Sabtu, 25 April 2026

Renungan Harian Kristen Protestan

Renungan Harian Kristen Protestan, Jumat 24 Mei 2019

"Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya". Kutipan dari salah satu bait dari teks Doa Bapa kami dalam Injil Matius 6:9-13.

Editor: Ferry Jahang
Dok Pribadi/Mesakh A.P. Dethan
Pdt. Dr. Mesakh A.P. Dethan, MTh, MA 

Pada pihak yang lain, ungkapan hemon dalam arti yang lebih luas, menunjuk kepada
kebersamaan sebagai gereja Tuhan, baik di desa maupun di kota, yang sama-sama diharapkan menerima kasih kemurahan Allah secara adil.

Ada semacam tanggung jawab bersama di dalam mengelola berkat dan kemurahan Tuhan.

Bahkan ungkapan hemon dapat menunjuk kepada kebersamaan sebagai warga bangsa di suatu negara atau kebersamaan sebagai warga dunia yang terdiri dari berbagai bangsa.

Sebagai warga bangsa Indonesia ungkapan kami menunjuk kepada pluralritas dan keragaman suku, budaya dan bahasa sebagai suatu kekayaan untuk memperkuat kemanusiaan dan kemajuan sebagai bangsa Indonesia.

Sebagai warga dunia, tiap bangsa tidak lagi dapat mengisolasi dirinya, tetapi dapat bahu membahu mengatasi masalah kemiskinan dan masalah lingkungan hidup seperti pemanasan global dan lain sebagainya.
Jikalau dikaitkan dengan konteks teologi Injil Matius khususnya yang berkaitan dengan sikap etis Injil Matius yang menekannkan istilah dikaiosyne, bahasa Yunani untuk keadilan dan kebenaran Allah,

maka Ton arton hemon (bahasa Yunani artinya makanan Kami) yang dimaksudkan di sini adalah makanan yang diperoleh dengan adil dan benar,

bukan atas hasil korupsi atau kejahatan dan hasil penipuan atau menyengsarakan orang lain dan atau hasil dari kemalasan.

Yesus mengajarkan orang percaya memohon makan yang dilandasi dari usaha dan kerja keras. Makanan yang berasal dan kerajinan dan kejujuran di hadapan Allah pencipta.

Kita tidak boleh memakan makanan yang menjadi hak orang lain, roti hasil tipuan (Amsal 20:17), ataupun makanan kemalasan (Amsal 31:27), melainkan makanan yang diperoleh dengan jujur dan dari hasil keringat sendiri.

"Roti hasil tipuan sedap rasanya, tetapi kemudian mulutnya penuh dengan kerikil. Ia mengawasi segala perbuatan rumah tangganya, makanan kemalasan tidak dimakannya" (Amsal 20:17; 31:27)

Ini sebetulnya kritik yang tajam kepada mereka ysng tidak bekerja untuk kebutuhan
hidupnya sesuai perintah Tuhan dalam Kejadian 2:15

atau juga kritik kepada mereka yang hanya mengantungkan harapan hidup secara terus menerus pada apa yang serba gratis dan tanpa berlelah-lelah, menggantungkan hidup hanya pada "beras raskin", misalnya.

Atau juga kritik kepada gereja yang membiarkan umatnya hanya menadahkan tangannya tanpa mau bekerja pada satu pihak,

dan pada pihak lain gereja yang tidak mampu memberdayakan umatnya dengan program-program diakonia yang bersifat reformatif dan transformatif.

Tuhan sesungguhnya telah menyediakan alam ciptaan yang kaya untuk dimanfaatkan, baik di daratan maupun di lautan bagi semua orang secara bersama, dan bukan untuk segelintir orang saja.

Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved