Berita Populer

BERITA POPULER: Siswi SMA di Oebobo Dicabuli, Pengakuan Bambang Widjojanto & Penampilan Najwa Shihab

BERITA POPULER: Siswi SMA di Oebobo Dicabuli, Pengakuan Bambang Widjojanto & Penampilan Najwa Shihab.

net
BERITA POPULER: Siswi SMA di Oebobo Dicabuli, Pengakuan Bambang Widjojanto & Penampilan Najwa Shihab. 

3. Rajinlah membaca

 Najwa Shihab didaulat sebagai Duta Baca Indonesia 2016-2020. Ia aktif mengajak siapa saja, termasuk Anda, untuk rajin mempertinggi ilmu dengan membaca buku. Sadarilah, membaca buku adalah salah satu cara mudah untuk memperluas wawasan Anda.

4. Jangan takut eksplorasi hal baru

 Mengeksplorasi hal-hal yang belum pernah Anda kerjakan sebelumnya akan memberikan pengalaman dan ilmu baru.

Katakanlah, Anda senang dengan dunia bisnis. Dalam bisnis, Anda bisa mempelajari banyak hal, misalnya bagaimana meningkatkan brand awareness melalui konten yang kreatif dan inovatif, bagaimana mengoptimalkan SEO untuk meningkatkan exposure di mesin pencari, bagaimana membuat aplikasi untuk bisnis Anda, dan sebagainya.

Pada dasarnya, jangan malas untuk belajar hal baru. Tekunlah pada apa yang ingin Anda pelajari dan jangan segan untuk meminta bantuan kepada mereka yang lebih ahli.

Nah, apabila Anda ingin mempelajari suatu hal yang baru, tapi terhalang oleh dana, mengapa tidak mencoba KoinPintar saja? KoinPintar menawarkan alternatif pembiayaan yang lebih mudah dan terjangkau untuk berbagai bidang yang Anda sukai. Misalnya, bahasa Inggris, IT, Creative, atau Beauty.

Dengan KoinPintar, Anda bisa menikmati bunga pinjaman mulai dari 0,75% per bulan. Kini, biaya pendidikan bukan lagi masalah. Anda pun bisa memupuk sukses sejak dini, sama sepertiNajwa Shihab dulu.

5. Keluarlah dari zona nyaman

 Memilih untuk menempuh pendidikan S2 di luar negeri menjadi salah satu tantangan yang dihadapi Najwa Shihab. Bayangkan, ia harus merasakan perbedaan musim dan budaya, jauh dari keluarga, ia juga harus berlatih untuk hidup mandiri.

Mungkin, jika dirinya tidak berani keluar dari zona nyaman, ia tidak akan bisa mempertajam kemampuannya.

Saat masih menjadi pembawa acara Mata Najwa, sudah lebih dari 500 episode dibuatnya. Ia memutuskan untuk keluar dari acara bahkan TV yang membesarkan namanya tersebut, dengan mendirikan medianya sendiri, yakni Narasi TV. Kerja kerasnya pun kini berbuah hasil baik.

2. Bambang Widjojanto: Kami Tak Mungkin Bisa Buktikan Kecurangan, Hanya Institusi Negara yang Bisa

Ketua Tim Kuasa Hukum Prabowo Subianto - Sandiaga Uno, Bambang Widjojanto, mengakui pihaknya sebagai pemohon sengketa pilpres di Mahkamah Konstitusi tidak mungkin membuktikan kecurangan yang terjadi di pemilihan presiden 2019.

Menurut Bambang, yang bisa membuktikan kecurangan adalah institusi negara. "Siapa yang bisa buktikan (kecurangan) ini? Pemohon? Tidak mungkin. Hanya institusi negara yang bisa. Karena ini canggih," kata Bambang di Media Center Prabowo-Sandiaga, Jakarta, Senin (24/6/2019).

Bambang menyebut, dalam sengketa Pilpres 2019 selalu yang dijadikan perbandingan adalah form C1 untuk membuktikan perbedaan selisih suara.

Padahal, menurut Bambang, pembuktian kecurangan saat ini tak bisa lagi menggunakan cara-cara lama seperti membandingkan formulir C1.

Dia pun membandingkan MK yang bertransformasi ke arah modern dengan permohonan perkara daring dan peradilan yang cepat, maka pembuktiannya pun diharapkan dapat menjadi modern pula.

"Katanya speedy trial. Kalau speedy trial enggak bisa pakai old fashioned," ujar dia.

Hal serupa dikemukakan oleh juru bicara Badan Pemenangan Nasional Prabowo - Sandiaga, Dahnil Anzar. Menurut dia, dalam sidang MK, majelis perlu menggunakan paradigma progresif substantif.

"Agar kemudian tadi saya sebutkan paradigma hakim itu bukan lagi paradigma kalkulator, mahkamah kalkulator, tapi paradigmanya progresif substantif," kata dia.

MK telah selesai menggelar pemeriksaan perkara hasil pilpres melalui persidangan. Sidang digelar sebanyak lima kali, dengan agenda pembacaan dalil pemohon, pembacaan dalil termohon dan pihak terkait, pemeriksaan saksi pemohon, termohon, serta pihak terkait.

Selanjutnya, Mahkamah akan mempelajari, melihat, meneliti alat-alat bukti serta dalil dan argumen yang telah disampaikan selama persidangan.

Menurut jadwal, MK akan memutuskan sengketa perkara pada Kamis (27/6/2019). (Kompas.com/Ihsanuddin)

Mahkamah Konstitusi (MK) akan mempercepat pembacaan putusan menjadi tanggal 27 Juni 2019 mendatang. Artinya, pembacaan putusan sengketa hasil Pilpres 2019 ini satu hari lebih cepat dari sebelumnya.

Mahkamah Konstitusi (MK) mempercepat jadwal sidang pleno pengucapan putusan Sengketa Pilpres 2019.

Awalnya, sidang pengucapan putusan akan digelar pada Jumat (28/6/2019). Namun, berdasarkan rapat Majelis Hakim, sidang dipercepat satu hari menjadi Kamis (27/6/2019).

"Berdasarkan keputusan rapat permusyawaratan hakim (RPH) hari ini, sidang pleno pengucapan putusan akan digelar pada Kamis, 27 Juni 2019 mulai pukul 12.30 WIB," kata Kepala Bagian Humas dan Kerja Sama Dalam Negeri Mahkamah Konstitusi (MK) Fajar Laksono ketika dihubungi Kompas.com, Senin (24/6/2019).

Kegembiraan Red Velvet Ketika Membaca Komentar Negatif tentang Zimzalabim

Pelaku Pencabulan Siswi SMA di Oebobo Diancam 15 Tahun Penjara

Ricky Nelson Siap Jalankan Amanah Latih Sepakbola NTT

Menurut Fajar, pihaknya juga telah menyampaikan surat panggilan sidang untuk pihak-pihak yang berperkara.

Mereka adalah pihak pemohon dalam hal ini paslon nomor urut 02 Prabowo-Sandi, pihak termohon yaitu Komisi Pemilihan Umum (KPU), pihak terkait yaitu paslon nomor urut 01 Jokowi-Ma'ruf, serta Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu).

"Siang ini juga, surat panggilan sidang kepada para pihak sudah disampaikan," ujar Fajar.

 Hakim Mahkamah Konstitusi menunjukan sebagian bukti pihak pemohon yang belum bisa diverifikasi saat sidang Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) presiden dan wakil presiden di Gedung Mahkamah Konstitusi, Jakarta, Rabu (19/6/2019). Sidang tersebut beragendakan mendengarkan keterangan saksi fakta dan saksi ahli dari pihak pemohon.(ANTARA FOTO/HAFIDZ MUBARAK A)

Mahkamah Konstitusi (MK) telah selesai menggelar pemeriksaan perkara hasil pilpres melalui persidangan.

Sidang digelar sebanyak lima kali, dengan agenda pembacaan dalil pemohon, pembacaan dalil termohon dan pihak terkait, pemeriksaan saksi pemohon, termohon, serta pihak terkait.

Mulai Bahas Gugatan Prabowo-Sandiaga

Mahkamah Konstitusi mulai menggelar Rapat Permusyawaratan Hakim (RPH) pada hari ini, Senin (24/6/2019). Rapat tersebut sudah bisa digelar karena rangkaian sidang pembuktian Sengketa Pilpres 2019 sudah berakhir Jumat pekan lalu.

Adapun menurut jadwal semula RPH baru akan digelar pada Selasa (25/6/2019).

"Kalau sidang sudah selesai, tentu ada waktu bisa dimanfaatkan. Hari ini RPH mulai jam 09.00 WIB," ujar Kepala Bagian Humas dan Kerja Sama Dalam Negeri Mahkamah Konstitusi ( MK) Fajar Laksono ketika dihubungi, Senin.

Fajar mengatakan, rapat akan berlangsung tertutup. Dalam rapat tersebut, sembilan hakim Konstitusi dan pegawai teknis yang telah disumpah akan hadir.

Semua hal yang terkait dengan perkara pilpres ini akan dibahas hakim untuk diambil keputusannya.

"Termasuk membahas kalimat per kalimat dalam putusan yang nantinya akan diucapkan dalam sidang pleno," ujar Fajar.

Adapun sidang pleno pembacaan putusan akan diumumkan pada Jumat (28/6/2019).

Rangkaian persidangan sudah dimulai sejak Jumat (14/6/2019) dengan agenda mendengarkan permohonan pemohon.

Pemohon dalam perkara ini adalah pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 02 Prabowo-Sandiaga.

Dalam dalil gugatannya, tim kuasa hukum Prabowo-Sandiaga menyebut terjadi kecurangan yang terstruktur, sistematis, dan masif dalam Pilpres 2019.

Tim hukum Prabowo-Sandiaga sudah membaca poin-poin gugatannya dalam sidang pendahuluan.

Mereka juga sudah membawa saksi dan ahli untuk memperkuat argumen dalam gugatan tersebut.

Begitu juga dengan Komisi Pemilihan Umum (KPU) selaku termohon dan pasangan capres dan cawapres nomor urut 01 Jokowi-Ma'ruf sebagai pihak terkait.

Melalui tim kuasa hukum masing-masing, mereka sudah menyampaikan pembelaan, termasuk membawa saksi dan ahli yang dipercaya bisa membantah gugatan.

Apa kata Tim Prabowo-Sandi?

Tim Hukum Prabowo-Sandiaga tak mempermasalahkan dipercepatnya sidang putusan Sengketa Pilpres 2019 di MK.

Awalnya, sidang pengucapan putusan akan digelar pada Jumat (28/6/2019).

Namun, berdasarkan rapat Majelis Hakim, sidang dipercepat satu hari menjadi Kamis (27/6/2019).

Ketua Tim Hukum Prabowo-Sandiaga, Bambang Widjojantomengatakan, dipercepatnya jadwal sidang putusan itu sepenuhnya merupakan kewenangan MK.

"Itu kan menjadi kewenangan MK, so what?" kata Bambang di Media Center Prabowo-Sandi, di Jakarta, Senin (24/6/2019).

Menurut Bambang, dipercepatnya sidang putusan itu tak masalah karena dalam ketentuannya, MK harus menggelar sidang putusan selambat-lambatnya pada 28 Juni 2019.

Artinya percepatan sidang putusan itu tak melanggar aturan.

"Jadi bukan harus tanggal 28 kalau baca baik-baik. Tanggal 27 kan masih selambat-lambatnya kan," kata dia.

Bambang meyakini para pendukung Prabowo-Sandiaga juga tak akan mempermasalahkan sidang yang dipercepat ini.

BW Akui Tak Mungkin Bisa Buktikan Kecurangan

Ketua Tim kuasa hukum pasangan calon presiden dan calon wakil presiden nomor urut 02 Bambang Widjojanto selaku pemohon mengikuti sidang Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) Pilpres 2019 di Gedung Mahkamah Konstitusi, Jakarta, Selasa (18/6/2019). Sidang tersebut beragendakan mendengarkan jawaban termohon, pihak terkait dan Bawaslu.(ANTARA FOTO/HAFIDZ MUBARAK A)

Ketua Tim Kuasa Hukum Prabowo Subianto - Sandiaga Uno,Bambang Widjojanto, mengakui pihaknya sebagai pemohon Sengketa Pilpres 2019 di Mahkamah Konstitusi tidak mungkin membuktikan kecurangan yang terjadi di pemilihan presiden 2019. Menurut Bambang, yang bisa membuktikan kecurangan adalah institusi negara.

“Siapa yang bisa buktikan (kecurangan) ini? Pemohon? Tidak mungkin. Hanya institusi negara yang bisa. Karena ini canggih,” kata Bambang di Media Center Prabowo-Sandiaga, Jakarta, Senin (24/6/2019).

Bambang menyebut, dalam Sengketa Pilpres 2019 2019 selalu yang dijadikan perbandingan adalah form C1 untuk membuktikan perbedaan selisih suara.

Padahal, menurut Bambang Widjojanto, pembuktian kecurangan saat ini tak bisa lagi menggunakan cara-cara lama seperti membandingkan formulir C1. Dia pun membandingkan MK yang bertransformasi ke arah modern dengan permohonan perkara daring dan peradilan yang cepat, maka pembuktiannya pun diharapkan dapat menjadi modern pula.

"Katanya speedy trial. Kalau speedy trial enggak bisa pakai old fashioned,” ujar Bambang Widjojanto.

Hal serupa dikemukakan oleh juru bicara Badan Pemenangan Nasional Prabowo - Sandiaga, Dahnil Anzar.

Menurut dia, dalam sidang MK, majelis perlu menggunakan paradigma progresif substantif.

“Agar kemudian tadi saya sebutkan paradigma hakim itu bukan lagi paradigma kalkulator, mahkamah kalkulator, tapi paradigmanya progresif substantif,” kata dia.

MK telah selesai menggelar pemeriksaan perkara hasil pilpres melalui persidangan.

Sidang digelar sebanyak lima kali, dengan agenda pembacaan dalil pemohon, pembacaan dalil termohon dan pihak terkait, pemeriksaan saksi pemohon, termohon, serta pihak terkait.

Selanjutnya, Mahkamah Konstitusi akan mempelajari, melihat, meneliti alat-alat bukti serta dalil dan argumen yang telah disampaikan selama persidangan.

Menurut jadwal, MK akan memutuskan sengketa perkara pada Kamis (27/6/2019). (Kompas.com)

3. Pelaku Pencabulan Siswi SMA di Oebobo Diancam 15 Tahun Penjara

Pelaku pencabulan anak di bawah umur di wilayah Oebobo, Kota Kupang diancam hukuman penjara 15 tahun.

Pelaku tersebut yakni JOAM (19) yang membawa lari serta berulang kali mencabuli seorang siswi SMA di Kota Kupang, MR (16).

Demikian disampaikan Kapolsek Oebobo Polres Kupang Kota, Kompol I Ketut Saba saat ditemui di Mapolsek Oebobo Senin, (24/6/2019) sore.

Kapolsek Oebobo menjelaskan, pelaku disangkakan Pasal 81 ayat 1 UU Nomor 35 tahun 2014 Perubahan dari UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Subs pasal 61 KUHP. "Ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara," tegasnya.

Pelaku sebelumnya telah ditahan pihak kepolisian pada 20 Juni 2019 lalu.

Saat ini, pihak penyidik telah melakukan pemeriksaan kepada korban dan para saksi untuk kasus tersebut.

Berkas perkara kasus pencabulan ini pun tengah dilengkapi oleh penyidik dan akan segera dilimpahkan ke pihak kejaksaan.

"Berkas sementara dilengkapi penyidik dan direncanakan akan dilimpahkan ke jaksa dalam minggu ini," katanya.

Diberitakan sebelumnya, kasus pencabulan anak di bawah menimpa seorang siswi SMA di Kota Kupang berinisial MR (16).

Siswi kelas XI di satu sekolah swasta ini dicabuli berulang-ulang kali oleh seorang pemuda pengangguran yang juga merupakan kekasihnya, JOAM (19).

Demikian disampaikan Kapolsek Oebobo Polres Kupang Kota, Kompol I Ketut Saba saat ditemui di Mapolsek Oebobo Senin Sore.

Dikatakannya, korban dan pelaku yang merupakan tetangga dan sudah menjalin hubungan pacaran selama 9 bulan. Namun, karena tidak direstui keluarga korban, sang kekasih membawa lari korban.

Awalnya, kata Kompol I Ketut Saba, pada tanggal 24 Mei 2019, korban meninggalkan rumah tanpa sepengetahuan orangtua dan tinggal bersama temannya di belakang Dutalia Supermarket di wilayah Kelapa Lima, Kota Kupang.

Saat itu, korban dilaporkan hilang oleh pihak keluarga ke Mapolsek Oebobo.

Selanjutnya pada 28 Mei 2019, korban menghubungi pelaku via inbox Facebook untuk bertemu.

Pelaku pun menjemput korban dan mencari kosan dekat rumah pelaku lalu tinggal bersama.

"Tanggal 29 Mei 2019 mereka masuk kosan, pelaku merayu korban untuk melakukan hubungan selayaknya suami istri. Selama di beberapa hari di kosan, mereka sudah sering berhubungan badan," kata Kapolsek Oebobo.

Lokasi Tinju Amatir Internasional di Labuan Bajo Sudah Mulai Disiapkan, Ini Detailnya

PPDB Online, Winston Rondo Sebut Masih Kurang Sosialisasi

Karena korban saat meninggalkan rumah hanya mengenakan pakaian di badan, ia pun kembali ke rumahnya untuk mengambil pakaiannya pada 4 Juni 2019.

Saat tiba di rumah, korban mengaku telah bekerja sebagai Sales Promotion Girl (SPG) di wilayah Oesao Kabupaten Kupang.

"Dia (korban) kembali ke rumah untuk ambil pakaian lalu hendak kembali dengan alasan ke mes kantor, padahal mau ke kosan untuk tinggal bersama pelaku,"

Korban tidak lama tinggal di rumah, tanggal 8 Juni 2019, korban kembali lari dari rumah untuk bertemu dan tinggal bersama pelaku.

Pihak keluarga pun menaruh curiga kepada pelaku karena sering melewati belakang rumah korban saat korban berada di rumah.

"Dari situ, ada kecurigaan dari keluarga korban bahwa pelaku ini ada pacaran dengan korban, yang beritahu adalah sepupu korban. Menurut sepupu korban, pelaku sering melewati area belakang rumah korban untuk menemui korban," jelasnya.

Berbekal foto korban, pihak keluarga tak hentinya melakukan pencarian terhadap korban dari satu kosan ke kosan lainnya diKota Kupang.

"Selama korban lari dari rumah, pelaku selalu ada di kompleks tempat tinggal, sehingga pihak keluarga tidak curiga, namun saat malam hari kembali menemui korban di kosan," katanya.

Selama 8-11 Juni 2019, pelaku terus bersama korban hingga tanggal 12 Juni 2019, pihak keluarga berhasil menemukan korban di kosan.

"Korban ditemukan sendiri dalam kosan, pelaku saat itu tidak berada bersama korban di kosan," paparnya.

Setelah diinterogasi pihak keluarga, korban pun mengaku telah berulang kali dicabuli pelaku di kosan.

Tak terima dengan perlakuan yang dilakukan pelaku dan mencegah korban melarikan diri lagi, pihak keluarga melaporkan kejadian tersebut pada 12 Juni 2019.

Mendapat laporan polisi tersebut, aparat kepolisian mengamankan pelaku pada 19 Juni 2019.

"Saat ini, pelaku sudah kami tahan di Mapolsek Oebobo," kata Kapolsek. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Gecio Viana)

Penulis: Maria Enotoda
Editor: maria anitoda
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved