DPRD Panggil Pihak RSUD Lewoleba Pertanyakan Penurunan Status, Simak Beritanya

"Harus perhatikan kesejahteraan tenaga kesehatan. Pelayanan di rumah sakit itu tidak bagus karena kesejahteraan mereka juga rendah

Foto/Ricko Wawo/
Anggota DPRD Lembata, Anton Molan Leumara (baju merah) sedang menjelaskan perihal penurunan status RSUD Lewoleba di Ruang Rapat DPRD Lembata, Jumat (26/7/2019) 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ricko Wawo

POS-KUPANG.COM-LEWOLEBA-DPRD Kabupaten Lembata kembali menyoroti penurunan status RSUD Lewoleba dari tipe C ke tipe D. Selain anggaran cukup besar yang sudah dikucurkan untuk kebutuhan rumah sakit, pihak legislatif juga mempersoalkan tunjangan bagi tenaga medis di rumah sakit yang masih rendah yang otomatis berdampak pada kualitas pelayanan di rumah sakit.

Bahkan Wakil Ketua DPRD Lembata, Paulus Makarius Dolu tampak kesal dengan penurunan status rumah sakit ini karena tambahan dana sudah diberikan untuk kebutuhan rumah sakit. Lebih dari itu, tunjangan dan kebutuhan bagi para perawat yang bertugas jaga malam juga masih sangat rendah dan tidak sesuai dengan beban kerja mereka.

Hal ini terungkap dalam sidang badan anggaran di Ruang Sidang Utama Gedung DPRD Kabupaten Lembata, Jumat (26/7/2019).

Anggota DPRD Lembata, Antonius Molan Leumara, mempertanyakan penurunan tipe RSUD Lewoleba. Dia meminta penjelasan dari pemerintah mengapa hal ini bisa terjadi.
"Saya agak kecewa dengar itu," tegasnya.

Menurut Anton, pemerintah daerah sudah meminta tambahan dana untuk peningkatan kualitas, fasilitas dan kapasitas rumah sakit tetapi justru hasilnya adalah turun kelas. Justru tak ada peningkatan status dan kualitas pelayanan tak mengalami peningkatan. Bagi dia, rumah sakit harus membenahi pelayanan kepada pasien yang datang berobat ke sana.

Anggota legislatif lainnya, Lasarus Teka Udek menambahkan para bidan dan perawat punya tekanan kerja dan tanggunjawab yang besar. Ada kesenjangan besaran tunjangan antara para perawat dan dokter.

"Harus perhatikan kesejahteraan tenaga kesehatan. Pelayanan di rumah sakit itu tidak bagus karena kesejahteraan mereka juga rendah," ungkapnya.

Atas persoalan penurunan status ini, Asisten 1 Setda Kabupaten Lembata, Frans E Langoday, menjelaskan kelas rumah sakit secara periodik diakreditasi dengan standar pelayanan rumah sakit terkait fasilitas pendukung dan peralatan medik.

"Kita di NTT hampir semuanya turun kelas. Kita tidak punya kreasi untuk tingkatkan mutu rumah sakit. Standar paramedis juga sudah ada standar. Kita punya tenaga medis belum memenuhi kuota seperti standar yang dimaksud. Kita ini dokter spesialis masih kontrak dan bekerja sama dengan perguruan tinggi di Indonesia. Ketika mau evaluasi dengan standar dimaksud ternyata belum bisa. Ini adalah tanggungjawab kita," paparnya.

Tak puas dengan penjelasan Frans Langoday, dewan pun meminta pemerintah menghadirkan direktur RSUD Lewoleba, dr Bernard Beda. Namun karena direktur sedang berada di luar kota, maka dihadirkan dua orang perwakilan dari rumah sakit.

Salah satu perwakilan RSUD Lewoleba, Reyn Lamabelawa menjelaskan penurunan tipe rumah sakit disebabkan karena Sumber Daya Manusia (SDM) di rumah sakit yang belum memadai khususnya tenaga dokter ahli.

Simak Penjelasannya, Penetapan Bakal Calon Kepala Daerah dari PDIP Dilaksanakan Setelah Kongres  

Misalnya dokter dokter spesialis anestesi yang tidak tersedia. Sesuai dengan Permenkes ada tiga indikator yang dinilai perihal status rumah sakit yakni alat kesehatan, sarana prasarana, dan sumber daya manusia. Reyn pun menjabarkan kebutuhan dokter yang dibutuhkan supaya status rumah sakit bisa naik lagi.

"Dokter spesialis anestesi sudah ada hanya dia sudah lulus PNS dan pindah tempat," tandasnya.
DPRD Lembata meminta pemerintah serius menata sistem manajerial, pelayanan dan fasilitas RSUD Lewoleba.
Persoalan penurunan status rumah sakit ini mendapat perhatian serius dari para anggota dewan dalam Rapat Badan Anggaran DPRD Lembata itu. Sejumlah catatan untuk rumah sakit juga disampaikan guna pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat. (*)

Penulis: Ricardus Wawo
Editor: Ferry Ndoen
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved