Ini Alasan Gubernur NTT Berencana Mengadakan Kapal Rumah Sakit Terapung
Ini Alasan Gubernur NTT Berencana Mengadakan Kapal Rumah Sakit Terapung
"Jenis kapal yang ideal untuk RST adalah Landing Platform Dock (LPD) seperti jenis kapal perang amfibi. Dilengkapi dengan Landing Craft Utility (LCU) atau sejenis kapal kecil amfibi untuk jemput pasien di pulau-pulau yang tidak bisa disandari dan juga ada helipadnya," jelas Imam.
Lanjut Imam, kapal ini merepresentasikan RS Tipe C Dengan ukuran panjang 122 meter dengan 4 deck.
Kecepatan maksimum 16 knot. Dalam rancangan PT PAL, kata Imam, RST dilengkapi dengan poli rawat, ruang operasi, ruang rawat inap dan UGD. Bisa menampung 32 kru, 70 staf medis, relawan 204 orang.
Ruang rawat inap untuk 60 pasien ditambah 8 pasien isolasi, 4 pasien ICU, 3 pasien HCU, 16 pasien UGD. Juga ditambah 4 tenda, dengan kapasitas satu tenda untuk 10 pasien.
"Taksasi harganya sekitar Rp 600 miliar lebih. Dengan kurun waktu pengerjaan sekitar 30 bulan. Intinya, kami menyesuaikan perakitan sesuai keinginan pemerintah Provinsi NTT," jelas Imam.
Menanggapi pemaparan PT PAL, Wagub NTT Josef Nae Soi menegaskan komitmen pemerintah provinsi untuk mengadakan RST dalam melayani masyarakat NTT di daerah pesisir.
Terutama kata Josef, warga yang tidak terjangkau dengan pelayanan kesehatan yang memadai. Josef yakin, kemampuan PT PAL dalam merancang dan membuat berbagai jenis kapal sudah tidak diragukan lagi.
"Kami hanya minta satu saja pak, harganya bisa dinegoisasi kembali. Saya pasti akan mengunjungi PT PAL untuk bicarakan lagi hal ini. Saya minta kebijakan PT PAL khusus untuk provinsi NTT yerkait harga ini," ujar Josef. (Kompas.com/Sigiranus Marutho Bere)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Pemprov NTT Ingin Miliki Rumah Sakit Terapung, Biayanya Rp 600 Miliar",
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/rumah-sakit-terapung-penting-bagi-ntt-sebagai-provinsi-kepulauan-ini-taksasi-harganya.jpg)