Suku Nataia di Nagekeo Tetap Lestarikan Adat dan Budaya, Ini Yang Mereka Lakukan

Suku Nataia di Nagekeo Tetap Lestarikan Adat dan Budaya, Ini Yang Mereka Lakukan

Suku Nataia di Nagekeo Tetap Lestarikan Adat dan Budaya, Ini Yang Mereka Lakukan
POS KUPANG/GORDI DONOFAN
Suasana Etu (Tinju adat) di Kampung Nataia Desa Olaia Kecamatan Aesesa Kabupaten Nagekeo, Sabtu (13/7/2019). 

Suku Nataia di Nagekeo Tetap Lestarikan Adat dan Budaya, Ini Yang Mereka Lakukan

POS-KUPANG.COM | MBAY -- Ketua Panitia Dhongi Koti Festival Atraksi 101 Gasing pada Even Tinju Adat (Etu) Nataia, Antonius Moti mengungkapkan bahwa suku Nataia di Kabupaten Nagekeo akan selalu melestarikan dan merawat adat dan budaya.

Antonius mengatakan pembangunan Pariwisata yang saat ini gencar dilaksanakan oleh pemerintah pusat hingga daerah merupakan upaya positif dalam rangka pemenuhan kebutuhan ekonomi masyarakat termasuk masyarakat adat.

"Masyarakat adat Nataia, siap memberi dukungan pada pembangunan dan pengembangan sektor pariwisata terutama pembangunan pariwisata NTT pada umumnya dan Nagekeo khususnya," ungkap Antonius, Senin (15/7/2019).

Antonius mengatakan kekayaan budaya yang ada di komunitas Nataia, baik upacara adat, ritual, maupun warisan-warisan atau simbol-simbol adat merupakan kekayaan daerah dan bangsa Indonesia secara keseluruhan.

Antonius mengatakan kegiatan Dhongi Koti Festival atraksi 101 Gasing pada even tinju adat (Etu) Nataia 2019 merupakan ide dan inisiatif masyarakat adat Nataia dalam rangka pelestarian budaya permainan masyarakat adat Nataia, sekaligus menarik minat wisatawan.

"Kegiatan ini melibatkan banyak kelompok masyarakat pencinta budaya yang berasal dari berbagai tempat/suku, karena dalam ritual etu Nataia ini, terdapat atraksi tinju tandak dan permainan gasing," ungkapnya.

Sementara Ketua Suku Nataia, Patrisius Seo, mengatakan jadwal Etu yaitu, 10 Juli 2019 Koma Mua Go Laba.

Ia menjelaskan ritual ini di tandai dengan meminyaki Gong-Gendang dengan santan kelapa parut, dan diikuti dengan Wari Go Laba (menjemur Gong Gendang).

Ritual ini diakhir dengan pemukulan gong oleh Ketua Suku menandai gong gendang sudah bisa digunakan.

Halaman
12
Penulis: Gordi Donofan
Editor: Rosalina Woso
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved