Ini Komiditi yang Beri Pengaruh Besar Terhadap Garis Kemiskinan NTT
Fakto-faktor yang terkait dengan tingkat kemiskinan di NTT dipicu beberapa hal.Pertama, Nilai Tukar Petani (NTP) pada Maret 2019 turun sebesar 1,60 pe
Penulis: Yeni Rachmawati | Editor: Ferry Ndoen
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Yeni Rachmawati
POS-KUPANG.COM | KUPANG -- Provinsi NTT menduduki urutan ketiga sebagai Provinsi termiskin setelah Papua dan Papua Barat.
Fakto-faktor yang terkait dengan tingkat kemiskinan di NTT dipicu beberapa hal.
Pertama, Nilai Tukar Petani (NTP) pada Maret 2019 turun sebesar 1,60 persen dibanding September 2018, yaitu dari 107,35 menjadi 105,63. Penurunan ini disebabkan oleh harga produksi pertanian menurun, sedangkan harga konsumsi petani meningkat.
Kedua, selama periode September 2018-Maret 2019, inflasi umum cukup tinggi yaitu sebesar 2,02 persen. Bahan makanan merupakan kelompok pengeluaran yang mengalami kenaikan indeks harga terbesar yaitu naik sebesar 4,17 persen.
Ketiga, inflasi di wilayah perdesaan yang dicerminkan dari perubahan indeks konsumsi rumah tangga pada periode September 2018-Maret 2019 menunjukkan angka yang cukup tinggi, yaitu mencapai 2,19 persen.
Keempat, ekonomi provinsi NTT trieulan I-2019 dibandingkan triwulan IV-2018 (q-to-q) mengalami kontraksi sebesar -5,26 persen. Hanya dua dari 17 lapangan usaha yang mengalami pertumbuhan yaitu jasa keuangan dan asuransi (2,89 persen) dan industri pengolahan (0,02 persen).
Kelima, tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Provinsi NTT pada Februari 2019 sebesar 3,10 persen, mengalami kenaikan dibandingkan keadaan Februari 2018 dan Agustus 2018 dengan kenaikan masing-masing sebesar 0,12 persen poin dan 0,09 persen poin.
Keenam, rata-rata pengeluaran per-Kapita untuk penduduk yang berada di 40 persen lapisan terbawah selama periode September 2018 - Maret 2019 tumbuh 2,15 persen, namun masih lebih rendaj dibandingkan kenaikan garis kemiskinan pada periode yang sama sebesar 3,85 persen.
Kepala BPS NTT, Ny Martije Pattiwaellapia, ketika menggelar Jumpa Pers, Profil Kemiskinan NTT Maret 2019, di Aula Rapat kantor tersebut, Senin (15/7/2019), menjelaskan, untuk komposisi garis kemiskinan sekama September 2018 - Maret 2019, garis kemiskinan naik sebesar 3,85 persen, yaitu dari Rp 360.069 per kapita per bulan pada September 2018 menjadi Rp 373.922 per kapita per bulan Maret 2019.
Peranan komiditi makanan terhadap garis kemiskinan, lanjutnya, jauh lebih besar dibandingkan peranan komiditi bukan makanan. Pada Maret 2019, komoditi makanan menyumbang sebesar 78,17 persen pada garis kemiskinan.
Selanjutnya, komoditi yang memberi pengaruh besar terhadap garis kemiskinan NTT di daerah perkotaan dan perdesaan yaitu beras. Dimana di kota, 28,41 persen dan desa 39,14 persen. Kemudian diikuti oleh rokok kretek filter, gula pasir, tongkol, jagung pipilan, ikan kembung, telur ayam ras, daging babi, kopi bubuk dan kopi instan, roti, daging ayam kampung, daun ketela pohon dan kue basah.
"Orang masih bergantung pada beras, terbesar nomor dua itu rokok kretek. Biar orang gak makan yang penting harus merokok," ujarnya.
Berdasarkan rilis nasional menurut Bulog, kata Ny Maritje, 98 persen Rastra telah dibagi per Januari 2019. Namun di NTT baru 40 persen.
"Penyaluran ini belum maksimal. Apakah Februari Maret sudah disalurkan? Karena beras sangat berpengaruh. Bila rastra terlambat maka ini juga berdampak pada kemiskinan. Bila beras memberikan andil terbesar, maka beras harus selalu tersedia," terangnya.
Urutan provinsi NTT ini menjadi motivasi bagi Pemerintah dan seluruh stakeholder untuk terus berjuang memerangi kemiskinan. Semua provinsi mempunyai program-program yang luar biasa untuk bergerak dan lari.
"Sekarang tergantung dari kita mau bergerak dan larinya seperti apa. Kita bisa berfokus pada masyarakat yang rentan miskin untuk menjauhkan mereka dari garis kesmikinan," tuturnya.(*)