Senin, 11 Mei 2026

Renungan Harian Kristen Protestan

Renungan Harian Kristen Kamis 1 Agustus 2019 ''Apakah Anda Pemimpin yang Sehat?

Renungan Harian Kristen Kamis 1 Agustus 2019 ''Apakah Anda Pemimpin yang Sehat?

Tayang:
Editor: maria anitoda
istimewa
Renungan Harian Kristen Kamis 1 Agustus 2019 ''Apakah Anda Pemimpin yang Sehat? 

Kedua, sebagai pemimpin apakah anda pernah mengalami masa stagnan dan tidak memiliki kemampuan untuk mengubahnya? Ketiga, apakah anda pernah merasa terlalu kewalahan untuk menikmati hidup dan tidak dapat memilah berbagai tuntutan pekerjaan atau pelayanan ? 

Jawaban terhadap pertanyaan tersebut diurai secara tuntas oleh Peter Scazzero, seorang yang selama puluhan tahun sebagai pemimpin gereja, dalam buku The Emotionally Healthy Leader  (Pemimpin Yang Sehat Secara Emosi) setebal 357 halaman, yang diterbitkan Perkantas Jatim tahun 2018.

Lewat buku ini penulis ingin menunjukkan bagaimana menjadi seorang pemimpin yang sehat dan lebih baik lagi dengan terlebih dahulu telah mengalami transfomasi dalam kehidupan batin secara mendalam dengan Yesus Kristus dalam kepemimpinan, termasuk dalam perencanaan dan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin baik secara pribadi juga dalam bekerja bersama tim.

Seorang pemimpin yang baik tidak hanya terlihat sehat secara emosi dari tampak luar saja, melainkan sampai pada intinya seorang pemimpin telah ditransformasi yang berdampak besar dalam kepemimpinannya.

Scazzero membagi bukunya menjadi dua bagian yaitu kehidupan batin seorang pemimpin dan kehidupan lahiriah seorang pemimpin.

Pada bagian pertama, mengenai hal yang menghambat seorang pemimpin tidak mampu memimpin secara efektif dan menghasilkan dampak yang baik adalah masalah kehidupan batinnya.  Pemimpin yang memimpin dalam kehidupan batin yang tidak nyaman adalah pertama, pemimpin yang tidak sehat secara emosional.

Seseorang yang bertindak dalam kondisi yang defisit secara emosi dan rohani secara terus menerus, kekurangan kedewasaan emosi dan “kehidupan bersama Allah“ mereka tidak mampu untuk menopang “pekerjaan bagi Allah” yang dilakukan. (halaman 21).

Para pemimpin harus menyadari bahwa ada empat karakter pemimpin tidak sehat secara emosi diantaranya: 1) Memiliki kepekaan diri yang rendah; 2) Lebih memprioritaskan pekerjaan atau pelayanan dari pada pernikahan atau kelajangan; 3) Relasi bersama Allah tidak bisa lagi menopang aktivitas bagi Allah; 4) Kurang menjalankan sabat (bagian tentang Sabat akan dibahas lebih lanjut pada halaman berikut) (halaman 28-31).

Untuk mencapai kesuksesan dalam pelayanan, kadang kalah seorang kepemimpinan membangun hukum yang tidak sehat, yang walaupun secara tidak tertulis namun hal itu sangat berpengaruh dalam kepemiminannya, diantaranya: 1) Sukses itu harus lebih besar dan lebih baik. 2) Apa yang kita lakukan lebih penting daripada siapa kita sebenarnya. 3) Kerohanian yang dangkal itu biasa. 4) Jangan merusak suasana selama pekerjaan bisa diselesaikan.  (halaman 37-42).

Menjadi pemimpin yang sehat secara emosi membutuhkan waktu dan proses.  Untuk itu  perlu ada tahap proses pembelajarannya yakni dengan menyadari, memikirkan, menghargai, memprioritaskan ulang dan memilikinya.  (halaman 45).

Kedua, menghadapi sisi gelap diri sendiri. Tugas pertama yang paling sulit bagi seorang pemimpin adalah memimpin diri sendiri.  Sisi gelap adalah kumpulan emosi yang liar, motivasi yang tidak murni, dan pikiran-pikiran yang walaupun umumnya tidak disadari, sangat mempengaruhi dan membentuk perilaku seseorang. 

Ini adalah bagian hidup yang rusak tetapi kebanyakan adalah versi tersembunyi dari seorang pemimpin.  (halaman 57). Seorang pemimpin harus menyadari bentuk sisi gelap yang bisa ada dalam dirinya yaitu perfeksionisme yang menghakimi, ledakan kemarahan, iri hati, ketidak sukaan, nafsu, tamak, kepahitan, keinginan menolong orang lain sehingga disukai orang lain, keinginan untuk diperhatikan, tidak bisa berhenti kerja, kecenderungan menyendiri/kaku. (halaman 58).

Saat yang paling tepat untuk mengetahui sisi gelap seorang pemimpin adalah ketika bertindak tidak tepat saat dibawah tekanan; Tidak ingin seseorang berhasil karena dia menyakiti kita; Terpicu oleh seseorang atau keadaan dan mengucapkan hal-hal yang disesali kemudian; Mengabaikan pasangan atau rekan kerja kita ketika mereka mengajukan masalah yang sulit terkait diri kita atau perilaku kita; Terus melakukan hal yang sama terus menerus meskipun akibatnya tetap negatif; Marah, iri, dan dengki- secara berlebihan.

Melakukan dan mengatakan sesuatu karena takut apa yang orang lain pikirkan; Menjadi lebih sibuk daripada menjadi lebih reflektif ketika anda cemas; Cenderung meninggalkan orang lain yang kelihatannya diberi karuni khusus oleh Allah, melupakan mereka yang memilki sisi gelap dan rusak seperti anda;

Membuat komentar negatif kepada orang  lain mengenai mereka yang mengecewakan anda dan bukannya mengatakan secara langsung kepada mereka; Penyangkalan, meremehkan, menyalahkan diri sendiri, menyalahkan orang lain, merasionalisasi, mencari kesibukan, atau memproyeksikan kemarahan keluar. Atau apapun temeng dari memilih untuk menghindar dari sisi gelap kita adalah kehancuran. (halaman 64).

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved