Renungan Harian Kristen Protestan

Renungan Harian Kristen Protestan 26 Juni 2019, "Ketulusan Lebih Kuat dari Prasangka Buruk"

"Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu

Renungan Harian Kristen Protestan 26 Juni 2019,
dokumentasi pribadi
Pdt Dina Dethan Penpada MTh 

Niat untuk mencoba, niat untuk menjatuhkan, niat untuk mencelakakan, niat untuk mencari tahu kekurangan kita.

Jika demikian tidak apa-apa karena kita tidak dapat memastikan bahwa semua orang bersikap baik.

Namun kita belajar dari Yesus, yang mampu mengubah prasangka buruk si Ahli Taurat dan membawanya memahami siapa sesamanya dan kehidupan kekal yang ia impikan.

Kita juga dapat mengubah orang-orang yang kita jumpai atau menjumpai kita dengan niat buruk menjadi orang-orang baik.

Kita juga akan berjumpa dengan orang-orang yang salah paham, curiga, berprasangka buruk, menuduh, dan menyakiti orang lain dengan ujaran-ujaran yang menyakitkan.

Kita belajar dari Yesus untuk mengampuni.

Ketika terjadi peledakan bom di Surabaya beberapa waktu yang lalu PGI,GMIT dan gereja-gereja yang terkena bom, memilih sikap yang sangat kristiani,

yakni menghimbau agar tidak memposting gambar-gambar korban, ataupun menyebarkan ujaran-ujaran kebencian.

Ini sikap yang mesti menjadi gaya hidup kita orang-orang percaya. Ketika ada banyak orang menyebarkan ujaran-ujaran kebencian ataupun mengatakan hal-hal yang tidak benar, tugas kita mesti sebaliknya.

Menyatakan yang benar dan menyebarkan tentang cinta kasih. Ketika ada yang salah, tugas kita untuk meluruskan, sebab kita percaya bahwa kita tidak sendiri, melainkan ada Roh Penolong, ada kuasa yang menggerakkan kita.

Mari kita menggunakan Bahasa yang membangun, yang meneguhkan, Bahasa yang memberi pegenguatan dan semangat.

Termasuk Bahasa tubuh kita. Kadang Bahasa tubuh kita memperlihatkan penolakan dan pelecehan terhadap orang lain.

Kedua: Jika saat ini kita bertanya, "Siapakah sesamaku"? maka kisah orang Samaria yang murah hati mau mengajarkan kepada kita bahwa

sesama adalah orang yang telah mampu mengatasi kebencian yang telah diwariskan dari generasi ke generasi dengan menunjukan relasi baru dengan menunjukkan belas kasihan

dan menjadi sesama yang sejati bagi orang lain yang berbeda dengan kita. Yesus mau kita belajar bahwa kebaikan dan belas kasihan lebih kuat dari prasangka buruk.

Pilihan-pilihan politik mempersempit pemahaman kita tentang siapakah sesama kita karena pilihan politik kita yang berbeda.

Yesus mengajarkan kepada kita bahwa perbedaan itu adalah pemberian Allah dan karena pemberian Allah, maka kita mesti menghargainya.

Namun perbedaan itu tidak menjadi alasan untuk kita saling menghina, saling menjatuhkan dan sikap-sikap yang tercela.

Masing-msing orang punya pilihan politik, tetapi prinsip dasar yang mesti kita terima bersama hari ini, yaitu: Kita semua orang-orang bersaudara. Semua orang adalah sesama kita.

Saudara. memang tidak semua orang dapat kita jadikan sahabat, tetapi terhadap semua orang kita dapat bersikap baik. Amin

Editor: Ferry Jahang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved