
“Setelah ikut tenis, bapak sempat rawat inap di rumah sakit,” kata Amalia.
Kemudian, Husnun pamit ikut lari Surabaya Marathon.
Amalia mengatakan ayah empat anak ini berangkat dari Malang ke Surabaya menggunakan bus.
“Bapak berangkat sendirian naik bus kemarin. Rencananya bapak ikut 10 kilometer (KM), tapi tadi katanya bapak sempat jatuh di delapan KM langsung dibawa ambulans,” imbuhnya.
Saat diketahui pingsan, tim medis membawa Husnun ke IGD RSUD Soetomo menggunakan ambulans.
“Tadi sempat di Resusitasi Jantung Paru (RJP), dan pemacu adrenaline jantung, tapi tidak ada respon,” kata Amalis.
Jenazah almarhum diberangkatkan menuju Malang sekitar pukul 11.45 WIB.
Almarhum akan dimakamkan di Pemakaman Bunulrejo Malang.
Sementara itu, Oentung Putro Setiono juga sempat dibawa ke IGD RSUD Dr Soetomo, kemudian dinyatakan meninggal dunia.
Sahabat Oentung, Heri tidak menyangka kalau sahabatnya itu telah meninggal dunia.
Oentung tidur bersamanya dalam satu kamar hotel pada Sabtu (3/8/2019) malam.
Selama bercengkrama dengan Heri, Oentung tidak menunjukkan keanehan.
“Tadi pagi masih foto-foto menggunakan kameranya,” kata Heri.
Seingat Heri, Oentung sempat mengeluh mengantuk malam kemarin.
Saat itu Heri mengira keluhan semacam itu terbilang wajar.
“Setelah bilang ‘saya ngantuk’ dia tidur. Tidurnya juga ngorok,” ujarnya.
Heri terakhir melihat sahabatnya sedang berlari di kilometer ketiga.
“Saya tidak tahu kronologinya. Dia masih sama saya di kilometer 3,” katanya.
Heri menduga sahabatnya itu meregang nyawa akibat terkena serangan jantung.
“Mungkin kena serangan jantung,” tandasnya.
Informasi yang dihimpun SURYAMALANG.COM, jenazah Oentung akan dikebumikan di tanah kelahirannya di Solo, Jawa Tengah (Jateng).
Jenazah Oentung dimasukkan ke mobil jenazah untuk diberangkatkan ke Solo sekitar pukul 11.39 WIB.
Sementara itu, Ketua Panitia Surabaya Marathon, Fransiska Budiman enggan berkomentar banyak terkait insiden meninggalnya pelari Surabaya Marathon.
“Sejak awal kami sampai mengurusi pemulangan jenazah, dan ada asuransinya.”
“Yang jelas dia ikut lari, tapi saya tidak ada di lokasi saat kejadian,” kata Fransiska. (*)