Jalan Buruk Harga Cengkeh di Nagekeo Tak Seharum Aromanya

Akibat jalan buruk harga cengkeh di Kabupaten Nagekeo tak seharum aromanya

Jalan Buruk Harga Cengkeh di Nagekeo Tak Seharum Aromanya
POS-KUPANG.COM/Gordi Donofan
Kondisi jalan di Kampung Lokawalo Desa Woloede, Kecamatan Mauponggo, Senin (10/6/2019). 

Akibat jalan buruk harga cengkeh di Kabupaten Nagekeo tak seharum aromanya

POS-KUPANG.COM | MBAY --Keindahan landscape kebun yang mempesona dan harumnya aroma cengkeh pada lereng dan punggung Gunung Ebulobo tak seindah jalan menuju desa-desa di bawah kaki gunung ini.

Berada di bawah kaki Gunung Ebulobo yang subur dan indah warga harus bersusah payah menapaki jalan baik yang pergi ke kota kecamatan/kabupaten atau ke kampung-kampung di bawah kaki gunung tersebut.

Usai Libur Lebaran, Hampir Semua ASN di TTU Masuk Kerja pada Hari Pertama

"Kalau musim hujan kendaraan pengangkut penumpang tidak akan sampai ke kampung karena jalan tidak bisa lewat," ujar Anselmus Jo, kepada POS-KUPANG.COM, di Kampung Lokawalo Desa Woloede, Kecamatan Mauponggo, Senin (10/6/2019).

Pohon cengkeh yang tak menghasilkan bunga di perkebunan cengkeh Keuskupan Ruteng di Mano, Kabupaten Manggarai Timur, Senin (12/8/2013).
Pohon cengkeh yang tak menghasilkan bunga di perkebunan cengkeh Keuskupan Ruteng di Mano, Kabupaten Manggarai Timur, Senin (12/8/2013). (POS KUPANG/EGY MOA)

Menurut Anselmus bila musim hujan maka warga yang hendak ke pasar mingguan di kota kecamatan Mauponggo harus berjalan sekitar 2 kilometer ke luar kampung untuk menunggu kendaraan angkutan umum agar bisa berbelanja atau menjual hasil panenan petani seperti pala, cengkeh, aneka buah seperti durian pisang juga kelapa.

Selain itu menurut Anselmus, sudah puluhan tahun akses jalan buruk tak tersentuh sehingga beberapa bagian jalan harus diswadaya warga dengan mengisi lubang-lubang pada badan jalan untuk dapat dilalui kendaraan bermotor atau mobil angkutan umum.

Gubernur NTT dan Wakil Bersama Para Bupati dan Wali Kota Berkunjung ke Pulau Komodo

Kepala Dusun 01 kampung wajo, RT 01, desa Lodaolo, kecamatan Mauponggo, Kletus Wendo, mengungkapkan masyarakat memang sangat menderita. Dan berharap agar tahun yang akan datang dibangun jalan yang baik. Sehingga warga masyarakat senang.

"Kalau musim hujan jalan tanah ini akan lubang karena terkikis air, makanya setiap hujan kami masyarakat di sini swadaya menutup kembali yang lubang dengan tanah dan pasir agar kendaraan penumpang bisa lewat," ungkapnya.

Ia mengaku jalan rusak dan susah diakses maka pembeli hanya tunggu ditempat dan tidak datang langsung ke petani. Harganya juga sangat tidak memuaskan.

"Karena akses jalan yang kurang bagus mobil pengakut hasil perkebunan atau para pembeli cengkeh enggan turun langsung menemui petani atau warga namun menunggu para petani untuk menjual hasil kebunnya," ujarnya.

Halaman
12
Penulis: Gordi Donofan
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved