Keluarga Nilan Gugat Tanah Kantor Bupati Lembata

engadilan Negeri (PN) Lembata menggelar sidang perdana kasus gugatan tanah Kantor Bupati Lembata yang diajukan oleh Thomas Ola Nillan dan kawan-kawan

Keluarga Nilan Gugat Tanah Kantor Bupati Lembata
POS-KUPANG.COM/Frans Krowin
Blasius Dogel Lejap, S.H 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ricko Wawo

POS-KUPANG.COM-LEWOLEBA-Pengadilan Negeri (PN) Lembata menggelar sidang perdana kasus gugatan tanah Kantor Bupati Lembata yang diajukan oleh Thomas Ola Nillan dan kawan-kawan di ruang Sidang PN Lembata pada Senin (5/8/2019). Namun karena banyak pihak baik penggugat maupun tergugat tak hadir maka Ketua Majelis Hakim Ary Wahyu Irawan dan dua hakim anggota memutuskan sidang ditunda dan akan dilanjutkan pada 2 September 2019.

Ditemui usai sidang ditutup, kuasa hukum penggugat, Blasius Dogel Lejap, menjelaskan keluarga Nillan sejak awal tidak setuju dengan penyerahan lahan pada 2002 dan 2007 karena lahan milik almarhum Linus Labi Nillan ini masih menjadi milik bersama dan belum dibagi-bagikan ke sembilan orang anaknya. Lahan seluas 15.750 meter persegi tersebut terletak di Tengopaso, tempat sekarang berdiri gedung Kantor Bupati Lembata. Usai Linus meninggal, kata Blasius, secara hukum tanah sengketa tersebut diwariskan kepada semua anaknya.

Kemudian, salah satu anaknya, Gregorius Pesa Nillan secara sepihak menjual tanah warisan tersebut ke Pemda Lembata tanpa ada persetujuan pelepasan hak dari ahli waris lainnya. Bidang tanah yang dijual saat itu seluas 3.333.333 meter persegi dengan harga Rp 25 juta saat itu.

Gelandang Maung Bandung Beckham Putra Janji Harumkan Nama Persib Saat Bersama Timnas U-18 Indonesia

Info Terbaru NTT, Gubernur NTT Canangkan Sulamu jadi Rumah Kelor dan Garam, Simak Beritanya

"Pada tahun 2002 sempat ada penolakan, surat penolakan itu ke departemen dalam negeri, dikirim ke Bupati Lembata, waktu itu Andreas Duli Manuk, ke DPRD Lembata, Gubernur NTT sampai juga ditujukan ke pihak Adi Karya selaku kontraktor. Ada penolakan tapi mau bilang bagaimana masyarakat ini berhadapan dengan negara," jelas Blasius.

Perjuangan keluarga akhirnya menemui jalan buntu dan baru sekarang diajukan gugatan ke pengadilan. Hal ini menunjukkan bahwa keluarga masih belum puas dengan apa yang sudah terjadi.
Menurut dia, gugatan ini sama sekali tak ada hubungan atau kepentingan lainnya selain soal status kepemilikan tanah.

PSM Makassar Vs Persija Jakarta, Wiljan Pluim Ingin Persembahkan Trofi untuk Tim, SIMAK

Dia menekankan yang pasti keluarga penggugat tak akan pernah berhenti mencari keadilan terhadap status tanah tersebut.

Mirisnya lagi, kata Blasius, sampai sekarang Thomas selaku penggugat masih membayar pajak untuk lahan sengketa Kantor Bupati Lembata itu.

"Jadi penyerahan dokumen ini di bawah tangan. Tidak ada akta notarisnya, tidak ada pelepasan hak. Semua di bawah tangan," kata dia.

Dia berharap secara pribadi supaya kasus ini tidak mencuat dan dilakukan upaya mediasi antara penggugat dan tergugat.

"Harapan saya ada penyelesaian secara kekeluargaan daripada kita harus adu bukti," ungkap Blasius.
Sebab apabila putusan di pengadilan memenangkan penggugat, lanjut Blasius, bisa saja keluarga meminta lahan Kantor Bupati Lembata itu dikosongkan.

Kabag Hukum Setda Lembata, Bosko Johanes yang hadir mewakili tergugat VIII, menuturkan Pemkab Lembata sudah siap termasuk bukti-bukti dan tim bantuan hukum untuk menghadapi gugatan dari para penggugat dalam persidangan.

Selain anak-anak dari Gregorius Pesa Nillan sebagai tergugat I-VII, tergugat lainnya adalah Pemkab Lembata selaku tergugat VIII dan Badan Pertanahan Nasional selaku tergugat IX. (*)

Penulis: Ricardus Wawo
Editor: Ferry Ndoen
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved