Sabtu, 9 Mei 2026

Renungan Harian Kristen Protestan

Renungan Harian Kristen Kamis 1 Agustus 2019 ''Apakah Anda Pemimpin yang Sehat?

Renungan Harian Kristen Kamis 1 Agustus 2019 ''Apakah Anda Pemimpin yang Sehat?

Tayang:
Editor: maria anitoda
istimewa
Renungan Harian Kristen Kamis 1 Agustus 2019 ''Apakah Anda Pemimpin yang Sehat? 

Saat kita berhenti, kita sedang menerima undangan Allah untuk beristirahat. Kemudian terlibat dalam aktivitas yang membarui dan menyegarkan kita. (tidur, mendaki, membaca, makan makanan yang enak, menikmati hobi dan berolaraga).  Menikmati Kesenangan. Sabat adalah menikmati dan bersuka dalam ciptaan dan pemberian Allah.  Merenungkan. Memikirkan kasih Allah adalah fokus utama dari Sabat kita. Kita tidak berlibur dari Allah namun kita semakin mendekat pada Allah.  Sabat adalah undangan untuk melihat yang tidak terlihat melalui yang terlihat- mengenali kebaikan Allah yang tersembunyi yang sedang bekerja dalam kehidupan kita.  

Sabat adalah permata yang sangat berharga dengan banyak lapisan, masing-masing mencerminkan kehadiran Allah bersama kita dan kasih-Nya pada kita.  Sabat menjadisemakin indah ketika ketika kita semakin menyelidiki dan mempraktikkannya.  Kita akan mengagumi dan terkesima melihatmelihat keindahan Allah yang ditunjukkan melalui Sabat. (halaman 171).

4 lapisan permata yang sangat indah dari Sabat: (halaman 172): Sabat sebagai disiplin inti dalam pembentukan rohani, penolakan terhadap kekuatan jahat, sebagai kesenangan dan sebagai tempat pewahyuan. Tiga aspek kepemimpinan melalui Sabat adalah (halaman 172-181) Sabat mengajarkan mengenai apa yang paling penting: Allah, kasih, kesenangan, sukacita, pasangan & anak2, teman-teman, keluarga besar. Sabat mempengaruhi secara positif terhadap orang-orang terdekat/keluarga juga terhadap orang-orang yang dipimpin dan dilayani. Sabat adalah bekerja melaui istirahat (sama pentingnya dengan istirahat dari kerja).

Pada bagian kedua dimulai dengan hal keenam yakni Perencanaan dan Pengambilan Keputusan. Seorang pemimpin harus menyadari bahwa ada godaan umum dalam perencanaan & pengambilan keputusan, diantaranya:  (halaman 202-206) terlalu sempit dalam mendefinisikan kesuksesan. (jumlah kehadiran, keuangan, orang yang dibaptis, program pelayanan lainnya berjalan). Membuat rencana dan bertindak tanpa Allah. Contoh tokoh alkitab: Abraham (Kej. 16:1-4), Musa (Kel 2: 11, bangsa Israel (1 Sam. 8: 19-20; 1 Raj.12) dan mengabaikan keterbatasan yang Allah berikan. 

Adapun karakteristik dari perencanaan dan pengambilan keputusan yang sehat secara emosi yakni: 1) Mendefinisikan kesuksesan sebagai tindakan radikal mengikuti kehendak Allah. Sukses adalah ketika adanya perubahan dalam batin tiap-tiap orang. 2). Memberi ruang bagi persiapan hati.  Persiapan hati pribadi & persiapan hati tim.  (teladan Tuhan Yesus. Luk. 6:12-13; 4:42-43; 5:15). 3) Mencari Allah dalam keterbatas. (Musa dibatasi oleh kenyataan bahwa ia tidak pandai berbicara,  Yeremia dibatasi oleh sikapnya yang melankolis, Yohanes Pembabtis dibatasi oleh kehidupannya yang sederhana dan semua biara padang gurun, Abraham dibatasi oleh hanya memiliki satu anak laki-laki dengan Sara, Gideon dibatasi oleh jumlah pasukannya- hanya 300 orang menghadapi 135.000 org Midian, kedua belas murid mengalami keterbatasan memberi makan 5000 pria).   (halaman 208-219).

Ketujuh, pembentukan budaya dan tim. Pembentukan tim  adalah Tindakan melibatkan dan memobilisasi sekelompok orang yang memiliki keahlian beragam, yang berkomitmen untuk memiliki visi dan tujuan bersama. (halaman 237).

Budaya adalah  sesuatu yang tidak bisa ditentukan secara tepat, suatu keberadaan tak terlihat atau kepribadian suatu tempat yang sulit untuk dijelaskan tanpa lebih daulu mengalaminya.  Budaya lebih muda dirasakan dari pada dijelaskan; Budaya adalah keseluruhan perilaku dan pola pikir yang dipelajari dari setiap kelompok yang ada.  Budaya adalah apa yang dibuat manusia di dunia ini. (halaman 237).

Karakteristik Budaya dan Pembentukan Tim Yang Sehat: (halaman 240) terlihat dari empat hal yakni: Performa kerja dan pembentukan rohani pribadi tidak terpisahkan.- (tujuannya- menaiki tangga integritas- membantu orang2 untuk mengetahui apa yang sedang terjadi dalam diri mereka-mengerti nilai mereka dan mengungkapkannya dengan sikap yang hormat dan tidak menyalahkan. Masalah di depan mata diakui dan dikonfrontasi. Memberi waktu dan tenaga bagi pengembangan rohani pribadi dalam tim dan kualitas pernikahan dan kehidupan lajang dilihat sebagai fondasi.

Kedelapan, kekuasaan dan batasan-batasan yang bijak. Kekuasaan adalah kemampuan untuk mempengaruhi.  Kekuasaan adalah hal yang memampukan kita menjadikan segala sesuatu terjadi atau tidak. – setiap orang punya kekuasaan namun tidak memilikinya dalam tingkatan yang sama. Kekuasaan sebagai pengaruh selalu relatif tergantung pada sumber daya kita.  (halaman 269).

Adapun sumber utama dari kekuasaan yakni:  Kekuasaan dari kedudukan (gelar); Kekuasaan dari pribadi (karunia, kepribadian, pengetahuan, pendidikan dan kompetensi); Kekuasaan dari “faktor Allah.” Kekuasaan dari proyeksi. (secara tidak sadar orang lain proyeksikan pada kita); Kekuasaan dari relasi.  Kekuasaan bertambah ketika orang mempercayakan ketakutan dan rahasia mereka; Kekuasaan dari budaya. (halaman 272-274). Dengan demikian maka harus ada karakteristik dari kekuasaan yang sehat secara emosi dan penetapan batasan-batasan yang bijaksana yakni: Dengan mengidentifikasi dan menginventarisasi kekuasaan;  dengan menggunakan kekuasaan dengan benar sehingga dipakai untuk melayanai orang lain; dan dengan mengakui dan mengawasi relasi ganda kita.(halaman 276).   

10 Prinsip Menggunakan Kekuasaan & Menetapkan Batasan-batasan Yang Bijaksana yakni: (halaman 284-286). Lakukan inventarisasi yang  jujur  terhadap kekuasaan yang telah Allah berikan pada kita.  Bertemu  dengan orang yang sudah dewasa dalam kerohanian ketika  anda merasa terpicu. Minta bantuan nasihat yang bijak untuk mengawasi relasi ganda kita. Awasi tanda-tanda awal dari bahaya. Bersikap peka terhadap perbedaan budaya, etnis, gender, dan generasi. Keluarkan orang (yang digaji maupun sukarelawan) dengan cara yang baik.  Ingatlah bahwa beban untuk menetapkan batasan-batasan dan membuat semua itu jelas  terletak pada orang yang memiliki kekuasaan yang lebih besar. Jadilah teman terhadap teman, pendeta terhadap jemaat, pembimbing terhadap yang dibimbing, dan pengawas terhadap aktivis/staf. Renungkan kehidupan Yesus saat kita menghadapi penderitaan dan kesendirian ketika memimpin. Minta anugerah Allah agar anda bisa mengampuni “musuh-musuh” anda- dan diri anda sendiri.

Hal kesembilan adalah mengakhiri dan mengawali yang baru. Salah satu tugas utama dari kepemimpinan yaitu menolong orang lain mengakhiri dan menjalani masa peralihan dengan baik. Menghadapi masa peralihan dengan baik berarti memimpin dengan kepedulian, membantu orang lain menghindari jebakan kepahitan, hati yang dingin atau penolakan terhadap hal baru yang mungkin Allah sedang bukakan di tengah kita. Karakteristik dari mengakhiri dan mengawali yang  baru dalam praktek umum adalah  Melihat bahwa mengakhiri sesuatu sebagai kegagalan yang harus dihindari; Melihat bahwa mengakhiri sesuatu sebagai hal yang tidak ada hubungannya dengan pembentukan rohani dalam Yesus; Tidak menghubungkan mengakhiri sesuatu dengan masalah dari keluarga asal. (halaman 307-311) Karakteristik dari mengakhiri dan mengawali sesuatu yang sehat secara emosi adalah menerima akhir dari sesuatu sebagai sebuah ‘final.’Mengakui bahwa akhir dari sesuatu dan “masa antara”yang membingungkan sering jauh lebih lama dari yang kita pikirkan; Melihat akhir dari sesuatu dan masa  menunggu tidak bisa dilepaskan dari pendewasaan pribadi kita dalam Kristus; Kita  menegaskan bahwa akhir dari sesuatu dan masa menunggu adalah pintu masuk pada awal yang baru.  (halaman 313).

Menurut saya untuk menjadi seorang pemimpin yang sehat secara emosional maka seorang pemimpin harus melekat pada pokok anggur yang benar. Dalam Yohanes 15:1-8, Tuhan Yesus memberikan perumpamaan dengan mengungkapkan bahwa “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya.” Gambaran tentang ranting yang baik adalah ranting yang selalu melekat pada pokoknya.  Ranting yang selalu melekat pada pokoknya akan selalu mendapatkan asupan makanan dan air yang cukup sehingga akan berdampak pada pertumbuhan yang baik dan menghasilkan buah yang baik dan lebat. Maka seorang pemimpin pun harus menyadari bahwa ia adalah “ranting” yang selalu butuh untuk melekatkan dirinya pada Yesus Kritus. 

Belajar dan meneladani Yesus Kristus sebagai pemimpin sejati yang selalu bertindak di waktu dan tempat yang tepat, memberikan dampak dari kepemimpinannya yang luar biasa.   Maka tidak akan ada seorang pemimpin Kristen yang berhasil dalam menjalankan panggilan pelayanan yang dipercayakan oleh Allah kepadanya jika ia tidak selalu melekatkan dirinya kepada Yesus Kristus.  Gambaran pemimpin yang  berhasil adalah pemimpin yang selalu memberikan dirinya untuk dibersihkan oleh Allah. Banyak pemimpin yang kelihatannya memiliki kemampuan intelektuan dan skill yang baik dalam memimpin, namun lemah dalam karanter dan kepribadiannya seperti yang diungkapkan oleh Peter Scazzero sebagai pemimpin yang tidak sehat secara emosional. 

Dengan demikian untuk menjadi seorang pemimpin yang baik dan sehat emosi, seorang pemimpin harus  selalau memberikan dirinya di dalam pimpinan firman Tuhan, sebab seorang pemimpin yang selalu tinggal di dalam Yesus Kristus adalah pemimpin yang sealalu memberikan dirinya dan bergaul erat dengan Allah salah satunya lewat firman Tuhan.  Dengan demikian, buah yang akan dihasilkan oleh seorang pemimpin yang melekatkan dirinya pada Yesus Kristus sebagai teladan pemimpin sejati adalah menunjukkan teladan karakter Kristus dalam kepemiminannya, meski ia sendiri mengalami masa-masa sulit dalam kepemimpinannya. Gambaran pemimpin yang sehat secara emosi adalah pemimpin yang mampu membawa orang-orang yang dipimpinnya mengalami Kristus dan menghidupi karakter Kristus dalam hidup mereka. (*)

           

Sumber: Pos Kupang
Halaman 4/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved