Bangun Budaya Ilmiah, Jikom Undana Gelar Fisip Corner, Yuk Simak!

Diskusi yang dimaksudkan untuk membangun budaya diskusi ilmiah dalam kampus tersebut dilaksanakan di lobby gedung FISIP Undana Penfui

Bangun Budaya Ilmiah, Jikom Undana Gelar Fisip Corner, Yuk Simak!
POS KUPANG/GECIO VIANA
Suasana diskusi dalam Fisip Corner di lobby gedung FISIP Undana Penfui, Kota Kupang, Rabu (13/6/2019). 

"Jadi literasi media kita yang masih belum mumpuni atau terbatas mengakibatkan banyak masyarakat menelan mentah-mentah apa yang disajikan media," jelasnya.

Sementara itu, pemantik diskusi, Dr. Petrus A. Andung, S.Sos., M.Si dalam sesi diskusi menjelaskan, dalam konteks pertarungan opini jika dikaji dari teori ekonomi politik media terdapat lingkaran kepentingan baik ekonomi maupun politik.

Hal tersebut, lanjut Petrus, dapat dilihat dari para pemilik media mainstream yang berada dalam lingkaran elit politik.

"Sehingga jika kita lihat dari konten media konvensional sekalipun sebenarnya bahwa isi media sudah jadi agenda media ekonomi dam politik," jelasnya.

Petrus juga mengemukakan bahwa media merupakan agen dalam merekonstruksi realitas.

Namun, dalam perspektif teori kritis ilmu komunikasi, diakuinya kontruksi realitas itu sarat dengan praktek wacana sehingga diperdebatkan dan temukan juga bahwa media pun memainkan isu-isu yang tidak dapat dihindari.

Menurutnya, media idealnya sebagai pilar demokrasi yang esensinya untuk memberikan pendidikan termasuk pendidikan politik kepada masyarakat, akan tetapi dalam kenyataannya mengalami pergeseran atau disfungsi media.

Yuk Kepoin, Perkiraan Cuaca Aktual Penerbangan di Bandara El Tari Kupang Hari Ini

BERITA POPULER: 6 Tersangka Korupsi NTT Fair, Orang yang Akan Bunuh Gories Mere & 4 Pemain Persib B

Wagub NTT, Josef A. Nae Soi : UPTD Pendidikan Telah Ditetapkan dalam Pergub NTT

Selain itu, dalam perkembangan yang pesat saat ini, masyarakat diharapkan tidak hanya sebatas menerima begitu saja konten media yang ada.

Lebih lanjut, dengan kemampuan literasi media yang cukup, dapat membedakan mana berita yang benar dan berita palsu atau hoax maupun berita yang berisi propaganda, ujaran kebencian dan berbau SARA.

"Kita saat ini sangat bergantung pada teknologi tapi kita bukan masyarakat yang hanya diterpa begitu saja, akan tetapi kita bisa membedakan apa yang berita benar, betul dan mana hoax, sehingga memang kemampuan literasi memang menjadi penting untuk bisa memfilter," paparnya.

Halaman
1234
Penulis: Gecio Viana
Editor: Rosalina Woso
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved